Blogermie.com: Winda, Gadis Antioksidan #2

30 Maret 2013

Winda, Gadis Antioksidan #2

Sungguh, saya tak akan mengira menulis anekdot ini lagi. Antara bimbingan, dan cemas apabila amarah yang pastinya akan menimpa soulmate jika sampai terbaca olehnya.

Jujur, antara 2 sugesti timbul melalui menulis ini. Takut jika pengalaman ini saya akan bersebrangan dengan asumsi istri, takut pula jika seseorang menjadikannya sebagai alasan menduakan tjintanya kepada orang lain. Jadi saya harap pemirsa yang harus pandai mengambil kendali. mana sisi positif, maka itulah yang layak diambil

Jika pemirsa sudah membaca cerita Gadis Antioksidan Season pertama. cerita ini adalah cerita sambungan sekaligus pelajaran yang dapat dipetik dalam membina sebuah persaudaraan tanpa harus memusnahkannya dengan pertengkaran.

Di-episode yang lalu, Saya yang dianggap pria tak bertanggung jawab oleh winda, hanya sanggup melenggangkan muka pertanda bahwa itulah pencitraan karakter siluman seorang blogermie.

Selama perkenalan 1 bulan lamanya, baik saya maupun winda masih gengsi jika harus mengobrol didepan orang banyak, terlebih jika membeberkan rasa bosan yang dialami. yakin dirinya pasti muntah.
Sementara saya, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Apel pagi dimulai begitu peluit dibunyikan. Beberapa karyawan-karyawati terlihat sibuk mempersiapkan diri termasuk saya. Dengan membasuh rambut yang kering dengan minyak cap "Kran air" agar tatanan rambut tidak rusak dan sedemikian rapi, saya bergegas menuju lapangan dengan terburu-buru.

Winda pun begitu, bersolek dan membenahi tatanan hijab agar bros penitinya tidak "menclek", Sambil merapatkan barisannya dengan rekan yang lain

Apel pagi yang syarat dengan terik matahari sekan membuat kulit terasa terbakar. hampir peluh yang ada terasa membasahi dahi. Sampai Keringat yang deras itu juga mulai mengalir di sela-sela Paha. Rasa Gerah bercampur gatal disekujur selangkangan, membuat saya merasa seperti sedang mengalami menstruasi.

Dalam hati saya berfikiran: "pasti ini gara-gara CD terlalu ketat"

NB: Kalau intrik cerita ini bisa sobat persoalkan sendiri,mungkin inilah pengalaman pertama bagi blogermie untuk mengalami PMS gara gara CD GT_man Impor.

Disaat kondisi kritis ini menghampiri, saya mulai mencuri-curi akting. Inisiatif pria edan dengan menggoyang-goyangkan pinggang tanda tak nyaman, dengan sedikit senam kejang, berharap bisa memperbaiki sebuah keadaan.
Namun beruntunglah disaat yang tepat, Konco-plek saya yang bernama asrofil, langsung mencolek dan memberikan isyarat agar secepatnya berpamitan kebelakang (wc), sambil menyahut:

"Cak, lek kudu ngoyo, ndang nang WC her, ojo nggilani.."( Mas,..!! kalau mau pipis, mending ke WC, jangan jijay...!)

Btw, Kamar mandi ini posisinya tepat dibelakang lapangan apel. Persisnya di pos penjagaan

wkekeke, ternyata rekan saya yang satu ini cukup piawai membaca situasi.
Tanpa buang waktu, saya langsung pamit ke wc dengan maksud membenahi posisi si-buyung agar tidak terlalu lama tersiksa

Dengan susah payah berlari, saya sudah berada tepat di pintu kamar mandi. Ternyata apa hendak dikata, Pintu kamar mandi dalam keadaan terkunci dari dalam. Saya yakin pasti ada orang yang entah buang hajat disitu.
Mulai perasaan cemas tidak terkendali. Sambil mengetuk-ngetuk pintu, saya berharap empunya segera menampakkan diri karena kulit ari si-buyung sepertinya sudah sangat mengelupas dan tak sanggup ditoleransi. Paling tidak dengan mengguyurnya dengan air, semuanya bisa terlampiaskan... Cool.

krieeekkkk........(suara ilustrasi pintu kamar mandi yang sedang dibuka).

Saya kaget, apa yang terlihat dihadapan saya tak lain dan tak bukan adalah si winda. Tanpa banyak berinteraksi, saya cuma nyengir sambil nyeletuk:

"Aduh suene seh mbak...."!! (Aduh, lama banget seh mbak...!!)

Aneh, tanpa tedeng aleng-aleng, si-winda tidak membalas satu ucapan-pun dengan sikap emosional. Tapi dia memilih tenang, untuk kemudian mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang.

Win"...Maaf atas semuanya

Saya yang sedang asyik menghalau rasa terbakar juga tidak berfikir banyak menjalin komunikasi. Setelah masuk kekamar mandi, cebok dan membetulkan posisi si buyung, saya langsung keluar kekamar mandi dan berusaha menuju barisan kembali.

Tapi langkah itu berhenti seketika, saat melihat winda duduk sendiri dengan rada selonjoran. Yang tak luput dari penglihatan saya waktu itu adalah seutas perban, terlilit di antara jempol kaki kirinya.
Ini pasti karena perisitiwa tempo hari yang lalu hingga keadaanya seperti ini. Mulailah timbul jiwa pengayoman wong cilik blogermie untuk pura-pura memberikan perhatian. Sambil melewatinya dengan keadaan membungkuk, bahasa kromo inggil pun terlontar dari bibir saya:

"Nuwun sewu jeng, Njenengan mboten tumut apel tah"? (Permisi mbak, mbak gak ikut apel?)

Dengan tersupi, winda hanya tersenyum, sambil mengayun kakinya: "Mboten mas, sakit, jadi gak bisa ikut"

"Ohh sakit, kok bisa sih"...- tanya lagi(*pertanyaaan pura-pura bodoh demi menghindari alibi)

"Ohh iya mas, gara-gara sampean bekne....- ujarnya.
-----------------------------------------------

Toeeeengg...... akhirnya jawaban inilah yang membungkam pertemuan kami.
Tak dapat dipungkiri, saya tidak dapat menutupi penyesalan tersebut dan akhirnya mengucap maaf hari itu juga. Bersyukur pula, winda sudi menerima permohonan maaf dengan senyum yang bijaksana.

Dilain pihak, ada sebuah ucapan istimewa bagi blogermie untuknya. Karena semenjak pertemuan itulah, Kami semakin dekat satu sama lain. Winda akhirnya jadi lebih aktif bicara secara karakter, rentan interupsi, dan suka bercanda. Disamping keuntungan yang saya dapat ialah berhutang pulsa jika sekali tempo, kantong saku sedang paceklik secara finansial.

Konflik cerita yang mengandung makna ANTIOKSIDAN akan saya ulas di cerita selanjutnya.


Bersambung.........

Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 3/30/2013 09:16:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar