Blogermie.com: Aku Yang berubah Haluan Gara-gara WEBE #1

24 Maret 2013

Aku Yang berubah Haluan Gara-gara WEBE #1

Tak terfikirkan sebelumnya jika suatu hari nanti diri ini menjadi apa. Jauh-jauh hari dimasa belum mengenal ngeblog, saya masih belum mahir menulis di media konvensional seperti buku sekolah, untuk kemudian mengkombanasikannya dengan pola-pola gambar, kartun, maupun kurva yang tidak jelas.

3 tahun sekolah dengan memiliki naluri aneh mencoret-coret sampul belakang buku SMP, mulailah saya menyukai aktivitas terbaru yakni membaca-menulis. Hampir waktu istrihat sekolah menjelang, saya lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan ketimbang dikantin (uang saku waktu tahun 1997 receh Rp.100,- saja) hanya untuk membaca buku dengan kategori tertentu yang saya suka. Buku tersebut yang diantaranya, pertanian, komik Dragon-ball, Digimon, Ensklopedia, Novel Kahlil gibran dan cerpen (waktu itu cerpen Lupus karangan Hilman Hariwijaya adalah cerpen terfavorit saya).

Mungkin istilah baru berkembang di dekade ini, metode coret-coret yang dikenal senagai doodle berpadu dengan kegemaran terbaru saya menjadi penulis suka-suka, baik secara kasat mata terlihat, maupun beberapa hasil pemikiran sendiri yang simbolis dengan ketersesakan diri.
Kalau ada sesuatu yang membuat saya merasa tumpang tindih, jengkel dan kurang sinkron, langsung saya tulis. Kalau dapat materi pelajaran pas gurunya galak, semuanya juga dapat bagian untuk saya plot kembali menjadi sebuah kisah.

Itulah diri saya. Segala sesuatu yang nampak sedap maupun unik selalu menjadi perhatian nan menarik

2001, adalah tahun yang membuat saya menyukai hal-hal yang berbau intelektual, karena yang saya alami sebagai bocah yang selain fokus sebagai pelajar menengah kejuruan, saya juga semakin asyik mengeplorer tutorial untuk kemudian saya tuang kedalam sebuah tulisan.
Pernah suatu ketika saya ditertawakan oleh rekan sebangku karena terlampau sering membawa buku saku. Tak tanggung-tanggung, di saat pelajaran olaharaga, pada saat jam kosong, maupun usai materi praktek kejuruan-kelistrikan-pun, saya mengisi kevakuman yang ada dengan menulis.

dia bilang:

Kowe nulis opo her, khan materi Tune Up motor sing penting prakteke, lapo mesti ditulis maneh:

Saya cuma tersenyum kecut, sambil melambaikan tangan.' ah sudahlah, justru iku, aku iki wonge lalian, praktek mesin motor, aq tulis lagi.

Aneh, itulah yang difikirkan rekan-rekan terhadap saya. Namun tak pelak semua itu tak lantas mesti dihindari. Rekan-rekan semakin segan dan menyadari bahwa ideologi saya ketika sudah duduk di bangku SMK kelas 2 yang kala itu ternyata berguna bagi diri mereka sendiri. Pola fikir saya akhirnya berlaku bagi mereka dan mulai condong memberdaya-gunakan kertas/buku sebagai media menulis analogi, terutama selama praktikum.

Mungkin pemirsa tahu kalau siswa SMK kebanyakan malas membawa buku, tapi disekolah saya, stigma itu-pun kandas dengan sendirinya, biarpun yang mereka bawa hanyalah 2-3 buah buku saku.

Disaat bertambahnya usia juga berpengaruh terhadap pola pikir seseorang yang kian matang, saya mulai berhenti menulis sejak meninggalkan bangku SMK demi memutuskan untuk merantau mencari mata pencaharian sendiri.

Sebagai kuli pabrik, saya tidak memiliki daya apa-apa dengan apa yang dilakukan bapak. Bapak menimbun semua berkas-berkas catatan saya dan menjualnya ke tukang rombeng. Karena jujur, tak ada jawaban lain selain inisiatif bapak agar roda perekonomian tetap berjalan.

Kehidupan keluarga saya yang miskin waktu itu, menghapuskan semua memori saya sebanyak 2 kardus Indomie untuk dijual. Saya cengeng, menangis dan tidak sanggup menatap mata ibuk saya dengan harapan mengiba kepadanya.

Sementara ke-3 sodara saya yang lain cuek. Secuek-cuek manusia yang tidak memiliki rasa bertoleransi, membiarkan sodara sedarah mengalami keadaan demikian. Bahkan ke-3 sodara saya dibilang amat disayang bapak, Karena dari ke-3nya, 2 diantara kakak laki-laki cenderung memilih mengejar nilai akademis dengan biaya sendiri. Saya tidak beruntung karena tidak bisa melanjutkan kuliah.
Saya sebagai pria sendu waktu itu, hanya berfikir untuk membanting-tulang demi membantu perekonomian keluarga tanpa peduli lagi dengan kehadiran 3 sodara saya.

Bersambung kehalaman http://www.blogermie.com/2013/03/aku-yang-berubah-haluan-gara-gara-webe-2.html
Judul: Aku Yang berubah Haluan Gara-gara WEBE #1; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 3/24/2013 04:41:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar