Blogermie.com: Antara Sahabat, Pregnancy, dan Balas budi ( Trully History 1)

11 Mei 2013

Antara Sahabat, Pregnancy, dan Balas budi ( Trully History 1)

Saya belum pernah merasakan ketenangan seperti itu. Hari dimana saya bisa menerjemahkan sebuah kalimat-kalimat mutiara dari seorang teman biasa, yang kini secara tidak langsung sudah saya anggap menjadi anggota keluarga.

Mungkin kalimatnya sederhana, "komitmen, dan Balas Budi" ditengah Usia kehamilan yang makin menua. Terkadang untuk melihat sisi baik seseorang, kita perlu bercermin pada diri sendiri. Apa yang kita semai, maka itulah yang akan kita pungut hasilnya.

Terkadang saya berfikir dan mengabaikan semua yang saya berikan terhadap orang lain dan bersifat sepele.  Apapun yang saya kontribusikan kepada teman, entah dalam bentuk ejawantah, support, apapun itu akhirnya berimbas terhadap balas budi yang cukup besar bagi saya untuk memaknai secara harfiah.

Memang di hari kemarin terdapat sebuah fenomena unik. Selain fenomena gerhana matahari yang muncul di sebagian wilayah surabaya dan berakibat munculnya tradisi kolot masyarakat jawa untuk menjalankan syukuran kecil-kecilan bagi semua wanita yang tengah mengandung, ada pula fenomena syukur yang sulit diungkap dengan kata-kata.

Seperti kemarin, 10 mei 2013. Setelah usai mengundang ibu-ibu tetangga yang lain untuk hajatan, Pukul 13.27 siang, Sang istri mengalami kram perut. Jelasnya hal ini membuat perasaan heboh seisi rumah, mengingat kondisi terakhir sang istri ketika menyambut kepulangan saya terlihat nampak sehat wal'afiat.

Diawali dengan BAB yang  kalau dalam bahasa jawa=boker atau Ambein "BEDEGELEN". Sang istri tidak mengetahui jika terlalu mengejan sangat tidak dianjurkan bagi yang hamil tua, apalagi bukan waktunya melahirkan. Sesaat menyelesaikan BAB dengan menyisakan "benda padat" secara tuntas tanpa bersisa, barulah sang istri merasakan nyeri di perutnya. Terbilang cukup singkat memang, tepatnya jarum jam menunjukkan pukul 14.31 Siang.

Saya berfikir, Mungkin ini sudah waktunya bagi "adik" untuk menyambut dunia. Lebih tepat mungkin, saya menafsirkan jika sang istri mulai menunjukkan pertanda akan datangnya kelahiran. Biarpun ini masih menunjukkan gejala, tapi saya dan istri sudah cukup merasakan kebahagiaan karena aktivitas si adik bisa dibilang sangat hyperaktif, dan sangat sehat di alam kandungannya. Tendangan, pukulan, yang dilakukan si adik dari dalam, cukup memberikan bukti kalau dirinya mulai tidak kerasan dalam rahim ibunya.

Segela perlengkapan sudah saya persiapkan betul 5 menit kemudian. Tapi saya masih ragu-ragu memberangkatkannya kerumah sakit, karena dari yang saya tahu. Kontraksi palsu memang sering terjadi jika kandungan bayi sudah cukup umur. Kontraksi seperti ini biasanya didahului dengan rasa kram, Ingin buang air seperti tidak tertahan.

Jeda kram memang tidak teratur, kadang berdurasi 30 menit, kemudian lenyap. Rasa kram juga terjadi 20 menit setelahnya kemudian raib begitu saja. Hingga peristiwa ini terjadi berulang-ulang sampai pada keputusan saya untuk memberangkatkannya ke rumah sakit Ramelan jam 17.00.

Dalam situasi seperti ini, kepanikan memang seringkali terjadi. Apalagi jika tidak memiliki Mobil pribadi, satu-satunya solusi yang harus ditempuh memang harus menggunakan Taxi. Tapi tak terbayangkan jika harus menelpon layanan taxi, sedangkan pasien diharuskan menunggu penjemputan 15-30 menit lamanya. Kembali saya dibuat bingung dengan Tidak mengharapkan bantuan orang lain. Sementara pinta istri saya : agar Jangan selalu merepotkan orang lain, jangan minta belas kasihan orang lain, dan Selalu Mandiri

Akhirnya, saya melesat menggunakan motor, mencari rental Mobil terdekat untuk menyewa kendaraan mpv. Entah kenapa begitu tiba di halaman rental, SMS dari salah seorang teman berbunyi sebuah pesan:

"Mas heru, kalau butuh apa-apa saya, hari ini mobil saya nganggur, Saya juga kebetulan mau pulang ngantor. Tak kesana jam 5-an". 

Ttd Fanta

Sungguh pesan ini merasuk ke relung naluri saya. Meskipun dalam hati bergejolak semata mata tidak ingin merepotkan orang lain. Saya mencuekkan saja isi sms tersebut.

Sementara Istri masih cukup kuat menahan sakit, saya pulang membawa mobil pinjaman. Tapi terkaget dengan kehadiran teman bernama fanta yang datang lebih dulu dengan membawa mobil Mini Van daihatsu Zebra. Teman saya menyambut dengan hati sedikit dongkol juga karena saya tidak membalas SMSnya. Dan rada getun berkata:

Mesti Iki mas heru... Ayo mas... saya bantu. Pintanya

Wah, sori yo mas. Aq gak enak sama sampean. Gak ingin merepotkan teman. jawab saya singkat

Sementara teman saya ini tidak banyak berkilah seolah menyanggah percakapan saya:

Mending sekarang aq ae mas yang nyetir.Lagipula sampean belum punya SIM, dan cukup nemeni istri sampean di jok belakang.

Lha iki mobile mubazir mas fanta..? tanya saya

Sudah, yang penting. Sekarang sampean siapkan semua. masalah mobil xenia ini, kita urus nanti setelah ndek rumah sakit ae. jawabnya singkat


Hmm.. saya betul-betul bingung. Disaat-saat kritis seperti ini, saya masih bisa memikirkan perasaan seorang teman.


Bersambung...
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 5/11/2013 08:15:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar