Blogermie.com: Fotografi yang Indah Dalam Kesederhanaan Kantong Celana

03 Februari 2013

Fotografi yang Indah Dalam Kesederhanaan Kantong Celana

Akhirnya Blogermie Nulis lagi...heeee@
Yah mungkin ini adalah postingan pertama saya di bulan Februari yang merujuk ke kategori Fotografi. Mungkin beberapa bulan lalu saya memang sedang terlalu asyik membuka tulisan perdana bertema tutorial maupun cerita kolosal bernuansa dilema rumah tangga, sampai-sampai beberapa kategori tertentu sempat mangkir beberapa saat akhir-akhir ini.

Berbicara mengenai kisah, sebagus apapun alur ceritanya, tidak akan pernah menjadi sebuah Nostalgila jika momen-memen tertentu tidak diabadikan dengan segera. Nah, kalau sudah berbicara momen, hal yang lebih uzur terdengar umum adalah bagaimana mengabadikan cerita dalam sebuah bingkai. Baik itu yang Berbentuk lesan yang diperkuat dengan sentuhan objek bergerak/gambar. Sebenarnya tidak ada ungkapan "jelek", kurang presisi" atau "kurang fokus" dalam dunia fotografi, tetapi tergantung bagaimana kita menyelaraskan suasana hati dalam meng-'capture' sebuah panorama.

Jadi intinya biarpun terlalu bagus atau kurang jelek (eh kebalik) kalau seseorang sedang sungguh-sungguh,dalam hati yang lapang dan tidak dalam tingkat psikologi sedang (gak ngamukan)siapa saja pasti bisa.

Bagaimana dengan Fotografi Kamera Digital LSR...?
Tatkala sesorang sudah belajarfotografi, orang akan mudah tersesat membeli perangkat canggih demi menunjang kreatifitasnya memotret, terutama kamera digital canggih dengan segala kemampuan fitur didalamnya. Padahal bukan itu syarat utama untuk belajar fotografi bagi pemula.
Yah.. dalam skala kecil sendainya terdapat rezeki lebih untuk membeli kamera DSLR dengan kemampuan yang terbaik, bolehlah pembaca menyela pernyataan saya ini.

Anggap saja ini terucap dari sisi buruk kepribadian saya: Bukankah kalau membeli kemera mahal, ini hanya akan menguntungkan penjual dan ke komersil-an mereka. Saya yakin sekali, sejak zaman bahole, tidak ada satupun kamera secanggih sekarang ini (kamera yang menggunakan film) dengan kemampuan otomatis. Tak menutup kemungkinan makin banyak kompetitor penjualan alat fotografi yang semakin membuat konsumennya dibuat bingung. Maka dengan mudahnya pembeli-pembeli pemula terjebak dengan mempelajari fitur-fitur canggih didalam sebuah kamera tanpa ada kemauan untuk mengasah ketrampilannya memotret.

Kalau boleh saya flashback lagi ke tahun dimana Leonardo Davinci dilahirkan. Mungkin bagi yang fasih dalam dunia seni akan hafal siapa dibalik mahakarya lukisan Monalisa?
Beliau memang pekerja seni lukis, sangat impulsif dan pandai memfrasekan sendiri alunan nalurinya mengayun kuas demi menorehkannya ke bingkai kanvas. Dan bukan hanya itu saja, didalam beberapa bidang tertentu davinci cukup telaten membuat kanal, sains dan bahkan kontribusinya dalam bidang forensik.
Ini bukan masalah beliau piawai, tapi lebih mudahnya menggambar dengan hati. Arsitektur otot imajinasi yang luas seorang manusia yang hampir nyata. Itulah pencitraan davinci

Sama halnya dengan Fotografi. Bisa dibilang Fotografi itu melukis dengan cahaya. Sebisa mungkin pengguna harus bermain-main dengan pengaturan Contras dan Brightness. dan yang terpenting adalah letak objek sebisa mungkin ternaungi cahaya yang cukup. itu saja sih menurut saya,,,

Ahhhh... diksinya gak mutu, paling kamu juga memakai Kamera SLR
Tidak kisana... Sumpeh disamber gledek
percaya atau enggak sejak pertama kali kamera dengan merek fuji film sangat familir, maka itulah kamera pertama keluarga saya. Kamera jadul tersebut diperoleh kakak sebagai bentuk beasiswa waktu duduk dibangku SMP. Bisa di bilang kakak saya memang mahir menggunakan kamera tersebut

Kelas pemula untuk belajar memotret bagi saya adalah kamera tersebut, sering terbakar itu biasa, tapi tak akan pernah mengubah kata menyesal dalam belajar. Dan terbukti kesekian kalinya saya sudah cukup mempuni dalam hal memotret.

Selama saya memotret. sampai suatu ketika memotret menggunakan Sony Ericsson K660i, bahkan untuk saat ini menggunakan Kamera saku Cybershoot DSC W620, Berikut ini adalah hal dan syarat terpenting bagi siapapun untuk belajar memotret :
  1. Objek gambar yang paling sederhana.
  2. Tidak perlu mengasingkan diri mencari panorama, kalau menurut pambca ada momen biarpun tidak sedang melakukan rekreasi. Tempatnya, kalau mood, sedan relax. maka tinggal potret saja.
  3. Tajamkan Mata dan Imajiner
  4. Seperti halnya Shutter kamera pada saat meng-lock. Seharusnya indra penglihatan harus lebih jeli melihat objek dengan tiba-tiba. membedakan warna asli dan pencahayaan demi mendapatkan hasil foto yang menurut kalian paling mirip. kalau menurut pembaca hasilnya bisa lebih dari mirip, kurang lebih sama dengan objek aslinya.. ok-lah, itu bisa dimulai berimajinasi dari sekarang.
  5. Spontanitas
  6. Ini yang sering terjadi. Kalau ada bahan bagus, maaf-maaf kata nih seperti pernyataan bos romlah') trik ini yang paling banyak dimanfaatkan Citizen journalis (jurnalis warta) seperti memotret kecelakaan, Foto-foto kejadian tak wajar seperti spiritual dan koplak. Atau bagi yang pemula seperti saya dapat Memotret sebuah objek yang tidak biasa sepertinya sangat cocok. contoh foto candid
Ini adalah beberapa jepretan sederhana sewaktu menggunakan kamera ponsel Sony Ericsson K660i beresolusi 2 MP, tanpa fitur otomatis. Foto ini saya ambil beberapa tahun lalu:
    Lafadz Allah di Langit Surabaya | Lokasi: Cito-Surabaya Kisahnya dapat di lihat di halaman Ini
    Cloud in Beauty | Lokasi: di samping rumah
  • Penciptaan yang maha kuasa menganugerahi langit dengan warna Biru. Ini adalah warna teduh dan terkesan kalem bagi mereka yang memiliki Jiwa yang sepi. Mungkin bagi yang mencintai seni, foto diatas bisa saja mengundang teka-teki dan wujud rasa bersyukur
  • Neon Glow dibawah teriknya matahari | Lokasi : Kolam pancing RSAL dr.Ramelan jam 4 sore
  • Efek pantulan cahaya itu anggun. Meskipun mataharinya terik. terkadang saya mencari pengganti untuk menutupi kekurangan overpreasure...yah gampangannya cari objek lain sebagai efek pantul tanpa menghilangkan objek utama
  • Sunset Beach | Lokasi: Pesisir - Probolinggo
  • Kurang lebih deskripsi foto ini sama dengan yang diatas. Hanya saja saya lebih maksimal modus-potrait tanpa menggunakan auto fokus. Panorama jadi lebih berkesan "tinggi"
  • Geladak  | Lokasi: Taman kenjeran Surabaya
  • Spektrum cahaya dan distorsi adalah yang paling saya suka. Agar lebih terasa efek simetrisnya, kadang saya meletakkan kamera tepat  pada garis horison
  • Hari-Sudoki | Lokasi: Omah dhewe
  • Mendapatkan presisi, untuk Memotret anak kecil sedapat mungkin sejajar dengan tinggi badan si-anak. Itu sebabnya saya lebih suka "jongkok"("diki if parents are not there, then I am the spiderman")

Saya amat jarang menggunakan Fitur otomatis. Selain membuat linglung, Menggunakan fitur-fitur otomatis hanya membuat saya makin terjebak dengan teori.
Intinya adalah bagaimana kita memaksimalkan kemampuan memotret. Masalah itu bagus apa tidak, Fitur pasti akan mengikuti dari belakang. Maka sedari awal saya tulis: jika hendak belajar fotografi.. hindari betul dengan apa yang namanya "Fitur Otomatis" dan "pemborosan".
Ibaratkan seorang anak kecil yang belajar menaiki sepeda. bukan tidak mungkin si-anak akan terus terjatuh dan selalu terjatuh. Bukan masalah sepedanya jelek maupun keren, mahal. Toh sepeda tersebut pasti akan tersungkur juga... Tapi hikmah bagi sianak agar terus belajar dan akhirnya dapat menaiki sepedanya dengan baik 
Secara akumulatif, belajar fotografi tidak harus membekali diri dengan kamera super canggih. kamera itu hanya alat, sedangkan alat juga merupakan media yang disederhanakan oleh pembuatnya. Toh tetap tidak mengubahnya sebagai ciptaan manusia. Terkadang kita sudah sangat teledor memaksimalkan panca indra seperti mata untuk menangkap sesuatu yang bagus. Kita sudah terbujuk dengan alat, tanpa peduli jeritan Imajinasi kita sendiri.
Penuh imajinasi..hmmm yah betul...Pergunakan 2 karunia ini sebaik mungkin dalam memadukannya dengan "ALAT POTRET" .

Alat potret gak harus mahal bray... Ada kamera ponsel, bahkan ada pula kamera saku digital. Sepertinya harga kamera tersebut makin hari juga makin kompetitif dan ramah di kantong celana. Itu sebabnya mengapa saya mengambil judul Fotografi yang Indah Dalam kesederhanaan kantong Celana.
Kalau ada yang bisa ditenteng dan dijejalkan kedalam saku celana, kenapa harus meng-kalungkannya dileher? Jauhkah kesan Simple Itu?.

Kecuali pembaca berkantong tebal, dan tengah fokus mengambil jurusan digital printing maupun jasa pre-wedding...beehhhh.. saya gak mau jawab deh ..

Oh ya, jika pembaca tertarik dengan perjalanan fotografi saya, bisa mampir sejenak di halaman Fotofolioku

Sekian dan salam rukun

Judul: Fotografi yang Indah Dalam Kesederhanaan Kantong Celana; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 2/03/2013 09:35:00 AM

2 komentar:

  1. Ini yg saya suka. Kesederhanaan, simple, ringan di kantong.
    Terus terang saya tidak faham dan tidak sempat belajar fotografi. Belakangan dirasa perlu untuk sekedar menambah "cerita" dari satu postingan blog. Terkadang saya pakai kamera hp saya. Tapi seringnya pake kamera saku yg suka saya bawa2 kalo lagi santai jalan2. Kamera saku saya juga gak mahal, gak sampe 1 juta harganya. Hanya Canon Powershoot A2200 saja. Kecil, ringan ditenteng, hasilnya oke lah untuk penghias postingan blog.

    Nah, membaca postingan ini saya jadi berkeinginan untuk mengoprek banyak fungsi yg belum saya fahami pd kamera saku ini...

    Terima kasih sharingnya.

    Salam blogger,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Canon milik abah gak kalah keren dengan kamera caggih sejenis. Saya juga gak kepikiran beli kamera itu. hehehe. tapi salut buat abah, makin dewasa makin bijaksana nulis artikel . itu yang saya pelajari dari anda :)

      Hapus