Blogermie.com: Atas Nama Keadilan, Haruskah kami Mencuri ?

09 September 2013

Atas Nama Keadilan, Haruskah kami Mencuri ?

Judul diatas bukan merupakan judul yang saya buat untuk memprovokasi keadaan. Karena siapa saja termasuk saya pasti mempunyai rasa tidak puas dengan hukum peradilan di indonesia tercinta ini. Hukum yang selalu mamancing kontroversi, sehingga jangan heran masyarakat  selalu menanggapi Isu berkembang sebagai emosi.

Setelah membaca Informasi di media Online pupanews Kemarin, Saya sempat berfikiran: akankah Hukum diIndonesia nantinya akan dikuasai Para Alay?
Anda pasti tahu bukan 'Alay; yang saya maksud?

Ya... alay disini adalah mereka yang selalui melibas hukum dengan cara mereka sendiri, Entah dengan Kekuasaan, Uang dan Aneka Penyuapan, sehingga Hukum dimata publik terkesan 'Loyo'. Hukum yang sudah mendasari selera masyarakat Alay, berbelok dari undang-undang sebenar-benarnya kebenaran.

Di Indonesia, Asal Anda Punya kekuasaan, punya uang, maka anda sebagai warga dengan mudah menghidari jeratan hukum. Asal anda membangun opini bahwa anda-lah adalah pihak teraniaya tersebut. Saya tidak memilih pembaca memihak kepada opini saya, tapi silahkan direnungkan artikel ini

Belum tuntas kasus Korupsi, berkembang lagi nepostisme publik dimana anak pejabat negara dengan mudah lolos dari hukum. Hanya karena masih Anak dari Mr..X, masa tahanan dikurangi dengan cataan masa penahanan habis. Sedangkan Tuntutannya saja bisa lebih. bukankan Pidana dalam menghilangkan nyawa sesorang itu hukumannya masuk bui?


Saya tidak mengerti, apa ini pengaruh masyarakat Indonesia yang doyan sinetron atau ke-feodal-feodalan dengan budaya Koboi. Karena kehidupan nyata dipadang sebagai skenariyo Sinetron yang menghebohkan. Sehingga masyarakat ini dengan mudah trenyu dan terbujuk rayu syetan #halah jika melihat orang lain menangis. Hingga Berasumsi, bahwa orang yang menangis adalah orang fakir, difitnah, dan tidak bersalah. Memang sinetron selalu menceritakan polemik bahwa si miskin-lah yang harus dianiaya oleh si kaya, tetapi oh karena Di kehidupan nyata, justru kebalikan dari itu semua.

Kembali pada hukum, Publik masih mengingatkan kita dengan kasus kecelakaan beruntun yang menewaskan penumpang mobil minivan di Tol jagorawi kemarin. ingat pula dibalik nama Abdul Kodir Al jaelani madesu alias DUl ? disana diberitakan bahwa Dul telah melenyapkan nyawa 6 orang dengan mengendarai Mobil mitsubisi Lancer. Menurut sumber yang ada, biarpun murni kecelakaan, Dul tetap dituding sebagai pelaku utama karena bagimanapun pasal berlapis yang divoniskan kepada dirinya memang benar.  Tidak memiliki sim, Pengemudi dibawah umur,dan akibat kelalaiannya itu menyebabkan orang lain meninggal dunia. Dalam kasus ini Apakah bercabang seperti halnya kasus Anak dari Pejabat Itu?

Kalau publik alay terprovokasi, jelas Ahmad dani sebagai orang tua-kaya raya akan menggalang Opini sebanyak-banyaknya guna mencuri dukungan masyarakat. Grup facebook dan twitter bermunculan. Para alay mem-follow, like-this tanpa tahu apa fakta dan selalu mengatasnamakan Toleransi. Inilah yang saya sebut hukum alay, selalu mengikuti selera pasar.

Memang, orangtua manapun akan selalu memberikan apa yang terbaik baik anak didik mereka. Tapi benarkah cara membina anak harus dengan memberikan kebebasan, Sementara aspek yang mendasar saja kadang belum terpenuhi. Membina untuk saat ini, Tapi membinasakan dikemudian hari?

Hukum tak pandang bulu

Saya bukan orang hukum dan gak ngerti hukum. Tapi yang saya mengerti adalah, jika bersalah harus dihukum. Tidak peduli Renta, muda-kaya, miskin, sakit-sakitan lalu dengan seenaknya melanggar hukum. Apa jadinya jika hukum di Indonesia dapat dibeli dengan uang?

Apa bedanya mencuri 120ribu dengan korupsi 1 triliyun?
Apa bedanya kecelakaan dengan memiliki sim, daripada kecelakaan tanpa memiliki sim?
-
Red: Jasa Raharja Gak muncul Om?

Yang bisa menjawab ini adalah Hakim, saya dan anda tidak usah menjawab. Bagi kita semua, rakyat kecil beserta kacamata mereka, Inti dari sebuah hukum adalah  intinya adalah yang bersalah itulah yang pantas dihukum.

Tenang, untuk para alay! saya tidak sepenuhnya menyalahkan anda. Para penegak hukum kita sendiri juga mulai bertingkah seperti orang bodoh bahkan lebih dungu dari sekedar orang bodoh, hampir tidak bisa dibedakan antara bodoh asli dan bodoh dibuat-buat. Seperti kasus penggerebekan narkoba di lapas cipinang kemarin, mana mungkin sipir dan kawan-kawan tidak mengetahui ada  narkoba. Bodoh bukan? (Bodoh asli / palsu?) dan kasus kasus lainnya. Hingga tingkah penegak hukum yang seperti inilah, melahirkan hukum alay. Masyarakat menjadi tidak percaya, dan akhirnya membuat hukum sendiri yang kira-kira cocok kebenaran menurut versi yang hampir mendekati kebenaran. Bunuh dan saling membunuh. Yakni Hukum Rimba seperi Kasus Cebongan

Ingin jadi curanmor? Silahkan saja. Namun pilihannya cuma dua, kritis atau sudah tewas di keroyok masa. Kenapa kita tidak menanyai dulu pada si pencuri, kenapa kamu mencuri? kamu miskin? kamu sakit? atau perlu uang? Karena bagi kebanyakan orang hukuman yang pantas bagi pencuri motor adalah di keroyok hingga tewas. Kenapa para terbukti koruptor yang mencapai Milyaran gak kita keroyok saja??

Kita berhak dan wajib mengkritisi, mengawasi agar hukum benar-benar berjalan sesuai dengan tujuannya. Namun tidak berhak menjustifikasi sangsi yang cocok bagi tersangka. Cukup meresahkan jika Hukum tertulis tidak sanggup meredam emosi masyarakat yang sudah kacau balau. Saya hanya mengaharapkan yang maha kuasa menjatuhkan 1 Asteroid kebumi tepat di istana negara. Agar pemimpin sekaligus penegak hukum Indonesia bisa melek' dari keterpurukan ini

Untuk para penegak hukum,Kami berharap jangan bersikap tuli apalagi bodoh beneran. Kita bukan lagi anak kecil, kami bisa menilai tindak-tanduk anda (para pengak hukum) pura-pura bodoh, bodoh beneran, cerdas atau bijaksana dari manapun sumbernya. Jadi bekerjalah sesuai yang telah diamanahkan kepada anda. Niscaya, tidak ada lagi hukum alay di Indonesia, karena biang keladi bermula dari kepercayaan kami yang telah anda selewengkan.

Ingin masuk bui: Untuk menyambung hidup atau demi hasrat semata, manakah jalan yang akan kita pilih


Semoga...
Judul: Atas Nama Keadilan, Haruskah kami Mencuri ?; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 9/09/2013 07:36:00 PM

4 komentar:

  1. Artikel bermanfaat :)
    Jangan lupa kunjungan baliknya :)

    http://anggarafd.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bermanfaat darimananya Tole? Artikel Biasa saja saja kok. hihihiihhi...

      Hapus
  2. udah banyak contoh nyata hukum di indonesia itu berpihak kepada yang punya fulus....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya betul sekali, Mangangkat kebenaran diatas hukum ababil Indonesia sepertinya percuma

      Hapus