Bapak Harum dan Beras Bau

Menapaki usia ke 65, bapak telah merubah penampilan diri, sehingga semakin berwibawa dan menjadi lirikan anak-anaknya

Sebelum memiliki hunian , aku tinggal 1 atap. Dirumah kecil yang sebagian ruangannya berdinding anyaman bambu, bersama dengan ke-3 sodaraku yang lain. tapi siapa sangka, disinilah aku punya sepenggal cerita unik berjudul beras bau

Mengenang masa-masa kecil ditahun 90-an, adalah nikmat-nikmatnya hidup dengan lebih mengutamakan makan nasi ketimbang singkong. Karena negara sudah mulai dikatakan makmur dengan adanya Swasembada beras, Namun tidak untuk sebagian orang bisa dengan mudah mengkonsumsi beras enak tiap hari.

Bapak, adalah gambaran potret buruk orde baru. Bapak adalah orang pertama dalam kehidupanku yang berhasil memanipulasi paceklik pangan disamping dukungan ibuku agar senantiasa berhemat. Mengolah apapun sumber daya alam selagi halal untuk dimakan dan mengolah hasil berkebun secara liar agar dapat dimanfaatkan. Dan salah satu dari sekian banyak 9 bahan pokok yang sangat termahsyur kala itu adalah Ketelo, pohong, dan Gayam.
Disamping berkebun, bapak selaku orang tua-kandungku telah lebih dulu mengkolaborasi pangan dengan beraneka macam rasa.

Disela-sela profesinya sebagai tukang kebun sebuah rumah sakit swasta, beras Kopal (beras raskin) adalah kebutuhan logistik paling gak enak (menurut saya) yang wajib dipenuhi beliau tiap bulan demi terus bertahan hidup.
Beras kopal yang notabennya beras berkutu, nggak enak, gak pulen, dan bau tengik, telah menggugah naluri seorang bapak untuk menggandengnya dengan beras “biasa” yang beliau peroleh dengan membarter hasil kebun.
Baidewe, Meskipun bau beras ini memiliki khas, paling tidak suatu saat keluargaku masih bisa berjumpa lagi dengan nasi sebagai wujud menghargai jerih payah pak tani.

Ada sebuah cerita yang harusnya najis untuk aku ceritakan di awal Tahun 1992. Saking najisnya, aku sendiri kewalahan jika menyebutnya sebagai najis mugholadoh. Sehingga apabila pemirsa membaca cerita ini sampai tuntas, wajib hukumnya bagi Anda untuk mencuci hinga 7 kali basuhan dengan campuran air comberan.

“Ijih enak jamanmu toh le?
“Piye rasane Sego karak, Enak toh”?

Pertanyaan tersebut seolah menyindirku. Karena sudah tidak alasan buat bapak menyebar pengampunan bagi semua anaknya apabila makan nasi sampai bersisa. 1 bulir nasi yang terbuang sudah cukup menjadikan bukti kalau anaknya mengkhufuri nikmat. Konsekuensinya juga beraneka bentuk. Dijejelke “sil*t”, disamboki, atau memilih makan dari sisa kerak nasi yang dijemur ibuk untuk dijadikan nasi aking.

Pernah suatu ketika aku lalai. Duduk bersila di meja-makan malam pada penutup akhir bulan, aku belum sempat menyelesaikan makanku. Aku rewel, berontak, eneg dan sebagainya.
Karena mungkin yang aku telan tidak berkesan di lidah dan hambar rasanya, aku membuang sisanya di kobokan dapur tanpa sepengetahuan bapak. Disitulah tanpa tedeng aleng-aleng, bapak langsung memanggul dan mengunciku dengan paksa dikamar. Tak lupa seutas tali ikat pinggang..

Kejadian selanjutnya juga tidak kalah heboh…., Meskipun endingnya tidak terlalu *Arie Hanggara banget. Tapi syarat moral yang sampai saat ini saya bawa ialah untuk tidak membuang rizki, seberapun ukurannya. Karena dengan 1 bulir bijih beras yang aku peroleh dari bapak, akan berguna bagi anakku suatu hari kelak.

Artikel ini disertakan dalam Semut Pelari Give Away Time, Kenangan paling berkesan dengan papa

Tinggalkan Balasan