Blogermie.com: Sabar itu biasa..!!!,Menahan Kecewa Untuk Sabar?, itu Baru Aneh

30 Januari 2013

Sabar itu biasa..!!!,Menahan Kecewa Untuk Sabar?, itu Baru Aneh

Dunia ini cukup banyak istilah dan akronim yang bisa menjadi cermin bagi kehidupan seseorang. ketika orang berani berkata TIDAK, berarti itu sebuah unsur penolakan yang tidak bisa dipaksakan, tapi kalau sudah bisa menjawab YA. YA berarti orang itu harus berani menanggung segala resikonya termasuk si pembuat tulisan ini.

Ketika orang sudah dikarunia kata sabar, tidak lain dan tidak bukan bahwa dia sangat beruntung karena semuli-mulia manusia yang sanggup diberi keteguhan hati sebagai wujud puji syukur. Ini memang bukti nyata selama wujud puji syukur tersebut hanya terpanjat dari yang diatas, ALLAH SWT.

Namun ada kalanya jika kesabaran berhubungan secara horozontal antara manusia dan manusia yang hanya diperuntukkan hanya semata-mata untuk memancing emosi seseorang, itu merupakan cerita lain. Itu merupakan sebuah perilaku penyalahgunaan etika yang wajib dibalas.
Panutan orang bijak saja pernah berujar: "bila kamu mendapatkan sebuah bogem mentah seberat 1 KG, maka tidak apa-apa membalas bogem teresbut sebesar yang kamu terima, selagi tidak mengurangi maupun menambahkan bobotnya".

Begitupun untuk rasa sakit, hewan saja tidak boleh mendapat perlakuan kasar dari majikannya selama kebutuhan haknya belum terpenuhi

Pernah tercertus kata sabar dipundak saya letika ibu saya dudk di rumah pesakitan sambil merintih

"sabar yo-le" semua itu ujian, pasti ada berkah,
sambil tertunduk tangis, saya hanya bisa terdiam mengharap kesembuhan tersebut dari yang maha kuasa
Buah pelajaran yang saya petik dari ibu saya adalah Kosakata sabar yang semanis-manisny hidup seseorang amat beruntung.
Yah namanya dunia ini, apalagi manusianya bak Sebuah Gading yan tak retak, kalau semua manusia didunia ini sabarnya 100%, saya yakin tidak ada yang mau jadi kyai, bahkan nirwana nan jauh disana hanya akan berisi orang-orang yang baik budi pekertinya. Tidak ada orang kafir, tidak ada pula orang murtad


Tapi aneh sekali jika hari ini saya harus memuntahkan kembali maklumat tersebut. mematahkan sebuah klaim bahwa sabar hanya dimiliki oleh orang orang berjiwa besar dan berhati terbuka... preketeg.

Manusia tidaklah sempurna termasuk sebuah kolega yang terkumpul dari sekelompok manusia yang kemudian membentuk sebuah organisasi.
Mayoritas sebuah organisasi dulunya kecil lambat laun berkembang dari upaya buru-buru dan menggantungkan faktor komersil tanpa menjunjung azas sabar, coba tebak bagaimana sebuah perangai organisasi tersebut kalau sudah eksis?
Yang pasti secara kacamata orang awam, (seperti saya ) akan berpendapat demikian

  1. Peraturan dibuat, makin banyak memuat, makin banyak direvisi. Dibuat sendiri kok kemudian dilanggar sendiri. Kongsi dan terlihat aneh bukan?
  2. Tidak ada lagi stigma pengayom wong cilik, karena sudah merasa diuntungkan, maka sirnalah kata sabar mengayomi wong cilik
  3. Cuek, angkuh, sombong
  4. Buah pemanis bibir seolah merekalah yang paling butuh. Paguyuban wong cilik-pun hanya sebagai wadah pemimpin organisasi untuk meludah, lambat laun juga akan tersingkir seperti halnya ludah yang terhempas air

Saya tidak akan bicara lebar itu sebuah organisasi apa. Hanya sedikit terhitung jari organisasi yang tetap mantap senantiasa memegang kode etik Kesabaran dan, kerendahan hati.
Ini realita beneran, serius kesamber gledek jika Komunikasilah sanggup menjadi bukti bahwa kesabaran seseorang bisa sangat diakui:

Contoh seorang anak berusia 5 tahun meminta dibelikan mainan, kerana si-anak belum piawai menggunakan bahasa orang dewasa, maka datanglah anak ini menghampiri bapaknya sambil merengek.
Pertanyaannya ialah, "bagaimana tanggapan si-bapak untuk menenangkan hati sang anak?

Tentunya si-bapak akan membujuk rayu dengan sepatah kata-kata=Berkomunikasi kepada anaknya, terlepas apakah mainan tersebut terbeli atau tidak, itu adalah masalah waktu, karena yang dibutuhkan anak hanyalah sebuah jawaban YA-atau TIDAK. itu sudah merupakan niat baik bapak membentuk komunikasi dengan anak.

bener nggak-nya sebuah jawab, biar pembaca yang menilai

Nah coba bandingkan jika si bapak cuma dieemmm aja (maaf: bisu tidak termasuk), bagaimanakah reaksi si anak?
Yang jelas si anak kan menangis.. karena ketersesakan dalam hati si anak belum tersalurkan sepenuhnya. Keduanya juga akan menanggung resikonya. Baik bapak akan dicap jelek oleh anak, sebaliknya anak-pun demikian
Begitupun juga rasa sabar itu. Suatu kekeliruan jika kita selalu dan selalau dijejali kata sabar tapi gak pandai menggunakan.

Sabar memang boleh, tapi kan ada tempat dan porsinya bagi masing orang. Terkadang saya tidak habis pikir, kok masih ada ya orang dengan title, dengan segala yang dimilikinya sekarang masih saja menguji kesabaran sesorang #Ngelus jidat

Intinya hari ini 30 Januari 2013, saya sudah sangat plong, memecahkan kesabaran yang sudah lama saya pendam berbulan-bulan lamanya.

Dengan secara resmi mengundurkan diri sebagai Publisher Idblognetwork, mungkin adalah jawaban terbaik saya. Ini merupakan kontribusi saya sebagi bentuk rasa tidak keadilan tak nyaman karena sudah hampir 5 bulan lamanya pertanyaan sekaligus komplain perihal Script iklan "Raib " tanpa ada Konfirmasi., 

Berulang kali "send" message, maupun bertanya ke fanspage, dan Forum. And this so reallly bad for me. Tidak ada satupun jawaban yang memuaskan rasa keingin tahuan saya.
Alias Innoncent, tidak ada 1 emailpun yang dibalas, begitupun dengan pertanyaan di forum.

hmmm.... CALM
Betapa saya sedang terkekang dengan feedback seperti ini. 1 tahun lamanya bergabung dengan Idblognetwork seperti tidak ada beban, dengan tetap menjalankan pekerjaan kator dan tugas rumah seperti biasa. Namun ketika ada waktu sela, saya kembali melanjutkan berpikir sendiri. Dalam diam, tanpa banyak bicara. Seperti kata Stephen Hawking, " Quiet people have the loudest mind".

Ketika untuk pertama kalinya bergabung bersama Idblognetwork, ada perasaan takjub dan puas karena itulah satu-satunya keberhasilan saya selama ngeblog. Tapi walaupun begitu, saya tetap berusaha agar tidak heboh, tidak mengumbar-ngumbar jika saya tengah bergabung di perkumpulan entrepeneur muda dan tidak terlalu lebay kepada rekan satu tim. Cukup saya sendiri yang tahu.

Saya cenderung tidak menyukai hal-hal yang sifatnya heboh tanpa melakukan analisa terlebih dahulu, Kecuali jika ada bencana tsunami dan orang gila masuk kampung, saya cenderung suka menyelami kepribadian saya sendiri dengan menimbang segala sesuatunya agar tampak santai tanpa harus diketahui banyak orang. Ambil contoh ketika sedang stress dengan sebuah masalah atau pikirang yang menggantung, saya lebih suka berlaku normal seperti biasa, berkonsultasi seperlu saja, lalu berpikir runcing tanpa menggembar gemborkan tekanan yang saya alami. Bisa dibilang sedikit introspeksi, dengan turut menghebohkan diri, belum tentu masalah juga akan selesai bukan?.
Hanya akan membuat kepala menjadi tambah pusing dengan solusi dari orang orang yang kadang lebih sok tahu daripada kita.

Menghadapi beberapa kontroversi, Baik pro dan kontra atas tindakan orang yang sok lebih tahu

Kecuali yang sifatnya kelewatan.... Coba tebak saja sendiri... saya perjelas dari alur pernyataan diatas, mungkin pembaca bisa lebih meresapi kemana arah dan tujuan tulisan ini dibuat

Dan lagi-lagi jawaban, seolah hanya sebagai pemanis bibir saja dan saya sangat kecewa dengan IBN , kalau sudah benar-benar muncul kesan sabar saya, mesti pula mendapat balasan yang menurut saya sangat fiktif dan sulit diterima, lha kenapa jawaban seperti ini baru saya terima. Kompeten. konsekuen atau bodoh?

Idblognetwork Mengecewakan?

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jawaban diatas bahkan seolah-olah tidak mengaharapkan alias betul-betul mengusir. Masa ada jawaban teknis seperti ini, dimana-mana komunikasi seperti ini tidaklah etis, karena pengguna juga punya privacy masing-masing.
Tapi kenapa pula jawaban ini pula yang saya dapat kalau nyata-nyatanya diawal komplain saya 5 bulan terdahulu melalui email tidak dijawab?.

Lebih bijaknya  sebagai admin yang intelektual dan bijaksana, seharusnya teknisnya testimoni seperti ini:
 "Mas heru, sebaiknya anda tunggu email konfirmasi dari kami, selain itu pula akun anda akan kami cek kembali, untuk memastikan pertimbangan dan kebijakan dari admin apakah blog anda layak untuk mengundurkan diri. Maaf atas ke tidak nyamanan ini"

Sabar itu bersumber dari emosi yang diubah menjadi energi Positif. Jika energi negatifnya tidak dapa dinetralisir dengan akal fikiran yang mempertimbangkan konsekuensinya, maka akan tetap negatif. Untuk terhindar dari kejutan Elektron berlebihan, sebagaimana kentut, energi tersebut harus dihempaskan keluar.
Saya rasa anak kecil pun tidak harus menggunakan istilah sabar untuk kentut, karena kentut sifatnya spontan, asal tepat dimana sikentut ini harus dibuang tanpa mengganggu hajat hidup orang lain


BTW jangan lama-lama memendam sabar ya sob, Kalau kalian merasa hidup ini bebas untuk berpendapat, silahkan menuangkan idealisme tersebut sebagai wujud pengaduan demi meluapkan begitu kecewanya menahan sabar yang terlampau lama.


Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 1/30/2013 11:53:00 AM

2 komentar:

  1. Saya merasa memendam suatu rasa atau pendapat justru akan menambah penyakit dan pikiran buat kita.

    Ada layaknya kita langsung tuntaskan dengan cara bersuara kepada orang yang kita merasa dikecawakan,agar semua menjadi puas di hati dan tidak menjadi rasa yang membuat hidup jadi terbayang oleh kesalahan dan kekecewaan tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah terjawab gitu lho pak, karena saya menulis ini bukan berarti saya tidak berfikir. jauh jauh sebelumnya, komunikasi sudah saya jalin dan yang penting, berfikir jernih kadang membuat responn gak stabil ...selama itu belum dicapai.. saya berani berkonsekuensi... sabar ditingkatan berapakah kita??

      trims atas kunjungannya pak budiman :)

      Hapus