Blogermie.com: Menjadi Islam tanpa Harus Mengolok

08 Mei 2013

Menjadi Islam tanpa Harus Mengolok

"Akeh kang apal, Quran hadise...
Seneng Ngaferke marang liyane.,.
Kafire dhewe ora digatekke..
Yen isih kotor ati akale"

Itulah penggalan pepujian almarhun Gusdur yang sering saya dengar ketika adzan magrib belum dikumandangkan. Tapi yang tersyirat dari beliau memang begitu mengena dengan sejarah peradaban Umat islam untuk sekarang ini

Maksud dari terjemahan gusdur diatas kurang lebihnya bagi penganut islam yang belum Toreqot, memaknai setiap ayat yang tersirat untuk mengamalkan kepada diri sendiri, kemudian berwujud interaksi dengan yang lain. Tentunya jika belajar Islam secara luas bukan lagi belajar syariat pada umumnya. Tidak pernah berhenti untuk naik tangga berikutnya.

Banyak yang mengaku sudah Islam, sudah penghafal alquran, dan sangat fasih bicara keislaman. Namun kenapa masih ada perseteruan dan adu pintar dimana-mana. Lantas kadar islamnya sampai mana?

Sebenarnya tulisan ini cukup berat bagi saya, karena saya cenderung menyukai topik yang sederhana. Ini hanyalah mengenai cara berfikir orang indonesia (yang digadang-gadang sangat priyayi) namun sangat terbilang aneh dan sangat tendensius
Kalau sudah merasa pintar dari yang lain, cenderung mendawuhi orang di bawahnya. Terlebih untuk urusan yang bersifat spiritual.

Ketika saya membaca sebuah artikel untuk pertama kali, memang secara naluri ada semacam feeliing takjub. Dan ingiiiin sekali berkenalan dengan admin atau yang menulis konten bermanfaat tersebut. Saya pun menyiapkan dukungan, argumen, dalil(sesuai kapasitas saya) untuk membenarkan apa yang tertulis di blog tersebut. Bahkan ingin sekali ikut membuka kebenaran agama dari orang yang nulis tsb.

Semua argumen, ayat, pasal hingga butir kebenaran sudah saya persiapkan dengan sempurna. Namun disaat akan saya akan posting (tinggal tekan send), Saya kembali berfikir "PANTES G SAYA NULIS SEPERTI INI?".

Secara sadar saya pribadi adalah mahluk mujur yang diciptakan agar bisa berfikir mana yang baik dan mana yang buruk. Apakah saya jika menulis tanggapan akan menjadi bijaksana seperti mereka?.
Sedangkan cita-cita saya adalah ingin menjadi orang baik tanpa menyakiti perasaan siapapun ( dulu suka dengerin cerama Almarhum Ustd Uje' ).

Bagi saya, blog atau situs, sangat tidak layak sebagai tempat memuji debat keimanan apalagi jika itu sudah menyangkut keyakinan. Dan sudah dapat ditebak, isi dari site tersebut hanyalah caci maki, gotok-gonto'an dan berisi hal-hal gak penting lainnya.

Memang diakui, salah satu cara untuk menyebarkan ajaran agama adalah dengan cara syi'ar secara tertulis, tapi bukan dengan cara melakukan pembenaran diri. Biarlah mereka yang rusak membenahi diri secara berangsur angsur seperti turunnya alquran untuk pertama kali, selama pemiliknya juga berusaha memperbaiki diri dan tidak semakin membusungkan dada pertanda takabur.

Saya berfikir, saya makhluk yang tidak sempurna, tidak ada unsur ikut-ikutan membenarkan mereka yang bersalah, karena saya sendiri (termasuk orang lain) mungkin punya noda yang sifatnya kecil.  Bisa jadi orang yang kita ledek keimanannya lebih mulia dari kita. Maka itulah sebuah bumerang

Ok-lah, anggap sesuatu yang ditulis sesuai kapasitasnya seorang muslim, menambahkan dalil yang betul betul menguatkan Islam sesuai ajaran Rasulullah. (sampaikan kebenaran itu walaupun cuma 1 ayat).
Tapi bukankah sederhananya sebuah tulisan tanpa memperkeruh keadaan dengan hal-hal yang menurut saya sepele dan Terlalu hiperbolis.

Saya juga sangat yakin jika berdakwa seperti ini(menjelek-jelekan kadar keislaman orang lain), tidak akan membuat seseorang yang diejek akan bertambah lemah imannya, justru malah semakin yakin bahwa yang menulis adalah orang yang belum faham dengan ajaran agamanya sendiri.
Biar kata penulis tersebut sudah faham dalil dan hafal hadist, Tapi menurut saya yang paling parah, orang tersebut masih belum bisa dikatakan islam yang menunduk secara toreqot. Descriptive dan quantitative-nya jelas, muslim yang sudah pada tahap hafal alqur'an dan hafal hadist kudunya jauh lebih dapat menahan emosinya ketika sudah lantang bicara filsafat. Sedikit-sedikit haram..., sedikit sedikit murtad...sedikit...sedikit..munafik...

Dan satu hal yang saya pelajari, biasanya kentalnya muslim yang sudah toreqot itu sedikit bicara, tidak banyak berteriak-teriak, dan tidak mudah terpancing maupun memancing hal yang sepele. Tentunya tidak mengangkat bahasan sepele sebagai sebuah permasalahan besar yang dapat meleduk seperti Kompor LPG 3 Kilo.

Menurut saya lagi, kalau mau berdebat mending membentuk suatu forum dimana ada wakil masing-masing keyakinan. Dan bagi kita yang tumpul masalah agama ini, alangkah lebih baik mendengarkan, mencatat dan merenungkan apa yang telah kita dengar. Toh Tuhan tidak pernah meminta agar kita mengikuti suatu ajaran agama, serta sama sekali gak rugi meskipun 1000 orang pindah keyakinan bersamaan. Berdakwah dengan menyakiti perasaan orang lain, seperti membuat aib bagi diri sendiri dan keyakinannya.

Akhirnya saya putuskan, saya g kan baca & mengunjungi blog/site yang ujung-ujungnya menghina/menjelek-jelekan keislaman orang lain. Bagi saya apa yang ditulis seseorang tersebut adalah gambaran sifat orangnya. Memang benar perkataan pakde saya, kalau belajar Islam, tidak ada kata berhenti kecuali ajal menjemput. Jangan hanya puas jika sudah cukup fanatik belajar islam pada tahap syariat. Naik ke tangga toreqot, hakikat, dan ma'rifat. Meskipun itu cukup sulit, Semakin tinggi Ilmunya seseorang, biasanya dan harusnya semakin menunduk..

Jika ada sesorang muslim yang menyebarkan madzab untuk menunjukkan dirinya pintar, dengan tujuan agar kredibilitasnya diakui, bahkan secara tidak sadar dirinya juga berfatwa mengkhafirkan (kepercayaan) orang lain, maka sudah bisa dipastikan bahwa orang ini memang terlalu sensitif dan pandai berkelit seolah-olah ilmunya paling tinggi.
Dan biasanya orang yang tidak bermutu ini punya ciri gak punya manfaat atau selalu lupa dengan kejelekan dirinya sendiri walaupun aibnya cuma 1 bijih butir beras. Mencari celah bahwa dia yang paling mulia, 1 kali perbuatan terpuji yang dilakukannya bisa langsung membuatnya bangga. Bisa sedekah, langsung dishare ke sosial media + menunjukkan nominalnya. "Bukankah Islam itu mengajarkan buatlah seolah olah tangan kirimu tidak mengetahui jika tangan kananmu sedang berbuat baik".
Cukup kesimpulan yang bisa saya lihat dengan tulisan dirinya yang homogen dan itu-itu saja, tidak variatif dan penuh dengan prasangka.

Sungguh saya merasa sampai tidak enak hati menulis seperti ini. Saya ingin menghimbau tulisan ini kepada diri sendiri, semoga saya tidak digolongkan orang yang demikian

Mr simple... Menyadur kembali judul lagu korea Super junior, saya berpendapat bahwa Orang yang sederhana tidak pernah mempermasalhakan sesuatu yang kecil. Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT, dan tentunya islam dilarang mengkhafirkan sesama sodaranya sendiri.
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 5/08/2013 06:47:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar