Blogermie.com: Romantisme Sepanjang Galah

30 September 2012

Romantisme Sepanjang Galah

Romantis
Sumber foto:Google
Adakah diantara sobat blogermie yang dulu percaya mitos kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah?

Puji syukur kalau ada diantara kita yang masih memegang stigma tersebut, karena saya yakin menjadi orang tua itu memang memikul tanggung jawab yang berat.
Sampai kapanpun balas budi seorang anak tidak akan berarti apa-apa dengan bentuk kasih sayang orang tua yang sudah bersusah payah membesarkan kita.

Tapi pada postingan ini akan lain ceritanya, karena yang saya bahas adalah bentuk objektifitas romantisme seseorang ketika sudah beranjak dewasa dan pada kahirnya memutuskan untuk menikah. Pas mantap seperti judul diatas Romantisme Sepanjang galah

Semua orang pasti pernah pubertas. Tentunya dengan etika dan norma-norma kesopanan yang ada suatu masa seseorang untuk saling suka-sukaan dan berakhir melalui Ijab-qobul yang mengikat mereka dengan tali pernikahan.
Pernikahan itu juga dapat berupa hasil perjodohan, maupun buah hasil sendiri memungut di lingkungan sekitar, atau bahkan dari jomblangan rekan sekantor. Saya tidak ingin bertanya lebih lanjut mengenai usia, kapan, dan pacar keberapa yang akhirnya dinikahi dan menjadi pasangan pembaca saat ini.

Sejenak mari kita ulur waktu ini dengan bernostalgila. Kita mundur ke dekade sebelum kalian membaca tulisan saya ini. Masih ada yang ingatkah dengan  masa-masa saat pacaran dulu. Hampir mirip dengan koreografi sinetron bukan?...
...HHahahaa....(ngaku dong.!!!)

Terbayang sesuatu yang indah-indah? Mesrah, cetar membahana...prett..tekdung.de El-el. 
Malah banyak yang ngotot, kalau cinta sudah merekat, tak peduli tahi kebo rasa coklat arbanat, yang lainnya malah disyirikin...dan lain sebagainya

Kronologisnya juga akan semakin terlihat lebay ketika seorang pemuda-pemudi dibuai asmara baru jadian. Ada saja tingkah polah yang menjadikan suasana romantis jadi lebih terasa. "Cit...cuit..! Seolah sepasang kekasih ingin memadukan kebahagiaannya keduanya. Ingin sangat galau, ingin seolah-olah diperhatikan, dan disayang nan perhatian.

Ada juga yang mahir berkilah kata lewat SMS:

"jangan capek-capek ya? obatnya diminum ya, gak bisa tidur nih saya digigit nyamuk"
"idih nyamuk kok nakal yaa beb..,"
"I Miss U,.."ihiks.
Etc

Beberapa penggalan percakapan itulah yang sering saya alami waktu membujang dulu. Ibarat Reality Show Gombal-gembel, Pokoknya saya jamin banyak fenomena penyair dadakan bermunculan...

Tetapi karena oh karena…, setelah scene berlanjut ke tahap berikutnya, menuju suatu pernikahan, dan membentuk keluarga,….hampir semua keromantisan itu hilang.
Tahun pertama menjelang nikah, masih dengan semangat 45, cinta semakin berkobar, semangat viagra masih berkoar-koar menjadi sebuah rayuan. Barulah menginjak usia pernikahan tahun kedua, ketiga, dan seterusnya…., seperti encer kurang rempah dan cenderung ala kadarnya.

Yang masih bertahan “mesra”nya tepat waktu kalau mau kondangan, Saling beradu argumen mencari pendapat:
"Udah cocok gak say aq pakai kemeja ini?"
atau kalau gak gitu pas mau tidur malam.

Apalagi bagi pasangan yang di karuniai buah hati, boro-boro bermesraan. Lebih repot mengurusi susu si-anak. Belum lagi kebutuhan yang semakin menanjak, kewajiban dalam berumah tangga serta bermasyarakat, lengkap dengan segala problematikanya,..maka terkikislah keinginan pasangan untuk bermesra ria seperti dulu kala. Apalagi untuk romantis-romantisan,..nggak sempet, lah,..lupa!. paling paling istri bilang : "Preketeg masssssssss"

Kalau masa kasmaran dulunya ingin selalu bermesraan dan bergandengan tangan. Sekarang malah berbeda lagi "Males" gak ketulungan.

Kalau dulu sang pacar tersandung batu, sambil mengumpat kepada sebongkah batu: "Batu kok nakal", lantas kaki lawan dielus-elus, menatap dengan dahi berkerut penuh iba, ” Oh, kamu nggak papa..,kan sayang..?”

Coba lihat realita kalau kesandungnya sekarang ..”, Kok bisa kesandung!, gimana sih?! Ati-ati..doong!” Malah ada yang keterlaluan menyalahkan ,” Maaatane,…picek!”

Kalau menulis cerita ini, kadang menimbulkan ekspresi tersendiri, tak henti-hentinya saya terbahak-bahak jika harus mengenang masa-masa waktu berpacaran dengan Istri saya. (mungkin juga hal ini terjadi pada diri anda bukan)

Selama ini benar pernyataan rekan saya sekantor bahwa bersikap mesra, romantis..atau apa lah istilahnya, hanyalah pemanis bibir ketika pacaran. Tak jarang setelah menikah, hal tersebut yang malah terabaikan dari pandangan.
Padahal, menurut saya, itu tetap perlu, paling tidak untuk tetap menunjukkan kasih sayang kepada pasangannya. Dan akan berpengaruh pada kenyamanan rasa, agar lebih rileks dalam menjalani kehidupan berumah tangga dengan segala lika-likunya.

Usia saya memang belum senja. Tapi dibalik senyum saya yang menawan ini, (ceileh, lebay) saya melihat ke-Jarang-an yang terjadi.
Kalau terlihat “mesra” di lihat seperti menghadiri resepsi pernikahann seseorang saja. Itupun disesuaikan dengan kondisi sekarang, lho.

Tentunya, agak berbeda antara kemesraan ketika berpacaran dan setelah lama menikah.
Kalau sudah lama menikah tapi gaya bermesraannya seperti “abege” pacaran, pasti berisiko dibilang “norak”. Mesra, romantis, tapi terlihat alami saja, tidak dibuat-buat, mungkin sebaiknya begitu. Pasti nikmat..

“ Ma, papa belum makan, yuk makan bareng biar mesra lagi kaya dulu

“ Lambemu mass, Gomballl ....jangan dihabiskan, jatah berasnya mau habis bulan ini"

Sambil manyun, saya cuma bisa menghabiskan sisa nasi menempel di pipi

Salam rukun
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 9/30/2012 09:38:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar