Blogermie.com: Hidup yang Tidak Pernah Sia dan Men-siakan

13 April 2013

Hidup yang Tidak Pernah Sia dan Men-siakan

Hidup..ya beginilah Hidup. keadaan dimana kita sendiri merasa betah dengan apa yang kita lakukan didunia. Segan memakan sesuatu apapun itu, kemudian berpuas diri seolah mati-pun tak sanggup disaat suasana hati sedang Move-On.

Hidup yang diselingi dengan 2 kubu yang bersebelahan. Antara Kebaikan dan keburukan.
Terkadang sebagai individu, kita dipilih menentukan 2 jalan tersebut dalam keadaaan terpaksa. Ingin menjadi Baik pada saat bersemangat, atau Sebaliknya. Memilih jalan sesat pada saat situasi darurat

Jika 1 orang sudah berinisisasi menjadi baik, maka dengan seterusnya, yang lain juga akan merasakan keuntungannya. Dimana pada waktu yang bersamaan, orang baik inilah yang akan menjadi pelopor disertai banyak pengikut dibelakangnya.

Demikian juga sebaliknya Orang Jahat, Begitulah saya menafsirkannya. Disaat seseorang ini berperilaku menyimpang dari kaidah dan etika, maka orang lain yang berada didekatnya akan merasakan getahnya.

Sori nih jadi curhat...

Beberapa akhir-akhir ini baik dikantor maupun dijejaring sosial, banyak saya temui orang stress (*kebanyakan depresi akbiat ulah sendiri: banyak hutang, perpecahan, intrik,perselingkuhan). Perilaku aneh dari tabiat yang dulunya menyenangkan bagi mereka yang dianggap keren, jablay pada akhirnya akan berbanding terbalik dengan yang dialaminya. Karena saya yakin hal yang tabu, tetap akan menjadi tabu biarpun sekenarionya disusun secara rapi. Hukum karma akan tetap berlaku ibarat menyemai benih.

Kalau semaian benihnya bagus, niscaya tumbuhnya juga bagus. Kalau benihnya jelek, maka tumbuh kembangnya tidak akan bisa sempurna dan malahan bisa menjadi buah simalakama yang berujung malapetaka.

******************************

Pekan ke dua, 1 Minggu yang lalu, saya sempat reuni dengan beberapa alumni sekolah saya dulu. dicurhati seseorang rekan lama yang dulunya memang sama-sama masih akrab. Saking akrabnya, Saya menempel ketat dengannya seperti Homo guna mencari pengakuan jati diri agar modal menjadi pria moderen bisa terkabul.
Petuah bijaknya ternyata sangat bermanfaat  ibarat karunia suci bagi saya untuk menjadi manusia yang memiliki dedikasi sejak saya memberanikan diri menikah dini

Kalau dulu dia memang menjadi pioner sekaligus pembimbing dan selalu saya puja-puja, Keadaan seolah berbanding 360 derajat setelah hampir 5 tahun tidak bertemu dengannya. Badannya jauh lebih kurus, wajahnya juga terlihat semakin menua. Terlihat sangat jelas kerut-kerut didahi walaupun secara kasat mata usianya hampir sama dengan saya saat ini.

Berjam-jam lamanya saya mengobrol, menceriterakan kehidupan kami sesudahnya. Kalau saya sudah cukup puas menikmati hidup dengan didampingi seorang istri jadul (ely the gembel) yang sederhana, Maka rekan saya ini hanya memilih diam. Biarpun tengah beristri, dia sepertinya ragu mengutarakan maksud hatinya kalau kehidupannya sekarang ini jauh lebih berantakan dari impian.

Setelah mendesaknya cukup lama, akhirnya saya dapat menelusuri riwayat kehidupannya. Mencengangkan bagi saya, karena buah pernikahan rekan saya ini berasal dari hubungan gelap. Disinilah peliknya persoalan datang secara beruntun. Rekan saya ini terlanjur menghamili wanita yang begitu disukainya hingga timbul Fanatik LKMD (Lamaran Kari Meteng dhisik)

Dengan egoisme tinggi, dia memingit, menyekap wanita pujaannya agar orang tua si-wanita merestui hubungan mereka. Sementara si-wanita tetap saja bodoh bagi saya, karena dia dengan mudah memberikan mahkotanya kepada rekan saya ini tanpa memperhitungkan karma apa yang didapat suatu hari kelak.

Restu kedua orang tua si wanita telah mereka kantongi. Meskipun tidak ikhlas tapi namanya orang tua tidak ingin kehidupan anaknya sengsara, mereka berdua dinikahkan dengan modal seadanya yang bersumber penghasilan Orang tua dari pihak mempelai wanita. Hanya bekal pak penghulu, beberapa saksi dan ritual syukuran-kecil kecilan, mereka berdua syah dinyatakan sebagai Pasutri.

Tahun-tahun berikutnya, rekan saya ini berubah perilakunya, Dia lebih suka uring-uringan. Ditambah lagi statistik pekerjaannya yang tidak menentu. Kadang berprofesi sebagai kuli bangunan, Karyawan swasta untuk kemudian di-PHK, atau alasan unik yang dia lakukan dengan serba keputus asa-annya. Hingga jalan yang difikirkannya hanya ingin menganggur dan memperdaya istrinya untuk "Nyambi" berjualan roti kering maupun gorengan di sebuah sekolah SD inpres.

Sebenarnya saya sendiri muak mendengar ceritanya, seolah tidak ada yang bisa dibanggakan dari rekan saya tersebut. Yang membuat saya terkesima justru adalah Istrinya-lah yang menjadi tulang punggung keluarga selama ini.
Sementara rekan saya sendiri memilih menjadi benalu dan makin membuat saya naik darah dan malah ingin menjotosnya ketika profesinya sekarang lebih memilih menjadi seorang penjudi.

Rekan saya memang sangat menyesal. Menyesali kedurhakaan yang dilakukan kepada mertuanya untuk tiap kali meminta jatah beras. Dia lebih menggantungkan hidup dari kucuran dana kedua mertua-nya. Disamping terjerat hutang yang tidak sangggup ia bayar kepada Debt Collector.

Rekan saya mengakhiri ceritanya dengan sesenggukan, Bingung mencari jalan keluar. Sementara saya memilih diam sesaat, berusaha mencari solusi terbaik untuknya.
Saya hanya bisa melontarkan kata-kata kasar namun mendidik agar rekan saya ini bisa berfikir:

*(Saya translate ke bahasa indonesia saja biar keren)

"Kamu Bodoh!!, kalau ada jalan yang baik, kenapa harus dengan berjudi?"

"Semua pekerjaan apapun itu berkah kalao niatnya demi menafkahi istri dan anak, jadi kuharap kamu Istiqomah saja, dan berhenti dari kebiasaan itu dari sekarang."

"Kalo aku jadi kamu, sebenarnya aku kudunya yang harus malu dengan istriku. Laki-laki kok bisanya bawa K***l tok!!!

" Sadarrrrr!!!! Hidup itu memilih...Kalau kamu memilih jalan itu terus menerus. Sori Aq gak bisa bantu. Tapi kalao searah, aq bisa bantu"


Berselang beberapa hari kemudian, saya beserta istri berinisiatif berkunjung ke-kediamannya. Sesampainya disana ternyata keadaannya memang jauh lebih mengenaskan. Istrinya yang sakit-sakitan hanya dapat menjamu kami dengan ala kadarnya. Sementara suaminya yang menjadi target saya bersilaturrahmi malah sibuk dengan aktivitas sabung ayamnya di pekarangan rumah tetangga.

Setelah berbicara panjang lebar dan menceriterakan semua yang dialaminya sama persis dengan yang diceritakan rekan saya, saya berfikir, inilah buah simalakama tersebut.


Istri saya menyela percakapan yang ada dengan menyisipkan sebuah amplop beserta menyodorkan sedikit oleh-oleh kepada ibu ini sambil berkata:

"Jangan memberitahu suami anda ya buk kalau ini pemberian dari kami, ibu simpen saja sendiri amplopnya. Mungkin berguna lain hari."

Ibuk makin dibuat bingung dengan perlakuan spesial ini berkata:

"Apa ini mbak Gak usah merepotkan"
"Sudah diterima saja.Tidak apa-apa" Sahut istri saya menyanggah

Sementara saya makin memperkuat analogi istri saya agar amplop itu dapat dipergunakan menafkahi keluarga. Saya tidak ingin amplop itu dirampas oleh teman saya sendiri hany demi melampiaskan nafsunya untuk berjudi:

"Udah buk, terima saja. ini semata-semata dari yang diatas. Mungkin akan lebih mulia jika anda yang pegang daripada terbuang sia-sia untuk berjudi"

Ibuk yang terlajur kalut dengan kesedihannya itupun hanya bisa menyesali perilaku suaminya, sambil berkali mengucap maaf:

"Matur sembah nuwun sanget mas".
Sebenarnya mas Joko(*bukan nama sebenarnya) itu baik, cuma sayang, dia stress semenjak ibu dan bapaknya meninggal. Dia lebih suka bergaul dengan pemuda kampung sini yang kebanyakan pengangguran". Saya minta maaf sekali jika suami saya sering merepotkan a
nda


Saya sangat terharu dengan perjuangan ibuk ini. Disaat situasi genting apapun, dia tetap tegar menghadapi keluh kesahnya. Namun yang seharusnya lebih piwai dan kudu menjiwai tugas tersebut harusnya figur suami atau laki-laki bertanggung jawab. Kalau saja Teman saya bisa sportif seperti halnya istrinya mungkin saja saya tidak akan memberinya sebuah pelajaran yang berharga.

Yah, bisa dibilang Pelajaran berharga yang jauh lebih bermanfaat dari rasa sakit. Karena diwaktu yang bersamaan, sesudah mengakhiri pembicaraan dengan istrinya dirumah, saya minta izin keluar berpura-pura membeli sebungkus rokok. Padahal yang saya lakukan saat itu adalah menghampiri rekan saya itu dan langsung mendaratkan bogem mentah tepat ke mukanya disaat dirinya sedang asyik menikmati Judi sabung ayam.

Secara fisik, dia akan jatuh tersungkur dalam keadaan tidak siap. Waktu yang ada tidak serta merta saya pergunakan untuk berdiam diri, dengan meraih ember berisi air kubangan got, saya langsung menyiramkan kekepalanya agar dia cepat sadar dan berharap membangkitkannya dari kematian. Sementara Gelak tawa para penonton yang tadinya riuh dengan tepukan tangan bersayap menikmati perjudian, untuk sementara berhenti sejenak.

Orang orang disekeliling saya terlanjur tunggang-langgang meninggalkan tempat lantaran mereka berfikir terjadi sebuah penggerebekan. Bersyukurlah berkat modal tampang pas-pasan dan potongan Agus (AGAK GUNDUL SEDIKIT) yang saya miliki, bekal ini yang cukup membantu popularitas polisi gadungan.

Hanya sayup-sayup terdengar ketakutan mereka... Plisi,,polisi,,, kaburrr

Teman saya hanya berdiam, tidak membalas. Saya berhasil menarik kerah bajunya jika keadaan terpaksa dan memberikan pengertian setelah mempertemukan dengan istrinya.

Dia tertunduk malu tanpa banyak berkomentar. Sebenarnya saya juga tidak ingin menjadi psikopat dengan bertingkah setega itu, tidak ingin pula mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Tapi hikmah inilah yang dapat dengan segera terselesaikan berkat cara laki-laki antar sesama teman.
Memberitahukan sekaligus penekanan bagi para pria seperti rekan saya jangan hanya dapat menistai seorang wanita tanpa memberikan nafkah.. itu saja...

Ini bukan tindakan pahlawan yang membuktikan saya seorang jagoan. Tapi naluri seorang teman yang tidak ingin rekannya salah langkah menjalani kerasnya hidup

Hidup jangan disiakan kawan. Manfaatkan sesuatu yang berguna dengan hal positif yang menurut kalian lebih efektif dan efisien, tanpa harus merugikan orang lain.
Bertindak bijaksana itu tidak harus dengan ucapan kata-kata. Jika memungkinkan Fisik sebagai sikap pejantan tulen bertujuan baik, itu akan syah-syah saja.

Salam rukun
Judul: Hidup yang Tidak Pernah Sia dan Men-siakan; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 4/13/2013 07:57:00 AM

3 komentar:

  1. Kunjungan perdana sahabat,,,
    Ikut nyimak saja sekalian ingin memberikan informasi untuk sahabat blogger smuanya,
    Kontes Review untuk mendukung penghijauan bumi tinggal 10 hari lagi.
    Berhadiah JUTAAN rupiah lho....
    Kontes ini bukan kontes SEO murni jadi dapat diikuti oleh siapapun....

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. amin juga pak...:)sukses pula dengan lombanya

      Hapus