Blogermie.com: Belajar dari Sisi Lain Sebuah Pernikahan

28 September 2012

Belajar dari Sisi Lain Sebuah Pernikahan

Selama 2 tahun membangun sebuah singgasana kehidupan yang disebut "pernikahan", terbesit sebuah perasaan "terkecam" walaupun cukup dengan membayangkannya. Dari awal proses menuju pelaminan sebenarnya tidak ada sesuatu yang saya takutkan. Tetapi ada sebuah perasaan yang membuat saya cemas yakni bagaimana saya melewati hari-hari pernikahan itu sesudahnya. Mampukah seorang heru menghadapi malam-malam indah dan "tetep ON" tanpa viagra :D ha ha ha ha. Bukan itu yang saya maksud.

Setelah menikah, sudah tentu status seseorang akan berubah. Lebih tepatnya status saya menjadi "suami dari" atau suami orang.
dan saat inilah saat yang tepat jika seorang lelaki tulen disebut "SUAMI". Dari berbagai literatur dan pepatah tua yang saya cari, tidak banyak Enkslopedia yang mengupas tata cara "MENJADI SUAMI SUKSES" atau "KIAT Jitu MENJADI SUAMI" bahkan di google-pun tidak saya temukan bacaan ini.

Yang ada malah Menjaga SUAMI siap tempur di ranjang. beuhhh

Ibarat mesin waktu, akhirnya saya tersadar dan belajar untuk menjadi suami. Untuk menjadi lelaki sejati memang perlu diuji dengan seberapa tinggi mental kita untuk segera menikah, Tetapi tidak akan lebih berat daripada jika memutuskan bertahan hidup demi membahagiakan orang yang kita cintai. Menjadi manusia seutuhnya dan Membahagiakan pasangan dari segi lahir maupun batin karena dengan menjadi suami berarti ada pasngan yang senantiasa menemani dalam suka maupun duka

Saya jadi teringat peristiwa ketika menjalankan sebuah misi "Surat izin menikah". Ada salah seorang perwira petinggi Angkatan laut mendoktrin alasan seseorang menikah

UU Nomor: 1 TAHUN 1974 pasal 1 yang menyebutkan:
Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa.

Sungguh saya terkesan dengan apa yang diucapkan melalui peraturan tersebut. Membentuk suatu rumah tangga yang sakinah adalah usaha/ikhtiar membuat orang-orang dikehidupan kita nantinya juga turut merasakan kebahagiaan(terutama istri dan anak)

Yang sedikit membuat saya kecewa ialah berdasarkan pengalaman rekan kerja yang kebanyakan menyedihkan. Kemelut perpisahan menjadi sebuah momok yang bermula dari pertengkaran beda selera. Hampir-hampir saja saya ikut termehek-mehek jika mengingat pelakunya yang kebanyakan dari pria. Jujur saja meminimalisir keadaan tersebut, saya juga merasa ketakutan apabila mendengar kata "PERCERAIAN"

Untuk itu, mulai hari ini saya menghimbau pada semua lelaki. bahwa menjadi suami itu ternyata tidak mudah, mantapkan hati dan jangan bimbang, maju terus berjuang. Menikah bukan semata-mata diraih dari hasil mengeluh, Tetapi pilihan. Alangkah bijak jika menghadapi masalah apapun dengan hati lapang dan perasaan bersyukur.

Mungkin ini yang disebut hidayah, Allah SWT berulang kali mengingatkan kita bahwa perceraian adalah kosakata yang sebenarnya jauhhhhhhhhhhhh lebih menyeramkan dari pada pernikahan.

Sungguh istriku, jika suatu hari kamu hendak menangis, itu semua semata-mata karena kebodohanku sendiri.

Belajar dari Sisi Lain Sebuah Pernikahan

Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 9/28/2012 07:03:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar