Blogermie.com: Duhai Pesona "Ayam Tiren"

14 Januari 2013

Duhai Pesona "Ayam Tiren"

Di dunia ini, saya banyak menemui hal baik, terutama suri tauladan dari orang-orang yang baik pula. Namun hanya segelintir orang yang berani menjadi pioner kebajikan, dan pelopor kebenaran.

Pada umumnya orang-orang baik hanya siap menjadi pengikut, penganut dan pendukung saja. Orang baik mau menampilkan kebaikan, hanya pada saat orang lain memulainya, dan mempelopori tanpa ada yang berani mengemban tugas tersebut.

Nah, disinilah urgen, istimewa dan hebatnya ketauladanan blogermie yang sudah terlihat sejak duduk dibangku SD.
Sosok seorang pemimpin dan pembimbing seperti blogermie menjadi gambaran potensi resiko sudah sepantasnya menjadi sebuah tantangan yang sebenarnya sangat patut dipuji bagi siapapun yang ingin mengemban segala amanah.

Seingatku, tugas tersebut penah aku emban sewaktu membimbing Irfan. Yah... kalau dihitung-hitung selama aku bergaul dengan irfan, dialah manusia pertama yang ikut merasakan bimbinganku yang menyimpan banyak maklumat pentingnya menjadi seorang pelopor

Btw, Irfan ini adalah temanku bermain sedari kecil. Usia irfan 2 tahun dibawahku sehingga dia terpaksa memanggilku dengan sebutan Mas (kakak).
Sejak duduk dibangku SD kelas 1, irfan adalah pengikut setiaku tiap kali berangkat sekolah. Selalu nebeng dengan Sepeda bututku adalah hal lazim yang rutin dilakukannya apabila dia ingin dijemput oleh rekannya yang baik ini.
Beratnya rutinitas yang diajarkan blogermie, bagi irfan memang berbuah hasil. Hampir 1 tahun menjemput sekolah membuat irfan tidak lagi suka membolos. Itu yang merupakan menjadi suatu kebanggaan blogermie untuk senantiasa membimbing irfan kecil agar selangkah lebih maju ketimbang teman-teman yang lain.

Dilain pihak, berjuta-juta pujian dan amanah yang blogermie terima dari kedua orang tua irfan membuat paradigma baru bahwa irfan selalu berangkat sekolah lebih pagi tanpa tersentuh air sedikit-pun alias jarang mandi..
Hmm..memang benar, tiap kali berangkat sekolah, Irfan terkenal dengan sebutan "Lusuh Boy" karena hampir tidak pernah mandi dan gosok gigi.

Disuatu Sore, dilatar belakangi sebuah pekarangan rumah milik tetangga, kami bermain berdua dengan membawa bola sepak. Tak lupa kami berdua (Aku dan Irfan)bersenda gurau di bawah pohon "Ceres" yang rindang diiringi hembusan angin yang sepoi-sepoi. Karena sudah merasa kelelahan, akhirnya aku mengakhiri permainan tersebut dengan mengajak irfan denga berpura-pura menjadi "Bolang" (Bocah petualang).

Beratnya tugas menjadi Bocah petualang masyarakat urban memang sudah dibuktikan oleh kami berdua. Dan gambaran potensi resikonya sudah terlebih dulu dialami oleh irfan, karena waktu itu sekujur tubuh irfan sudah kebal dengan apa itu duri, kecepret Tahi, dan Bilur-bilur (kena gigitan serangga dan nyamuk). Peduli amat, kami seakan acuh dengan situasi seperti ini karena yang kami cari dari kegiatan tersebut semata-mata demi kepuasaan bermain dan rasa ingin tahu.

Aku: "Fan, ayo ganti dulinane", (*Fan ayo ganti permainan)
Irfan: "Ok mas, dulinan Opo? wis sore lho"(* Ok mas, Mainan Apa? udah sure lho)

Aku: "Ayo dulinan Petualangan, sedilut ae"(*Ayo bermain Petualangan, sebentar saja)

Irfan: "Yo..."

Nah, dari pekarangan, aku beranjak membawa irfan ke kebun belakang rumah. Kegiatan "Mbolang" adalah kegiatan yang paling kami segani karena waktu itu jarang ada tayangan televisi yang memaparkan film kartun sebagai sarana hiburan. Jauh kata-kata deh kalau pemirsa mengharapkan waktu dulu ada playstation. Mungkin saya sendiri lebih memilih betah tinggal di rumah.
Ok, lanjut ke cerita berikutnya.

Baru melangkah beberapa meter, langkahku mulai terhenti karena hidungku mencium aroma makanan yang khas. Aroma ini adalah aroma gosong yang tercipta dari kobaran api dan arang sate. Walaupun begitu, amat sangat maknyus karena baunya lebih mirip dengan Ayam Panggang Dungus

Bergegas sok detektif seperti Sherlock Holmes, aku-pun memberi aba-aba agar irfan mengekplorasi bau tersebut. Sambil membungkuk, clingak-clinguk,mengendus-ngendus dan berpencar, akhirnya aku-lah yang pertama kali menemukan darimana sumber bau itu berasal.

Ternyata sumber aroma tersebut berasal dari seekor ayam mati yang tergeletak ditumpukan sampah. Dibiarkan begitu saja terbakar bercampur limbah dan sampah organik oleh pemiliknya.
Seolah tak kenal rasa jijik, sambil mengamati ayam mati tersebut, Tanpa tedeng aleng-aleng dan tanpa musyawarah, akupun langsung mengangkat ayam panggangan tersebut dan meniiriskannya diatas pelepah daun pisang tanpa sepengetahuan Irfan

Mulanya aku terdiam. Tetapi melihat perutku mulai keroncongan, aq mencoba menyobek paha ayam tersebut karena hanya bagian itulah yang matang seluruhnya.
....masih hening... aq terus mengamati sobekan paha ayam tadi....dan masih bingung ingin membuangnya atau malah mencicipinya... #halah
Hati ini makin berontak, karena aku ingat pesan ibu untuk tidak jajan sembarangan. Apalagi untuk urusan jajanan jorok demikian, maka dengan berat hati, aku memilih tidak memakan daging si ayam bangkai ini

Belum sempat kubuang potongan ayam dalam genggaman, mulailah muncul jiwa pengayomanku untuk membibing irfan "MAKAN ENAK". Maka aku berteriak-teriak memanggil irfan dan menyuguhkan ayam tersebut kepadanya:

Anyway, inilah alasan aku memilih irfan:
  1. Irfan adalah penjilat
  2. Irfan mempunyai perangai rakus dalam hal komoditi makanan
  3. biarpun begitu, dia tetap rekan yang baik dan bersedia dimintai tolong

Irfan-pun menyahut, Lalu akupun bertanya:
Aku: "Fan, koen arep pitik goreng gak..wenak lho!!"(*Fan, kamu mau ayam goreng gak, enak sekali lho)

Irfan: "yo arep yo, endi mas pitike, wetengku wis luwe"(*Ya mau mas, mana Ayamnya, perutku sudah lapar)

Aku: "iki lho aq mau nemu pitik iki nang larakan, aq wes mangan kok, laha iki bekase" (*Ini lho, aku tadi nemu ayam ini ditempat sampah, aku sudah makan kok, lha ini bekasnya)(sambil menunjukkan sisa potongan ayam yang kusobek tadi)
Irfan: "wah..iyo mas,,,pitik goreng" (*wah iya mas, Ayam Goreng)


Anehnya, tanpa rasa jijik,dan tanpa komando deville, si Irfan malah duduk disebelahku sambil meraih tuh ayam busuk panggangan. Seperti pengamatan Upin-dan Ipin, diamatinya dengan seksama dan sangat menggoda bagi irfan. Namun yang luput dari penglihatan irfan waktu itu adalah mataku menangkap bahwa didalam tubuh ayam tersebut ada belatungnya (sudah gosong)...dan gak tahu kenapa pikiranku malah mengisyaratkan agar irfan memakan bagian itu dengan alih-alih bagian yang paling lezat dan gurih.

Dan inilah petikan pengakuannya:

"Enak yo mas.... iki lho sampean arep tah nggak gak? (Enak sekali lho mas, Ini lho kamu mau apa enggak?


huweeeeeeeeekkkk....!!!! (*dalam hatiku)

Beragam arahan dan upaya aku ucapkan agar Irfan menghilangkan rasa jijiknya. Dan semuanya berhasil dengan sempurna. Seolah tak peduli dengan panduanku, dengan lahap si Irfan in melucuti bagian demi bagian ayam, ceker, dada..bahkan melahap ayam tersebut sampai tinggal tulang-belulangnya saja.. gile nih anak

huweeeeeeeeekkkk.... !! (*dalam hatiku)

Entah apa yang dipikirkan Irfan waktu itu. Padahal maksud hati hanya sekedar usil menyuguhkan. Ini kok malah dihabiskan. Mulutnya dengan leluasa mengunyah puing-puing ayam busuk bercampur kuman Ecolli didalamnya. Ditengah keasyikannya, Irfan makin mencuekkan diriku, tanpa sadar aku berusaha mengajaknya pulang lantaran sudah sore

Karena fajar sudah mau tenggelam, kamipun sepakat untuk bergegas pulang kerumah masing-masing dengan harapan melupakan kejadian hari itu. Tapi pas di depan rumah irfan yang bersebelahan dirumahku. Ibunya Irfan (Bulek Seger) menyuruhku mandi terlebih dahulu di rumahnya dan makan-makan dulu. Namun, karena irfan adalah anak yang jujur mata orang-tuanya, irfan berkata: "buk, aku wes wareg, mau wes dijak mangan-mangan pitik panggang karo mas heru" (Aku sudah kenyang bu, tadi sudah diajak maes heru makan ayam panggang)....Jrenggggggg.

Tak disangka-sangka disinilah otakku beradu dengan akal agar mudah mencari solusi. Sial bagiku yang berkeingin kabur, atau berterus terang. Tapi kenyataan berkata lain, hingga ketidak berdayaanku, aku terpaksa berbohong kepada beliau:

Aku: "O..mmmm Enggeh Bulek, ibuk wau masak pitik Panggang ten Griyo" (*ooo..mmm iya bibi, Ibuku tadi masak Ayam panggang dirumah)

Dan lagi-lagi, tanpa aba-abaku, irfan muncul sambil nyerongot begitu saja membantah pernyataanku:
Irfan: "Bujuki buk, mas heru wau ngejak aku mangan pitik nang kebon..! (*Bohong buk, Mas heru tadi ngajak aku makan di kebun..!!!)
Sungguh malang tak dapat ditolak, karena ibunya irfan sangat penasaran dengan pengakuan anak semata wayangnya itu, maka dipilahlah aku sebagai sasaran yurisdiksinya.
Berusahalah bulek seger mengintimidasiku dengan beberapa pertanyaan:

Bulek seger: "HERU.....PITIK ENDI SING DIPANGGANG?" (Heru, ayam mana yang dipanggang?)

Karena aku gugup,takut,dan ngeri melihat wajah bu seger yang terkenal killer, akupun keceplosan menjawab:

Aku: "Irfan, mmmm....ooooo, Maem Pitik mati bulek!!, nang larakane pak warsijo!!". (Irfan..mmm ...oooo makan ayam bangkai bulek!!! di sampahnya pak warsijo !!")

Glodak!!, raut muka bu seger langsung berubah merah padam. Tanpa banyak berkata-apa-apa, diraihlah sebuah sapu lidi rumah yang gagah perkasa sebagai senjata untuk melengkapi amarahnya.
Bak seorang Polisi India,... Eh bukannya menghampiriku, beliau malah berbalik arah 180 derajat dan menghampiri Irfan yang tengah asyik menertawakanku. Bulek seger yang kalap tidak sekalipun mengumbar senyum kepada irfan dan malah  menjadikan irfan sebagai bulan-bulannya. Disabetnya kaki dan tangan si irfan ini dengan sapu lidi digenggaman bulek seger berulang kali.

Irfanpun menjerit, meronta minta belas kasihan dari orang tuanya. Sungguh membuatku tidak enak hati melihat penistaan ini.
Kalau prediksi saya benar, adegan tersebut mirip sekali dengan  peristiwa penyembelihan kurban idhul adha (Tapi gak seheboh itu kaleee...).

Sambil terisak tangis, bulek seger berkoar-koar:
Bulek seger: "Koen iku yo nak!! koyo arek kurang mangan ae, Mangan pitik mati pisan!!. Ngisin-ngisini wong tuwoo!!" (*kamu ini ya nak, Kaya anak kurang gizi dan kurang dikasih makan orang tua saja!!,Makan ayam bangkai lagi, Memalukan orang tua saja!!!)
Irfan: "Ampun..buk..ampun!!!"

Maka,,, berakhirlah pertempuran ini dengan dimenangkan oleh bulek Seger. Sementara Blogermie hanya bisa mendengar cerita dari tetangga sebelah bahwasanya si Irfan kapok di gebuki ibunya sendiri akibat kerakusannya makan ayam tiren, karena pas kelanjutan penganiayaan tersebut, blogermie langsung pamit undur diri.

Sejak peristiwa itulah, banyak orang di sekeliling kami menyebutnya sebagai tragedi Ayam tiren. Bahkan di seluruh penjuru indonesia, Ayam tiren kian marak di perjual-belikan pedagang Unggas demi menstabilkan harga daging ayam di dalam negeri yang membumbung tinggi

Sosok seorang tauladan dan pembimbing seperti blogermie memang sangat bermanfaat bukan?.
Tetapi seminggu kemudian, Blogermie tidak bisa tidur gara-gara merasa bersalah dengan teman sendiri

Pesan Moral: Selektiflah dalam memilih ayam. Jangan pernah makan ayam tiren, Walaupun Pesonanya begitu menggoda. Memalukan nama orang tua saja !!!
(ooooo sooo sweat….)
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 1/14/2013 01:20:00 PM

1 komentar: