Blogermie.com: Pelesir Banjir Ibukota, Jokowi-Ahok Tetap Mempesona

29 Januari 2013

Pelesir Banjir Ibukota, Jokowi-Ahok Tetap Mempesona

Beberapa hari ini saya mengikuti sepak terjang Jokowi-ahok di berbagai media. Bukan sebagai Citizen Journalisme, tapi sebagai Fans terberatnya. Sempat juga saya membuka akun kompasiana yang mangkir berbulan-bulan. tapi masih belum "Mood " mengisinya kembali karena lagi gak ingin terlalu naif dan tendensius menulis politik :D

Bercerita tentang Jokowi-ahok, mungkin masyarakat indonesia sedang terpana dengan pemberitaan media digital dan surat kabar yang hampir mengupas total Jokowi dan ahok selama 100 hari kepemimpinannya membangun jakarta. Memang bukan hal mudah mengeplorasi iklim ibukota yang rentan dengan konflik dan semua tetek bengeknya, .

Salah satu yang marak menjadi highlight bulan ini adalah bencana Air bah yang hampir menenggelamkan 3/4 wilayah ibukota. Dan itu merupakan waktu dimana Media Digital Seperti TV-One, RCTI, dan Metronews sebagai Media beda kasta seakan-akan menagih janji Jokowi-Ahok

  • Jakarta Seperti Labirin bagi Jokowi-Ahok

Saya mengira, saya tidak akan pernah menulis topik Jokowi lagi. Karena saya juga mengira fenomena banjir ini telah menjadi pemandangan yang biasa di ibukota. Kalau banjir ibukota bermula dari bantaran kali, dari zaman Masih batavia dulu, jakarta tetap menjadi kota identik banjir, termasuk di daerah saya sendiri biarpun tidak pernah diekspos.

Banjir jakarta adalah hal yang lumrah. Ketika sudah bicara bencana, tidak ada yang patut untuk disalahkan, maupun menyalahkan. Karena semuanya atas kehendak yang diatas. Bisa saja bencana banjir tersebut merupakan sebuah teguran.
Kalau ada yang masih ngotot banjir adalah kesalahan sistim, itu hanya beberapa opsi yang nantinya bisa menjadi alasan secara teknis. Semua kembali pada diri orang yang bersangkutan, baik faktor gaya hidup maupun terlalu konsumtifnya seseorang meraih sesuatu secara instan

Jokowi-ahok adalah trendsetter untuk saat ini. Seperti artis yang tidak lekang diterpa gosip miring, keduanya juga tidak luput dari sasaran media turut serta mempermasalhkan kinerja keduanya. Segelintir orang maupun organisasi yang dengan mudah menyalahkan Jokowi-Ahok.
Kalau ada diantara pembaca blog ini yang beruntun menyalahkan Jokowi-ahok, anda termasuk orang yang salah!!!:
Tanya kenapa Om Xumi?

  • Nah, inilah jawaban saya

Baik itu pak ahok dan pak Jokowi itu sama-sama belajar sebagai orang baru, namun sangat berpotensi mengubah keadaan. Tentunya bukan menjadi halangan karena dulunya predikat pemimpin sudah pernah disandang keduanya di wilayah Solo dan belitung. Wajar jika kinerja "Orang pemula" dipertanyakan. Tapi yang patut dibenahi terlebih dahulu adalah Sistem pemerintahan dan birokrasi yang diwariskan dari gubernur lama ke gubernur baru. Jujur bagi saya, sepeninggalan Gubernur Fauzi bowo, tidak banyak torehan yang didapat, kecuali mall dengan intensitas yang cukup tinggi disertai munculnya kaum borjuis. Banyaknya PNS malas di pemprov DKI sudah cukup memberikan bukti warisan yang pantas untuk di evaluasi

Maka disinilah tugas bagi Jokowi dan ahok merevisi setiap infrastuktur didalamnya. Tugas berat dipikul keduanya
Bagi kedua beliau, itu adalah sebuah tantangan dan PR untuk senantiasa tetap berkerja-dan bekerja. Saya rasa tidak mudah mengenal ibukota, memperbaharui kembali infrastuktur, dan ekosistem, ditambah lagi dengan jumlah penduduk yang memiliki perangai tersendiri. Mungkin tingkat kesulitan tinggi didapatkan keduanya jika harus menghafal nama 1 orang penduduk yang baik, liberalis, maupun yang opornutis ( saya berpikir jauh-jauh sebelum kepempinan jokowi, sbg gubernur DKI, belum ada orang yang berani memberikan terobosan baru ). Terobosan baru tersebut tak terhitung secara kasat oleh mata orang awam seperti membuat tangkapan air, membuat sodetan-sodetan disekitar lokasi banjir, Bahkan rencana yang digalang terakhir ini adalah memperbanyak waduk-waduk di sekitar wilayah DKI. Yah, kalau disanjung, Jokowi-Ahoklah satu-satunya pioner untuk menuju "Jakarta lebih baik"

Contoh secara teknis saja dalam sistem drainase, dan gorong-gorong. Terkadang Investor dan pemilik modal dengan leluasa mendirinkan sebuah Mall dan gedung pencakar langit tanpa  memfasilitasi saluran pembuangan yang baik. Dan lagi-lagi, sasaran komersial yang dipilih dengan memasang pondasi tinggi tanpa berfikir panjang memperhitungkan efek lingkungan di kemudian hari. Ini secara visual ditangkap oleh Jokowi di lapangan

Begitupun pula dengan Pak  Ahok, (saya bersyukur punya pemimpin seperti ini), mungkin saya melihat pak ahok berperan dalam sistim Birokrasinya (INTERN). Bentuknya juga beragam mulai pengelolaan dana APBD. Hanya saja satu-satu upaya yang menurutnya tidak berhasil adalah membujuk rayu warga pluit untuk segera menyingkir di lokasiasi waduk puit kecamatan panjaringan. Peluh usaha beliau sepertinya hanya menjadi pemanis bibir bagi orang yang tak peduli keselamatan. Padahal secara tegas beliau bersama jajaran Pemprov DKI menyediakan Rusun di muara baru guna langkah menghindari banjir korban susulan. Tentu saja ini merupakan langkah tepat guna dari lebih dari sekedar kebijakan seorang pemimpin.
Dan lagi-lagi, alih-alih sertifikat tanahlah yang menyebabkan penghuni pluit enggan berpindah ke-hunian baru mereka

Di Segi Sumber daya alam saja, semisal hutan lindung, dan wilayah bantaran kali. berkali-kali jokowi sempat menaikkan nada tinggi jika jurnalis pers bertanya ini murni kesalahan SDA, toh jelas, daerah dengan titik-tertentu yang berfungsi sebagai resapan air, tapi kok nekat dibangun pemukiman
Saya sempat berasumsi "Kalau gak siap kejakarta secara mental dan punya kompetensi. jangan nekat bikin KTP, daripada merugikan hajat hidup orang banyak"

Itulah beberapa Alternatif jika anda bersikeras untuk tetap menyalahkan kredibilitas jokowi-ahok.
Sekarang kita balikkan fakta kepada siapa? diri kita-kah?

Ya, Namanya lidah manusia memang tak bertulang. Dengan mudahnya orang akan mendamprat sisi buruk orang lain untuk mencari pembenaran/kebenaran.

Tapi kali ini kasusnya sedikit lain, setelah 100 hari Pak jokowi dan Ahok yang menjabat sebagi Gubernur dki peridose ke 14. Kasus pencemaran nama baik masih saja merebak. Ada saja yang mencerca dan menghujat.
Jujur, antara takut dan berani juga saya menulis ini. Takut karena pendapat saya akan bersebrangan dengan pendapat kebanyakan orang, berani karena saya yakin anda semua adalah masyarakat yang cinta kebebasan berpendapat.

Ok, dari sekian banyak pendukung vonis Raport biru untuk jokowi (mungkin) termasuk anda. Sudahkah anda membaca isi keseluruhan pesan yang di tulis di media online? jika belum silakan mampir dimari http://www.itoday.co.id/politik/tak-bisa-atasi-banjir-jakarta-farhat-abbas-akan-usir-jokowi-ahok

Jika sudah membaca artikel tersebut. Menurut anda lebih condong kemanakah artikel tersebut dibuat? keluhan, kritik atau tuduhan?

Mari kita sama-sama bermain sinonim kata, masing-masing arti kata keluhan, kritik, tuduhan

  • Keluhan/mengeluh adalah respon tidak suka, kecewa atau susah dari apa yang kita peroleh
Misal, kita membeli 1 kg duku, ternyata masam semua. Maka dengan terpaksa, pembeli seperti kita akan langsung nyerocos " Dukunya kok masam semua?"

  • Kritik, kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk. Jadi kritik biasanya ada dua sisi yang dinilai, baik dan buruk.
Misal, "memang benar dukunya murah, tapi jika masam buat apa? Mahal dikit gpp bang, asal manis"
(Tak ada gading yang tak retak Buuu......!!!!, kalau sudah 1 Kg duku dihabiskan rasanya masam semua, kalau gitu kembalikan 1 Kg duku yang sudah  ibu makan sebagai tanda komplain, mau nggak?"--------- Ini bisa berbalik arah, makanya berhati-hati kalau komplain tidak sesuai kapasitas anda

  • Tuduhan adalah menunjuk dan mengatakan bahwa seseorang berbuat kurang baik baik ada bukti maupun tidak.
Misal, " Dukunya semua masam, kamu sengaja ya jualan duku? Tahu jika saya mau beli banyak"--------------- Saya yakin, penjualnya langsung tidak berkata sepatah 2 patah kata, karena seketika juga si-pembeli akan di-jitak timbangan buah

Ok dari contoh diatas, adakah yang masih kurang jelas? kira-kira mana yang bisa berakibat hukum dan sangat riskan konsekuensi?

Jika saya membaca artikel tersebut, termasuk yang terpaut didalamnya, Seorang pengacara Farhat Abbas, keluhan, kritik dan tuduhan ketiganya ada semua. Tapi, lebih condong kemanakah? Harus di sadari dulu oleh kita semua.
  1. Kicauan itu adalah versi Farhat Abbas, tidak ada kronologi dengan banjir ibukota
  2. Farhat tidak tahu/ tidak berdampingan dengan jokowi saat Banjir

Dan, untuk mengambil kesimpulan suatu bacaan / cerita kita tidak bisa mengambil dari masing masing paragraf melainkan baca dulu semua sampe selesai. Jika masih kurang menemukan point nya baca lagi sampe selesai. Maaf jika terkesan mengajari pendidikan berbahasa Indonesia SMA kelas III.

Contoh
"Kalo Jkt masih macet dan banjir trus Mall gak boleh ditutup" tutup Aja kantor nya Joko dan ahok! Suruh pulang ke solo dan belitong?" tulis Farhat, Selasa (16/01)

Apa kalimat utamanya?

"Masukan dan saran buat Joko dan ahok" biar Jakarta gak macet"! Mall pindah keluar kota"! Kurangi areal/ lahan parkir"atau tutup semua Mall,"

Menurut anda? kalimat diatas menuduh, mengeluh atau mengkritik?

Paragraf berikut dan seterusnya berisi kronologis versi farhat Abbas, hingga ketemu kalimat:

"Sejuta pendukung Joko,ahok Tak dpt menghancurkan fakta dan kebenaran " kata2 janji2 dan mulut Joko ahok saat kampanye mjd senjata makan tuan,"

Hingga jika disimpulkan Jokowi ahok berkesan:
  1. Tidak profesional
  2. Pelayanan buruk
  3. Oportunis dan serakah

Sama halnya jika ada cewek pake rok mini malam-malam trus kita "menawarnya". Pasti, jika dia bukan Pe-eS-ka anda akan kena tampar. Atau ada cowok bertubuh macho, wangi dan kita bilang dia Homo didepannya, berani menjamin bogem mentah mendarat di muka kita.

Tentu, siapa yang rela jika dicap seperti itu. untungnya bagi keduanya (AHOK-jokowi) tidak terlalu terpancing dengan kicauan Farhat.
Menjadi pemimpin iu sudah biasa dihujat, dihina, tapi lebih baik dihujat setelah melakukan agresi dan pergerakan, masalah hasil itu nanti, semua dilakukan agar tujuan terlaksana. Biarlah warga yang menilai daripada dihujat lantaran banyak omong tanpa ada realisasinya, hanya akan membuat suasana semakin tidak kondusif

Menjadi suri tauladan bagi diri sendiri kadang sulit melalui banyak pertimbangan Jika membandingkannya dengan watak orang lain, pasti bersumber dari hati. Jikalau semua usaha dan pekerjaan dilakukan dengan sepenuh hati dengan segenap dukungan Semua orang seperti perkataan Jokowi saya yakin hasilnya juga membaik secara pelan-pelan dan permanen.
Berikut penggalan kalimat yang saya kutip dari percakapan Jokowi dengan Repoter RCTI di Youtube:


"Ya... apaa,,eeee kalao kesel ya kesel, kalo mau di... apaaaa...dibilang yaaa.. ini.. memang sebuah management control yang harus dilakukan oleh siapapun. yang harus saya lakukan, perangkat harus lakukan..semuanya memang...karena pekerjaan kita sekali harusnya memang banyak di lapangan"

Orang-orang yang suka mencerca hanya bisa menerima kekalahan bila perkataannya tidak terbukti. Mereka akan tertunduk malu dan selalu takabur dengan pencapaian orang yang di hujatnya. Bersikukuh pendapatnya benar, tanpa melakukan analisa,dan hipotesa terlebih dahulu. Maka sebenarnya jiwa mereka inilah yang lambat laun terdidik menjadi kufur berkah.
Yaaa Gampangane rasa celaka-lah

Sampai tulisan ini saya publish, Biarpun orang lain melihat pak Jokowi sebagai gubernur dikerubuti warganya, dari orang tua sampai anak-anak, saya akan tetap jadi terharu jika menilai keduanya sebagai sosok yang sederhana … kita kangen dengan figur seperti itu..jadi alangkah anehnya kalau masih ada yang menghujat. Anak kecil aja yang ngga tahu apa-apa, bisa melihat dengan bijak dan antusias…

Jadi pak jokowi-ahok sabar ya pak...saya sangat berharap jika anak saya nanti lahir, mewarisi sikap arif dan sangat teduh mengayomi wong cilik seperti Jokowi dan basuki :)
Amin

Akhirnya, saya, anda adalah manusia-manusia yang bebas berpendapat, kritik dan mengeluh tapi bukan menuduh. terima kasih

REFERENSI:
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 1/29/2013 09:40:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar