Blogermie.com: Ibu, Kunci Suksesku adalah Impianmu

15 Januari 2013

Ibu, Kunci Suksesku adalah Impianmu

Sejak 67 Tahun indonesia berdiri, beberapa peristiwa penting dalam sejarah telah memberikan kita pembelajaran menghargai arti sebuah perjuangan. Salah satu diantara tokoh nasionalisme seperti bung karno bisa menjadi pilar murni perubahan menuju indonesia seutuhnya. Karakteristik beliau yang dikenal bijaksana juga tak lepas dari dukungan ibu Fatmawati sukarno, Seorang figur istri (Ibu) yang merupakan sosok perempuan sederhana di balik kesuksesan bung karno.

Sebuah cikal bakal kemerdekaan bangsa ini yang berasal dari rasa cinta, kesabaran dan Puji syukur tampak jelas dari cerita cerita kuno yang sering saya dengar menjelang proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Dimana waktu itu ada sejarah yang mengatakan bendera merah putih dijahit dengan sulaman benang, sebuah filosofi pencitraan ibu muda yang tengah hamil , dengan isakan tangis dan kesabaran yang senantiasa mendampingi suami dalam keadaan genting sekalipun.

Coba bayangkan, seandainya masa itu ada mesin jahit? Mungkin ibu fatmawati dapat menyelesaikan sang saka merah putih kurang dari 2 hari. Coba juga waktu itu ada mesin jahit, Tak seharusnya tangan beliau berdarah darah terkena tusukan jarum. Tak terbayangkan bagaimana kehidupan perempuan pada waktu itu

Kemerdekaan yang diraih bangsa ini bukan semata mata karena gaya kepimimpinan bung karno yang berjiwa besar dan mengayomi rakyatnya saja. Tapi juga beberapa dukungan moral Istri (Ibu Fatmawati) sebagai penentu keberhasilan beliau.
Sekali lagi, kepiawaian seorang ibu bisa menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang secara manusiawi.
Saya yakin sekali.

Saya sendiri sempat membuat Appointment bahwa tanpa Ibu, Mustahil negeri ini nantinya melahirkan pemuda-pemudi penerus bangsa yang nantinya membawa negara ini ke arah yang lebih baik.
Jika bung karno terlahir dari rahim ibu pertiwi sebagai pemimpin, Why not dengan generasi muda seperti kita?

Memang, Saya sendiri belum pernah merasakan getirnya hidup di zaman penjajahan. Tapi diwaktu kecil, saya mempunyai peristiwa-peristiwa penting untuk bisa dipertahankan sebagai simbol menghargai sebuah kemerdekaan.
Terlahir dari Torehan iktikad baik seorang ibu, Kasih sayang, kesabaran, dan dibesarkan dengan penuh rasa cinta dan kesederhanaan membuat saya berkeyakinan bahwa untuk meraih kemerdekaan diri sendiri sebenarnya masih jauh dari harapan, apabila nyatanya kita selaku anak masih dikatakan "Menindas Orang Tua"

KITA BELUM MERDEKA!!!

Cerita ini pernah saya angkat sebagai apresiasi Hari Ibu. Dengan lebih memberikan penekanan cinta seorang Ibu kepada anak agar kita semua mengerti arti dari sebuah pengorbanan dan balas budi.

Cinta Ibu pada hakikatnya merupakan cinta sejati yang tidak pernah lekang oleh waktu, bahkan tidak lekang oleh segala kedurhakaan anak kepada Ibunya. Segala penderitaan Ibu dirasakan hanya semata-mata memberikan kebahagiaan untuk buah hatinya.

Berbicara tentang ibu, ibu merupakan Gender terhebat yang diberikan Tuhan kepada kita di semasa hidup. Bersyukur mempunyai ibu yang masih bisa melihat kita beranjak dewasa. Mengharapkannya tetap ada disamping kita dengan tujuan mendapatkan petuah-petuah sebagai pedoman yang berguna dan merasakan cinta tersebut. Sepilu apapun kehidupan orang tua kita semasa kecil, Tidak menjadi beban dan perhatian ibu makin berkurang. Kalau tidak sedewasa ini, dan se-sukses seperti sekarang, mungkin saya tak henti-hentinya menangis mengingat masa lalu ibu yang yang seorang penjual jamu

Dalam hal mengkonsumsi, 26 tahun yang lalu bukanlah hal gampang mencari makanan dengan taraf bergizi. Hidup serba pas-pasan membuat Ibu harus cermat memilih suatu makanan Karena waktu itu Ibu tengah mengandung anak yang ke-3 yaitu saya . Hal ini dilakukan agar anak yang ada dalam kandungannya bisa mendapat asupan vitamin dan kebutuhan yang memadai dalam pertumbuhannya. Kadang kadang ibu menyusui saya dengan air tajin (Air rendaman beras). Kadang juga Murni susu didapat dari ASI . Barulah beberapa tahun, Ibu mulai memberi saya bubur SUN sebagai tambahan asupan nutrisi. Kalaupun sedang Paceklik, ibu menyuapi saya dengan pisang. Toh sampai sekarang saya bisa sangat bersyukur karena makanan tersebut memiliki khasiat dan manfaat yang begitu banyak. Jangan heran pula jika pisang cenderung menjadi makanan favorit saya sampai sekarang

Kekuatan Doa Ibu

Ibuku waktu masih Abg
Ibuku Waktu masih berusia Belasan tahun

Masih jelas di ingatan saya, bagaimana ibu mendudukkan saya di lincak bambu sambil menyuapi nasi dengan lauk ikan asin ketika masih berusia 4 tahun. Teringat pesan kecil:

Ibuku yang budiman
Ibuku masih cantik di Usia 40an


"Kelak, kowe tak dungakke dadi wong sukses yo le"(Kelak ibudoakan kamu biar jadi orang sukses ya nak)

Menonton ibu sambil menggendong adik saya yang masih kecil, membuat saya terharu jika mengingatnya.
Dengan rumah kecil berbilik bambu, kami sekeluarga tinggal di perkampungan yang dibilang serba kekurangan. Hanya mengandalkan gaji honorer bapak tahun 1988 yang tak kurang dari Rp.2000,-. Dengan keadaan minim itulah, ibu juga terpaksa jualan jamu dengan harus memanage keuangan demi menghidupi ke 4 anaknya yang masih kecil..
Tetapi beruntunglah, ditahun 1999, kakak sulung saya yang mulai beranjak dewasa bersedia untuk diasuh oleh nenek saya yang dirasa cukup mampu untuk mengurangi beban ekonomi keluarga ini

Ibu adalah wanita pertama yang betul betul saya kagumi karena semasa kecil. Menurut pengakuan miris ibu saya sendiri, dari 3 bersaudara hanya saya-lah yang paling nakal.
Sedari kecil, Saya yang paling "Ndablek". Sangat berbeda dengan tabiat saudara-saudara yang lain.

Kata ibu saya, saya Sering minta sesuatu dengan segera. Kalau belum dituruti bisanya melampiaskan emosi sampai membanting sesuatu. Tapi Uniknya bagi seorang Ibu, hal terburuk tersebut senantiasa diantisipasi dengan serta merta membujuk rayu putranya ini dengan penuh kelembutan, agar tetap tenang. Walaupun seingat saya, resiko barang yang saya inginkan tidak pernah terjangkau untuk dibeli.

Ditengah usia yang menanjak tinggi, Saya semakin sadar bahwa doa ibu adalah pengorbanan yang paling "Terakreditasi".
Pengorbanan yang selalu menjadi 'Tuah' seorang ibu agar anaknya tidak menjadi seperti dirinya sendiri. Ibu bahkan pernah berpesan untuk jangan sekali-kali mempunyai cita-cita jualan jamu, kasihan.
"Sekolah yang tinggi ya nak"

Hembusan nafasnya seolah-olah memberikan angin segar, Tak peduli dengan segala kesusahan yang menimpa, tetap "mendongeng" dengan pendiriannya agar si anak selalu tegar menjalani hidup. Andaikata-pun Pengorbanan perang lebih mahal harganya, Tidak akan pernah ada nilai Inflasi apabila pengorbanan paling tulus selain cinta ibu kepada anaknya.

Ibu juga mengajarkan banyak hal dalam menghadapi hidup, dimana ke 4 anaknya diajarkan bahu membahu, dan tidak selalu menyalahkan-disalahkan.
"Hidup itu singkat nak, jangan dibuat sepele. Jika ada masalah dengan saudaramu, segera selesaikan. Jangan saling berkerut dahi dan berpaling muka, gak baik".
"Jadilah orang yang yang berguna. Orang berguna adalah orang yang menyadari seberapa bermanfaat dirinya sendiri bagi orang lain, bukan malah memanfaatkan orang lain"
Sebenarnya masih banyak sekali wejangan-wejangan dari ibu. Tetapi 2 petuah diatas yang masih saya pakai sampai saat ini

Hingga disuatu masa, tibalah waktu yang mengantar perantauan saya sebagai seorang pegawai negeri di tahun 2006. Padahal itu semua diluar perhitungan untuk mengejar karir. Yang terlihat dari pancaran mata seorang ibu saya waktu itu hanyalah doa-dan doa yang dipanjatkannya tiap malam. Sambil berkaca-kaca, saya seringkali memergoki ibu saya menitikkan air mata sembari mengusap pipinya dengan Muknah lusuh.

Rasa bersalah itu pasti, Puji syukur juga tak pernah henti-hentinya terucap dari lesan ini karena saya amat beruntung tumbuh dewasa disaat masih bisa menikmati "Paceklik". Merasakan apa itu yang disebut Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.
Tapi yang membuat saya lebih bersyukur lagi ialah sampai saat ini, Saya masih bisa ditemani kedua orang tua saya , terutama ibu saya

Ibuku masih mendampingiku meskipun aku sudah menikah
Ibuku sudah menginjak kepala 5

Sungguh saya tidak sampai hati berbuat nakal sewaktu kecil jika nasib saya dibilang enak untuk saat ini. Saya baru tersadar bahwa tiada kosakata "SABAR" yang paling berharga selain dari himbauan dan arahan orang tua. Kesabaran menjadi orang tua (khususnya ibu) seperti inilah yang kelak saya pergunakan untuk membesarkan anak dalam kandungan istri saya nantinya
Sudahkan kau berbakti pada ibumu hari Ini?

Namun, Tidak semua pelajaran di atas bisa diterima bagi anak pada masa sesudahnya. Jika saya melihat kenyataannya sekarang ini, Banyak anak yang membangkang kepada kedua orangtuanya, apalagi kepada Ibunya. Padahal ketidak tahuan bagaimana penderitaan sang Ibu ketika si-anak ini dilahirkan.
Anak-anak yang kini tumbuh dewasa itu tidak ingin dicap sebagai anak yang pemalas dan hidup sendiri tanpa ada campur tangan dari orangtua, terutama Ibu.
Padahal Tiap detiknya sang ibu selalu memanjatkan doa dan harapan yang terus mengalir dalam denyut nadi anak tersebut sampai beranjak dewasa.

Namun, sudahkan kita menjadi orang sukses dunia akhirat seperti yang diharapkan orangtua kita, terutama Ibu kita. Atau bahkan banyak dari kita menjadi kebalikan "Jambu Monyet" dari hal itu dengan selalu menyalahkan orangtua akan segala kegagalan yang kita alami.

Ibarat pepatah "Kacang Lupa Akan Kulitnya". Makin banyak anak yang sukses, makin banyak pula anak yang durhaka kepada orangtuanya.
Ketika berada pada puncak anak tangga kesuksesan, Seolah-olah Orang tua tidak ada harganya. Ibu juga merasakan kepedihan tersebut hanya melalui lembaran-lembaran uang yang dikirim banyak jumlahnya. Itu juga diberikan tidak langsung, karena menggunakan perantara pengiriman menggunakan kantor pos atau menggunakan bank. Padahal bukan uang yang semata-mata orang tua harapkan.
Sekali lagi bukan itu

Kalau sudah begini, hilang sudah BALAS JASA yang sesungguhnya dari seorang anak yang berbakti. Bahkan jauh terhina dengan sebutan " ANAK DURHAKA"
PESAN PENTING : "Mikul dhuwur, mendhem jero." (Menjunjung tinggi kebaikan orang tua dan merahasiakan keburukannya)

Tak peduli seberapa nakal dirimu, di lingkungan sekitarmu. Biarpun engkau sukses, Menjadi Direktur, Pengusaha, dalam keadaan susah, bahkan sampai jatuh miskin. Jangan pernah menyia-nyiakan ibumu, apalagi sampai membuatnya menderita. Dengan alasan apapun, tak satupun manusia di dunia ini yang sanggup mengembalikan setetes air susu mereka.

Kalau perlu balas budimu meskipun harus berkorban nyawa. Karena dengan adanya ibu, Syarat mutlak kalian Mendapat ridho dari-Nya

Memang benar, Sing Mbaureksa (Sang Waktu) telah menurunkan Hidayah bagi setiap manusia yang sayang dengan Ibunya. Dia memberikan celah ditiap lubuk hati manusia dengan bersyukur. Meskipun ada kecil keburukan, Pasti-Nya dia akan meneteskan embun kebaikan melalui Doa-doa yang dipanjatkan sang ibu.

Sebaliknya, Anak durhaka yang terlahir sukses, belum tentu menemukan kebahagian yang sejati dalam hidupnya apabila sampai lupa dengan ibunya, pasti akan mendapat "Buah Simalakama" yang dia tanam sebelumnya.

Jadi, Mau di kemanapun setenar-tenar pahlawan, Tanpa memiliki,dan didampingi Ibunda tercinta. Mereka tetaplah bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Tidak sebaik dan sebijak diri mereka sendiri. Saya akan tetap bersyukur dianugerahi Seorang Ibu yang asih, biarpun disuatu saat nanti saya dilahirkan di kehidupan tidak seenak sekarang.

Memang suksesnya anak menjadi suatu kebanggaan bagi orangtua, terutama seorang Ibu. Namun, Akan ada cerita Cinta lain Jika "Suksesnya anak dengan tetap mengingat jasa orangtuanya dalam hitungan detik ".

Jadi, jangan lupakan Ibu kalian guys. Jika kita melupakan sistem dari mana kita tiba didunia ini, maka mungkin kita lupa dari mana kita berasal.

Nah, jika kalian Ingin Sukses dan merdeka. Merdeka-kan Ibu kalian terlebih dahulu
Salam Rukun,

DO NOT COPY !!!
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 1/15/2013 06:37:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar