Blogermie.com: Menggapai Cita Menjadi Pengayom Wong cilik

16 Januari 2013

Menggapai Cita Menjadi Pengayom Wong cilik

Sebagai Jati diri seorang Laki-laki tulen, sudah sepantasnya jiwa pengayom melekat pada diri siapa saja. Ini ada benarnya juga, Tetapi isapan jempol yang sering saya dengar melalui saduran buku mata pelajaran PMP (SMP) bahwasanya Pengayom hanya dimiliki bagi sesorang yang punya latar belakang pemimpin, presiden, maupun orang-orang tajirrr...ini adalah tidak benar!!

Saya berani menyangkal hal ini selagi penduduk khususnya pribumi yang membawa adat ketimuran, menjunjung etika kesopanan dan berpijak di tanah air indonesia, maka seiring itu pula seseorang tersebut harus mempersiapkan mental untuk bertindak berani dalam mengayomi terhadap kaum (dhuafa) dibawahnya. Saya Yakin, baik petuah-petuah kuno maupun ajaran agama apapun selalu mengajarkan hal yang demikian. Melindungi yang lemah dan membela yang benar

Dan, cerita dibawah ini bisa menjadi bukti bahwa untuk menjadi pengayom, seseorang tidak harus dipandang dari Title maupun jabatan yang dimiliki seseorang.

Berikut rentetan Kronologinya:..............................

Cerita ini bermula kita aku duduk dibangku SMP. Masa SMP adalah masa transisi seseorang untuk bermetamorfosis menjadi kepribadian dewasa di masa sesudahnya. Begitupun diriku, Jikalau di cerita sebelumnya aku pernah sekali bandel, maka di SMP inilah aku menjadi anak yang sangat penurut versi majalah Forbes. Dan tentunya, label baru dan julukan baru mulai terngiang-ngiang ketika aku menginjakkan kaki di SLTPN 2 SUKODONO.

PENGAYOM

Seandainya saja tidak ada SKEP (Surat Keputusan) untuk upacara bendera setiap hari senin pukul 07.00 - 08.00, mungkin gelar pengayom wong cilik tidak pernah tersandar di pundak blogermie. Gelar ini (pengayom wong cilik) sudah melekat jauh-jauh hari sebelum di kumandangkannya Slogan Pilkada dan Parpol yang sangat berambisi sok-menjadi pengayom wong cilik sebagaimana yang terjadi pada diriku.
Dan jujur saja, gelar ini bukan atas kemauan pribadiku agar dikenal sok melindungi dan menjadi pahlawan kebenaran seperti SARAS 008. Bahkan gelar ini murni secara sukarela diberikan oleh para wong cilik pada blogermie.

Pada waktu SMP(Sekolah Menengah Pertama), Bukan hal yang rumit bagiku untuk memperolah sahabat, terutama dari kalangan wong cilik. Sosokku sangat familiar di semua sektor kelas dan kantin sekolah sebagai pengayom sejati. Dan lagi-lagi, wong cilik-lah yang benar-benar merasakan pengayomanku.

Sumpah...!!!, ini merupakan suatu tanggung jawab yang besar dan hanya dimiliki oleh pria berjiwa besar jika ingin memikul beban pengayom wong cilik. Dan, DEMI ALLAH..!!, sungguh amanat yang harus blogermie panggul seumur hidup demi memperoleh gelar sialan ini. Gak percaya??? Ini buktinya

1. Dengan tinggi badan kurang lebih 160cm (sewaktu SMP) Blogermie harus selalu berdiri dibarisan paling depan untuk menghadiri Upacara bendera. Di sinilah keuntungan dan faedah bagi para wong cilik (farid, wisnu, budi, boby,dll) untuk selalu menempel ketat layaknya homo, di belakang blogermie demi mendapatan pengayoman

2. Selama satu tahun mengabdi sebagai pengayom di SMP, sudah melakukan ritual upacara sebanyak 4 hari senin x 12 Bulan = 48, dipotong masa liburan + 4 hari =44 Upacara bendera. Kalikan 6 Tahun ( SMK tidak ada Upacara,tetapi tinggiku makin menjulang menjadi 188cm) = 264 Kali

3. Paling sering terkena hukuman apabila lalai memakai topi. Parah jika wali-kelasku sudah mendampratku “hee… koen seng koyok jerapah, maju” red: hei kamu yang seperti jerapah,maju

4. Tidak bisa bolos untuk ngikutin upacara, karena para guru sudah apal dengan jenong jidatku yang selalu nongol lebih lebar dibandingkan wong cilik yang lain.

5. Pak Khusen "Penjaga sekolahku" selalu memperbantukanku sebagai "Galah" apabila ada kegiatan Jumat Bersih. Lha wong berkat pengayomanku, dahan-dahan pohon, dan ranting yang menghalangi jalur instalasi kabel-kabel listrik berhasil dibersihkan

6. Berkat menjadi Pengayom Wong cilik, memikat hati durjanaku (membimbing isnaini) dalam mata pelajaran PENJASKES) Sewaktu Lompat Jauh. Berhasil mendapatkan rekor terbaru dengan panjang lompatan 4,2 M

Menggapai Cita sang Pengayom
Sampai sekarang pun menginjak usia yang ke 27 dan sudah menikah, aku masih saja menjadi pioner (penjuru) tatkala tiba upacara bendera. Tampil dengan gugusan terdepan memakai Atribut KORPRI dan Kopiah, selalu menjadi kemudi untuk membawa pasukan Upacara. Di sisi Positif, teman-teman dibelakangku sudah merasakan pengayomanku dari sengatan matahari yang terik (dan lagi-lagi, melekat seperti homo: Yasir, Totok, Adi, Ssamsul, Sugiyarno).

Adapun alasan yang cenderung masuk akal ialah memberiku posisi sebagai penghalau podium (Anggota upacara dibelakangku dengan bebas terkantuk-kantuk dan "sembunyi" terhindar dari penglihatan Inspektur Upacara #Kampret).

Biarpun rada-rada menyesal. Tapi aku bersyukur berkat pengayomanku inilah, mudah bagiku untuk mengakses keberadaan teman-temanku baik dari segala gender untuk selalu mendukungku dalam hal pekerjaan
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 1/16/2013 07:16:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar