Blogermie.com: Refleksi "Komentar" Sebagai Alat Pemersatu semua Golongan

11 November 2012

Refleksi "Komentar" Sebagai Alat Pemersatu semua Golongan

Ini hanyalah sebuah catatan kecil, sebuah eksperimen dari pemikiran sederhana yang tidaklah penting. Tapi semoga terlaksana dengan dukungan dan doa para pemuda-pemudi indonesia

Dunia Maya, Adalah dunia dengan yang penuh dengan konteks "Intelek" yang hampir-hampir menyerupai dengan fakta yang sesungguhnya. Dunia yang di ibaratkan sebuah Hardisk dalam sebuah komputer besar dengan taburan bintang-bintang sesuai bidangnya, baik itu Programmer, Enginering, maupun penulis digital yang tiap detiknya memenuhi Front Page Search engine. Sehingga Berkumpullah manusia-manusia “Intelek” ini guna mempersembahkan karya-karya terbaik meraka dalam 1 database.
---------------------------------------

Sudah barang tentu didunia maya, para pengguna kelas babu seperti saya hanya leluasa menikmati hidangan lezat berupa mainstream, software, aplikasi, informasi, bahkan artikel yang sangat gurih dan kaya akan inspirasi. Itu akan tampak sangat berbeda dengan dunia nyata. Keterbatasan ruang, sarana,dan prasarana akan membuat orang cenderung "Malas" mencari celah informasi akibat terlalu banyaknya aktivitas yang tidak mungkin begitu saja ditinggalkan di dunia nyata.

Secara kasat mata, dengan hidup didunia maya, seseorang bisa berandai-andai menginginkan sesuatu agar keinginannya cepat terwujud. Asal seseorang tersebut piawai dalam mengoptimalkan prasarana yang tersedia di internet dan mahir berkomunikasi didunia maya.
Tak dapat dipungkiri, timbulnya istilah baru yang disebut “Bahasa Internet”, membawa masyarakatnya mengenal media online sebagai prasarana meningkatkan Kualitas SDM-nya. Dan memperkuat tata berbahasa mereka

Sedangkan menurut perputaran roda zaman, Manusia tidak selalu hidup di Zaman batu. Tidak harus menggunakan metode “Jadul” jika ingin impiannya terwujud. Kalau-pun seseorang yang sukses dalam bekerja, dan mempunyai potensi yang di realisasikan dalam bentuk iktiar dan berusaha, tapi tetap saja menggunakan metode kuno dalam berkomunikasi, Konsekuensi keterikatan menjalin Relasi sangatlah ” kurang optimal”, bahkan kurang pergaulan.
Coba bandingkan berapa banyak relasi yang dapat kita "rangkul" dalam sehari jika menggunakan fasilitas media online ketimbang mencari teman dengan sistem pintu ke pintu ala pak RT

Dalam media online seperti Facebook contohnya, seseorang dengan begitu mudah menjaring pertemanan tanpa terikat jarak dan tempat. Tinggal klik, bertegur sapa, maka dengan mudahnya seseorang “meng-invite temannya dari segala gender.
Ada juga yang sekedar nge-vote “Like” rekannya untuk sekedar mendapat simpati dari pengguna facebook yang lain. Saling beradu argumen, melempar salam, dan berkomentar adalah bentuk sederhana yang paling nyata di wujudkan sebagai bukti bahwa didunia maya, seseorang bisa saling berhubungan

Dalam skala tertentu terdapat pula fitur kolom komentar yang berguna untuk menjalin komunikasi tiap pengunjung agar timbul sebuah interaksi didalamnya.
Di setiap tulisan yang di publish,baik rutin maupun berkala oleh para Facebookers, di situ pula akan muncul beragam komentar sebagai bentuk apresiasi terhadap penulis maupun isi daripada tulisan itu sendiri.
.
Bermacam pembahasan mulai dari hiburan,pendidikan dan teknogi yang sangat sensitif, sehingga terjadi Pro – kontra merupakan bumbu dalam sebuah diskusi sehat, selama hal tersebut tidak menyalahi aturan maupun etika berkomunikasi didalamnya

Pernah sekali waktu saya berkunjung disebuah forum diskusi dan Fanpage teman saya. Disitu terpampang jelas sebuah diskusi panjang lebar dan carut marut pokok pembahasan yang bermula dari permasalahan :SEPELE:

Tak tahu diri: "Orang2 indonesia itu sebenarnya sok semua.....","padahal gk ngerti maksudnya udah berkomentar hahaha"

Oleh sebab itu, pada tulisan saya yang kedua mengenai AksiIndonesiaku ini, saya akan mengupas sedikit mengenai karakter anak muda yang cenderung berkeluh-kesah terhadap bangsanya sendiri, ditambah lagi menggunakan “Atribut” guna men-dewakan bangsa lain.

Terkadang, saya tidak sampai enak hati jika ada orang (anak muda indonesia) dengan melakukan tindakan anarkis sebagai jati dirinya sebagai bangsa Indonesia "biasa nih orang Indonesia".

Seringkali saya menjumpai hal-hal yang “menyepelekan bangsa Indonesia” dan ujung-nnya selalu timbul perdebatan. Hingga suatu ketika, saya memberanikan diri untuk menjawab:

"Kaya gak ada kerjaan aja bang ngomong: 'biasa Indonesia', orang mana sih itu?
Kok seneng gitu ya ngeledek orang Indonesia."

Balasan demi balasan saya terima

"Kenyataan gan, lantas berbuat apa??? Kalau ane setuju artikel ntu bener. itu namax Hoax tahu!!. Jgn mengintimidasi dong!"
"maka'y negara kita g maju2.."watak orang indonesia kaya gitu. Saya juga orang indonesia, terus Kmu mau apa?

Rasa kecewa pasti ada, tapi tidak lantas saya gegabah menghadapi ledekan-ledekan mereka. Jika menunggu respon mereka ibarat menunggu meletupnya sebuah gunung ,mungkin saya hanya menjadi seorang yang pandir karena kedongkolan sendiri. Jadi saya berinisiatif kabur, daripada "Royokan pentil" menunjukan kedunguan saya.

Apa benar Indonesia seperti itu? adakah kemungkinan dari bangsa lain yang lebih baik melakukan hal itu?

Baiklah, mari sejenak kita kembali tentang bencana Tsunami di aceh beberapa waktu silam, mungkin bukan bangsa ini saja yang takjub dengan banyaknya info miring seputar penjarahan toko yang ada disana. Kalau ada 1 berita kriminal mengenai penjarahan, saya yakin ada pihak yang sengaja menebar berita palsu demi kepentingan komersil.
Kalaupun berita tersebut murni, saya rasa suatu hal tersebut terbilang adil dan sangat manusiawi. Karena sejatinya setiap makhluk hidup dengan tertekannya biaya kebutuhan, sangat jelas nantinya jika menjarah adalah suatu naluri untuk bertahan hidup

Lantas bagaimana negara ini menghindari keterpurukan?

Alhamdulillah, Nihil yang namanya penjarahan saat terjadi bencana. Andaikata-pun bencana Tsunami meninggalkan peristiwa kriminal, saya berani bertaruh bahwa berita tersebut sekedar rekayasa jurnalis pers yang terlalu dibumbui-bumbui.

Yang menurut saya negara itu sama, Selama HAM masih ditegakkan, selama semua warganya makan sembako(gandum juga termasuk lho). Pastinya kesalahan bukan terdapat pada struktur pemerintahannya, tapi lebih cenderung bertabiat pada masing-masing individu
-----------------------------------------------------------------------

Komentar-komentar miring berguguran, ada yang menyebut negara ini sedang sakit, lalu di like this (setuju saja). Ada yang idem. Ada juga yang cuma bengong tanpa berbuat apa-apa, sambil memaki-maki dirinya sendiri.
Jika memang penduduk indonesia (terutama pemimpinnya) setuju memvonis diri negara ini sakit, Apa anda hanya berdiam diri dan tidak ingin bangsa ini sembuh?

Saya sengaja menulis ini bukan bertujuan untuk membidik siapa pelaku “Pengintimidasi Bangsa” ataupun “salah kaprah” terhadap situs dan forum seperti yang pernah saya kunjungi( sudah gak penting ). Terkadang suatu permasalahan timbul dari hal-hal yang sepele. karena serba ketidaktahuan, dan ke-egoisan diri sehingga terkadang kita sendiri lalai dan menutup akal pikiran sendiri untuk meraih cita-cita.

Sekali lagi, Bukan tidak mungkin menjadikan Indonesia ini sebagai Negara “Adikuasa”. Mari merenung pada diri sendiri

Sama seperti yang diceritakan almarhum kakek saya yang hidup di masa bung karno. Gaya hidup bung karno dengan segala keterbatasan dan kesederhanaannya.:
“Segala sesuatu itu saling melengkapi, baik yang limitnya besar maupun kecil.”
Ibarat anak kecil yang gemar menabung receh, mungkin orang dewasa menganggap receh adalah bilangan angka yang paling sederhana. Tapi bayangkan jika uang yang berjumlah 1 juta, selamanya tak akan bisa dikatakan genap dari itu jika kurang 1 rupiah saja

Sama halnya dengan negeri ini. Kemerdekaan yang dibangun dengan rasa kegotong-royongan dan rasa bersyukur yang begitu besar.
“Nerimo ing pandum” yang mencerminkan bentuk bahwa segala bentuk ungkapan puji syukur dengan upaya-upaya sederhana masyrakatnya, pastilah amat berguna bagi kemakmuran bangsa ini.
Sekecil apapun usaha dari masyarakat etnik, maupun masyarakat elit, kurang lebihnya adalah sama dengan kita mempertahankan sisa perjuangan pahlawan kita terdahulu. Begitupun sebaliknya, secuil kesalahan apapun bentuknya, selagi merugikan hajat hidup orang banyak, akan sama halnya kita menggerogoti falsafah bangsa ini secara pelan-pelan.

Ironis jika terdapat 1 saja pemuda yang membumi-hanguskan nusantara hanya karena menyesalkan dirinya terlahir di indonesia. Timbul dari rasa ke-tidak puasan dengan sistem pemerintahan bangsa ini dan lebih mementingkan kehendak sendiri.

Tidak terbayangkan pula jika ada orang negara lain (misalnya saja :maaf bangsa malaysia) nyeletuk seperti ini di sebuah situs Youtube "biasa orang Indonesia" dalam konotasi negatif. bahkan nge-like omongan dari orang dari bangsa lain tersebut? saya yakin kalian sebagai warga Indonesia juga akan naik pitam

Akan ada cerita lain jika seseorang yang dikatakan bijak berkomentar sesuai dengan hasil karya negeri ini
  1. Indonesia Juara Olimpiade Iptek Dunia-> "Anak Indonesia pede gitu loh!!"
  2. Sumber gambar: http://labarasi.wordpress.com | Olimpiade Iptek Internasional, International Sustainable World Energy, Engineering & Environment Project Olympiad, I-SWEEEP 2012 diselenggarakan di Houston, Amerika Serikat pada 3 – 6 Mei 2012
  3. Mobil Esemka SMKN 2 Surakarta bukti bahwa anak indonesia lebih berpotensi-> "Wow prestasi yang baik ntuh, perlu didukung"
  4. Sumber Gambar: Vivanews | Mobil Esemka gandeng Jokowi
  5. Tim robot dari Indonesia berhasil menjuarai kompetisi robot Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest di Hartford->"Alamak mahasiswa indonesia gitu lho. "
  6. San Francisco | sumber foto: Detiknews.com - Tim Robot Indonesia dari Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) di Bandung berhasil meraih juara I dan memperoleh medali emas dalam 'International Robo Games' yang diselenggarakan di San Francisco, (12-14 Juni 2009)

Untuk itu, Tidak ada salahnya jika kita berhenti menghujat bangsa sendiri, pesimis dengan nasib bangsa ini.
Jika anda merasa bangsa Indonesia memang sedang “Sakit”, Alangkah baiknya berbenah diri mulai dari sekarang, Toh kerja keras menuju kearah tersebut juga dipikul untuk kebaikan AksiIndonesiaku milik kita bersama

Indonesia merdeka tidak bisa dibangun semata-mata dari hasil mengeluh. Setidaknya menghormati perjuangan pahlawan terdahulu dengan berpikiran positif adalah hal yang paling bijaksana.
Memulai tentu bukanlah perkara sulit, baik yang sederhana sekalipun. Seperti menjadikan komentar sebagai media penghubung yang mampu merapatkan barisan,bukan malah merapatkan 1 golongan.

Mari bangun Indonesia mulai dari diri sendiri. Selamat Hari Pahlawan





Judul: Refleksi "Komentar" Sebagai Alat Pemersatu semua Golongan; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 11/11/2012 09:02:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar