Blogermie.com: Happy Ending demi 'Kisah Klasik Untuk Masa Depan'

07 September 2013

Happy Ending demi 'Kisah Klasik Untuk Masa Depan'

Malam ini adalah malam yang akan utuh menjadi milik-Nya. Dengan cakrawala yang sama dimana langit masih bertabur noda, sementara beberapa penikmat malam seperti saya sebentar lagi dirudung duka (karena sebentar lagi tidak akan ada asap rokok berhamburan). Mungkin malam ini akan selamanya menjadi malam panjang bagi sebuah keluarga kecil dikehidupan sederhana untuk tetap terjaga.

'Tidak ada sebuah tahta istimewa, karena Anak juga patut dibanggakan. dan Anak merupakan satu-satunya anugerah yang lebih mulia ketimbang harta-apapun' - Happy Ending demi Kisah Klasik Untuk Masa Depan


19.55, Tampak seorang ibu yang merebahkan badannya disebuah kasur berkerenda kusut. Memeluk hangat seorang bayi disebuah bilik kamar kecil berukuran 3x3. Tak henti-hentinya sang ibu menengok wajah bayi yang masih merah itu dengan sapaan yang ramah. Terkadang menghujani sang bayi dengan kidung-kidung cantik agar rengeknya berhenti. Namun, Apalah daya. Bayi tanpa dosa itu hanya sanggup menangis keras, mengelak, serta mengangkat tangannya tinggi seakan berontak, berfikir bahwa dirinya tidak nyaman jika tidak di-gendong.

Happy Ending demi 'Kisah Klasik Untuk Masa Depan'
Bayi: Dalam tawaku, Kelak Aku Bisa menjadi Sesuatu Yang membanggakan bagi kedua orang tuaku, Akan tetapi dalam tangisku pula-pah, aku bisa berubah menjadi sesuatu yang mencelakai

Bayi tersebut tak lain adalah anak saya. Irma Herliana yang lebih akrab dipanggil dengan julukan: Immah.
Dia merupakan kunci sekaligus akhir dari cerita selama saya membina rumah tangga. Dia Benar-benar seorang manusia utuh jasmani dan rohani. Muslim, tapi Bukan lagi seorang bocah yang terlahir sebagai sekujur bangkai. Karena jika mengingat beberap tahun silam, hampir kematian selalu menghampiri kehidupan kami.

Mengingat kata 'bangkai', hanya akan membuat saya beserta istri merasa pedih jika mengetahui manusia darimanapun peradabannya hanya bisa bersikap pasrah dan tawaddu' kepada kuasa-Nya. Tidak satupun manusia yang ingin hidup abnormal, Tidak pulalah ada manusia yang sempurna secara moral selama hidupnya, 1% pun kebaikan yang ada untuk hari ini, esok dan selanjutnya akan lebih berharga daripada tidak berubah sama sekali

Saya berada di perabadaban itu dan ingin secepatnya mengubah stigma dari pria setengah baik menjadi pria baik-baik demi menanti datangnya sebuah keajaiban. Dari kebiasaan yang awalnya pemalas, menjadi pegiat. Dari segmen apapun itu,termasuk hablum minannas dan hablum minallah.

Sejak kehadirannya di perut, saya paling “heboh” menyambut. Tidak ingin kejadian yang sama berulang.
Sementara sebagai sekutu, ibu saya juga juga rajin mengadakan syukuran untuk calon cucu pertamanya yang masih di perut, pastinya perut istri saya. bahkan menurt saya ada sebuah cerita heboh dimana AlmarhumUstad jefry Albukhori juga turut hadir mangemini peristiwa tersebut : ( Red: baca dihalaman ini )

Setelah 'Coer', bayi itu masih dalam kondisi terhebohnya. Saya ingat beberapa peristiwa memalkukan dimana saya harus ngompol dicelana lantaran tergopoh mencari selimut dan gedong. Selama menjalani rawat inap dirumah sakit, si-mmah juga mensyukuri kalau ayahnya ini ternyata seorang pelawak yang bisa cengeng ketika mengetahui rekannya dengan senonoh menghujat tidak 'mandul' demi harga diri seorang laki-laki.

Paling riuh tentunya tiba dimalam kamis 6 september 2013, karena untuk pertama kalinya si-immah bisa berkata sepatah dua kata,terbata-bata yang membuat gusar mertua karena dikiranya si Immah ini kerasukan jin. Belum lagi tingkah polahnya mulai bertambah ketika tidak mau lagi netek dan mulai enggan diselonjorkan dikursi bayi, Alias keinginannya untuk Songgoh gulu (gak ngerti translate bahasa indoensianya apa).

Kini Immah sudah menginjak 3 bulan. Banyak keresahan yang menyusup melalui kegembiraan ini Karena bagimanapun, dirinya terlahir sebagai wanita yang nantinya harus tumbuh menghadapi kerasnya zaman. Sudah barang tentu keprihatinan mengenai isu media bahwasanya dunia tengah porak-poranda moral beserta etikanya. Saya tak habis fikir jika immah tumbuh menjadi berandalan seperti halnya geng Nero, Naudzubillah..summa naudzubillah,semoga tidak.
walaupun Kekhawatiran tersebut masih terlampau jauh untuk difikirkan, dalam waktu dekat ini saya telah mempersiapkan kematangan si-imah untuk 5-10 kedepan, Apapun metodenya selagi tujuannya benar dan sesuai yang disyariatkan.

Memang, siapa saja boleh merencanakan masa depan buah hatinya, Tapi sekuatnyapun Permadani yang digelar, Yang maha kuasa-lah yang lebih berhak tahu.
Saya beserta istri tak henti-hentinya berdoa dan berharap di beri karoah umur guna mendidiknya dalam mengenal arti kedewasaan. Tentunya agar immah tumbuh menjadi Wanita tegar- Karena imma yang dulu bukanlah imma yang sekarang

Bayi itu memang sebenar-benarnya anak saya dan Putri dalam kehadirannya itu seperti tidak pernah di sangka-sangka. Bayi itu pulalah yang nantinya mewarisi gen bahagia kedua orang tuanya. Dan saya percaya itu..Amiiin

Happy Ending demi 'Kisah Klasik Untuk Masa Depan'

Selamat Malam dan Salam rukun
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 9/07/2013 09:08:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar