Blogermie.com: Sebuah Petaka dari Hembusan Kentut

03 Oktober 2012

Sebuah Petaka dari Hembusan Kentut

Di media cetak dan media online, Seringkali saya dengar berita miring artis, ibu-ibu rumah tangga yang asyik menggosip, atau sekedar komentar yang sok tahu banget. Ada yang fasih dan mengerti maksud "urusan pribadi". ada pula yang berpura paham, ada lagi yang memilih "idem" dengan tidak mengintimidasi yang bersangkutan sambil ngomong" : "ah, itu urusan mereka, kenapa mesti diributin, toh mereka cuma korban. Apa kalian yakin tidak lebih baik dari mereka"?

Melihat testimoni diatas, saya jadi teringat peristiwa sensitif yang disebut kentut

Kentut itu berbunyi...duuut!!!!
Dilihat dari intonasi nada, sudah tentu kentut berbunyi. Bagi banyak orang (kemungkinan masih sebagian besar) kentut juga urusan pribadi. itu yang menyebkan kenapa ada yang keluar dengan gaya malu-malu, ada yang lebih terbuka. Ada yang harum, ada juga yang lebih tidak harum. Ada yang bersuara lantang, ada yang berbisik-bisik.

Coba jika kentut dilakukan seorang sendiri di sebuah tempat yang tertutup, dengan ventilasi yang tertutup rapat, sudah tentu kentut tersebut dinikmati sendiri. Syah juga menjadi sebuah urusan pribadi. Tetapi andaikata ventilasinya bocor, jangan heran aromanya berhembus dan terdengar oleh orang lain, tentu kentut itu sudah bukan urusan pribadi lagi. Apalagi kalau kentut itu bersifat menyinggung orang lain tentu kentut itu sudah berubah menjadi urusan orang lain atau bahkan orang banyak.

Kentut itu Bau
Terdengarlah suara-suara parau."Siapa sih yang kentut?" "Ih, gak sopan banget sih." "Aduh, bau banget sih." Biasanya yang berbicara seperti itu bermuka muram dan kesal sambil menutup hidung.

Kalau kentut sudah menyangkut etika pergaulan, siapa yang mesti mencari pembenaran? Apa salah si empu yang menyebarkan si kentut? Lalu bagaimana cara menyelesaikan masalah si kentut ini?

Cara mengatasi kentut berulang-ulang
Mudah saja kok. Si pemilik kentut harus sportif dengan mengakui kesalahan agar tidak menjadi buah bibir yang merugikan orang banyak dan meminta maaf pada orang yang terkena kentutnya.
konsekuensinya jelas, yakni Secara tidak langsung dia dikucilkan bahkan hujatan-lah sangsinya. Bagi orang yang terkena kentut tinggal tutup hidung saja sampai aromanya berlalu.

Anehnya beberapa fenomena yang aneh terjadi pada sekumpulan orang yang kentut dan orang-orang yang terkena kentut. Orang buang kentut sudah tidak malu-malu lagi untuk kentut dan orang-orang yang terkena kentut tidak lagi merasa terganggu dengan kentut. "Ah itu kan urusan pribadi dia, Biarin aja dia kentut." Saya cukup senang dengan orang yang menghargai urusan pribadi orang yang kentut tersebut, bahkan ada yang ikut-ikutan menikmati kentut tersebut, ada juga yang melindungi privacy yang kentut tesebut.

Kentut memang nikmat dan bermanfaat, bagi si pemilik kentut. Tetapi alangkah bijaknya tidak mengurusi urusan orang lain, karena setahu saya orang yang suka mengurusi permasalahn orang lain itu juga belum tentu pandai merawat kentutnya sendiri. Tidak ada orang sehat yang mau mencium kentut orang lain.

Btw, orang kentut sembarangan itu sekarang berada disebuah media online dan asyik membaca tulisan saya ini (mungkin ada diantara pembaca sekalian)

Salam kentut wkwkwkwkwk
Judul: Sebuah Petaka dari Hembusan Kentut; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/03/2012 09:21:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar