Blogermie.com: Ketika Uang Berjenis Kelamin

27 Oktober 2012

Ketika Uang Berjenis Kelamin

Sudah hampir 1 bulan ini blogermie menganggur. Sungguh disayangkan bagi fans-fans saya yang terabaikan dengan update2 karya terbaru. Pastinya akan terharu dan rindu akan kelangsungan hidup blog ini...hehehe.
Biasalah sobat. Karena masalah teknis antara keluarga yang sedikit mengguncang posisi saya sebagai suami untuk tetap dekat dengan istri saya karena beberapa waktu yang lalu,, istri saya sempat hamil muda yang ke 3 kalinya. Tidak ketinggalan masalah finansial yang mengakibatkan aktivitas online sedikit terganggu. jangankan untuk membeli pulsa internet... Boro-boro beli susu untuk ibu hamil aja mahalnya bukan main :(
.Tetapi tak apalah, sebagai pembelajaran diri saya sendiri untuk mengatur pola pengeluaran.

Btw, bicara mengenai keuangan, bisa menjadi sebuah keanekaragaman pilihan. Di luar bahasan "mainstream" tentang pemasukan, pengeluaran, tabungan ataupun investasi, yang seringkali berbeda-beda adalah "posisi/peran" suami dan istri dalam pengambilan keputusan. Baik itu dalam kondisi salah satu (suami atau istri) saja yang bekerja ataupun ketika keduanya berpenghasilan (dobel gardan).

Darimanapun tempat tinggalnya, baik itu secara "etnik" maupun "moderen". Roda perekonomian selalu mempunyai peran, yang sering diambil saat ini adalah salah satu pihak berperan sebagai "manajer"nya. Biasanya sih, peran ini diambil oleh sang istri, terutama untuk pengaturan uang yang bersifat bulanan/rutin (belanja, uang sekolah, listrik, PAM, telepon, dan lain-lain). Sedangkan suami lebih berperan untuk kegiatan keuangan yang skalanya lebih besar (membeli rumah, mobil, tanah dan lain-lain). Itu biasanya, lho. Karena tak menutup kemungkinan, ada pula istri yang males ngatur uang bulanan.

Dalam usia perkawinan saya, Yang cukup menyita perhatian adalah tentang "prinsip keterbukaan". Tapi di sini tentu tak bermaksud untuk menyalahkan atau juga membenarkan tentang pilihan, karena pasti kondisi tiap rumah tangga bisa berbeda kan?

Bahasa mudahnya begini, anggaplah sang istri yang menjadi "manajer"nya, dan ini memang yang sering dijalankan. Yaitu pilihan sang suami secara total "terbuka" menyerahkan semua penghasilan/gajinya untuk dikelola sang istri, ataukah hendak "mengamankan" sebagian sebagai dana cadangannya sendiri. Yang diberikan ke istri dianggap "uang orang rumah/istri" sedangkan yang dicadangkan itu banyak istilah yang menyebutnya sebagai "UANG LAKI-LAKI".

Uang yang berjenis kelamin


Memang, hal ini tak bisa serta merta disalahkan karena dianggap tidak jujur. Karena pada kondisi tertentu ada yang "terpaksa" mengambil langkah itu karena pertimbangan yang masuk akal juga. Misalnya: kalau semua sudah dipegang istri, minta jatah buat beli bensin, rokok, atau ngopi di warung menjadi super susah, atau bisa juga kalau diberikan semua kepada istri seberapapun besarnya tetap habis juga, misalnyaaaa…lho! Dan mungkin ada pertimbangan lain yang masuk akal demi "kepentingan kepantasan" pula.

Nah, uang keluarga pun memang bisa "berjenis kelamin", baik laki-laki ataupun perempuan. Semua jelas tergantung siapa dan seperti apa kondisi atau pilihan paling nyaman yang dijalankan. Hanya saja, mengenai "uang laki-laki" ataupun "uang perempuan" ini menjadi tidak tepat ketika niatnya memang murni untuk "menyembunyikan" demi kepentingan salah satunya yang sangat tidak dianjurkan. Misalnya? ..apa ya? Yaah, contohnya buat judi, hura-hura, atau buka "kantor cabang" baru dengan "manajer baru".

Apapun pilihannya, tergantung niat hati yang tentu saja ada manfaat ataupun risikonya.

Salam rukun.
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/27/2012 05:30:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar