Blogermie.com: Akhirnya...

22 Oktober 2013

Akhirnya...

Manusia, apapun namanya. Pasti membawa bayang-bayang untuk diri mereka sendiri ketika berjalan. Bisa dibilang 1 orang memiliki kepribadian ganda, 2 sifat namun berwujud 1 tubuh yang kadang bertentangan, antara baik dan buruk.
Karena selisih inilah, menjadikan alasan kenapa manusia disebut makhluk sempurna jika dibandingkan makhluk ciptaan-Nya yang lain.
Maha suci Allah SWT yang menciptakan kita dengan beragam ras dan keturunannya tanpa unsur mubazir. Semuanya bermanfaat


Terlebih bagi kita manusia yang dianugerahi nikmat yang disebut saudara, Syukur-syukur jika lebih dari satu. Entah itu saudara kandung, maupun saudara dalam satu keyakinan yang membentuk tali silaturrahmi. Dengan memiliki 1 saudara saja, akan terasa lebih menyenangkan ketimbang berandai-andai mencari banyak musuh. Tapi acapkali perseteruan terjadi dengan tempo yang cukup lama, saling curiga dan mawas diri-pun terjadi, karena musuh bebuyutan itu ternyata tengah menyaru pada diri saudara kita.

Karena perbedaan itu seni dan warna yang menghias kehidupan ini, wajar-wajar saja apabila memiliki 1 saudara, Tiada hari tanpa bertengkar, tiada hari tanpa saling membusungkan dada tanda ke-egoan, baik melalui tutur kata maupun perilaku tidak sadar. Hal yang amat menyakitkan dan hampir sering terjadi seumur hidup inilah yang menjadi pertanda bahwa manusia harus saling melengkapi.

Mengherankan tapi begitulah adanya

Namun ketika pintu Hidayah itu terbuka dan Yang Maha Kuasa mempertemukan 2 insan manusia ini dengan rasa akur dalam balutan tegur sapa. Mereka diingatkan kembali dengan sumpah serapah yang sempat tertidur cukup lama. Seolah lubuk hati mereka berkata:

Aku Khilaf..
Aku minta maaf kepadamu waktu itu

Menulis kembali Majas Preketeg diatas, saya ingat kejadian beberapa tahun lalu.
Ketika saya masih membujang dan akrab dengan salah seorang teman yang sejatinya sudah saya anggap seperti saudara sendiri. Namanya Gita Lestari

Dia bukan perempuan, hanya memang namanya saja yang membuat orang berfikir bahwasanya ia di-elukan terlahir sebagai laki-laki.
Di rahim ibu sewaktu mengandung, harapan besar nama tersebut mewarisi keinginan orang tuanya untuk mendapatkan momongan bayi perempuan. Berhubung bayi sudah "coer", apa hendak dikata,mengeluh juga percuma.... toh nama tersebut tidak akan mubazir dan senantiasa lestari hingga sekarang.

Karena kebetulan Orang tua saya dan Orang tua Gita sudah berteman cukup lama sewaktu masih sama-sama menghuni desa ini, kami selaku anak  melanjutkan amanat tersebut sampai memasuki masa SMP. Cuma yang membuat saya kecewa waktu itu, disamping Orang tua Gita bercerai dan memutuskan pindah rumah ke desa sebelah [*Dasar Pria memang ya...Habis manis sepah dibuang! ], Gita lebih dulu belajar merokok. Dan hal itu merupakan pelanggaran pertama yang dilakukan Gita perihal etika pergaulan.
Tapi bukan berarti hubungan kami merenggang, Beberapa prioritas seperti mengerjakan PR dan belajar yang tetap kami pertahankan, sementara secara pergaulan, kami terlalu enggan untuk berdiskusi.

Melepas masa sekolah di SMK, saya merantau keluar kota. Gita pun demikian. Kami bersama-sama mencari lowongan pekerjaan, dan syukur Alhamdulillah, kami berdua diterima. Namun setelah sekian lama berteman, Gita mulai ikut-ikutan jadi berandalan oplosan. Mulai doyan mabuk-mabukan dan main perempuan.
uang gajian yang ia dapat per-minggu selalu habis untuk mentraktir rekan satu kost-nya.

Sejak saat itu, Gita makin dekat dengan dunia Gelap. Sepeda motor Suzuki Smash milik orang tua satu-satunya di "protoli", bahkan STNK-nya pun terlebih dulu digadaikan.
Atribut yang menempel pada body dicomoti satu persatu padahal baru kreditan. Semua Sparepact-nya dilepas dan dijual entah kemana itupun makin melengkapi predikat " Sepeda Colongan " 

Disini tugas saya cuma bertahan, Tidak ada satupun bimbingan yang bisa mencegahnya...karena jika seorang umat terkena barang haram itu...sudah dihilangkan pula akal sehatnya oleh Allah SWT

Seingat yang dialami, saya juga mulai gemar belajar merokok dari Gita ini, namun dengan catatan: tidak ingin sekali-kali menjamah racun yang bernama Miras. Selain malu sama Ibuk saya,  tidak ingin menjadi borok dengan dalih kepulangan saya keluar kota malah minta tambahan uang saku hanya untuk membeli barang haram itu.

***

1.5 tahun berlalu, saya mengundurkan diri dari status buruh pabrik dan melancong ke luar kota dengan harapan merubah nasib ke arah yang lebih baik. Tidak tahu nasibnya si Gita seperti apa, karena saya sendiri berfikir akan lebih baik jika kami mengurusi kepentingan masing-masing. - Bukan sanak bukan kadang, Bukan anak, maka engkau kutendang -

Kini setelah sekian lama, rasa rindu masa kecil itu muncul kembali. Walaupun tak dapat dipungkiri, tidak ada Istilah: mantan teman maupun mantan saudara. Selamanya kita akan tetapmenjadi teman, Abadi pula bersaudara

Melalui sepucuk surat yang diantarnya sendiri malam itu...Dia bersaksi....

Menikah bukan Pilihan.
Namun dengan menikah, jalan itu yang akan menentukan


Her !..... Akhirnya diriku......Nikah Juga...
Kapan kamu mampir? Ibukku kangen

Judul: Akhirnya...; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/22/2013 10:49:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar