Blogermie.com: Bingkai Janji dalam Sebuah Arloji

31 Oktober 2013

Bingkai Janji dalam Sebuah Arloji

Waktu berputar dengan demikian cepat, hanya meninggalkan puing-puing penyesalan yang mungkin tidak akan pernah termaafkan. Jika sampai kita melewatkan detik demi detik waktu yang berjalanan...kita akan membuang kesempatan demi melakukan perbuatan yang bermanfaat semasa kita hidup.

Berbicara perihal waktu, Mungkin tidak untuk kali ini saja...saya dikatai ibuk sebagai manusia ceroboh pemboros waktu.

Dulu, tidak ada alasan untuk tidak bangun pagi. Kalau ada diantara saya maupun  3 saudara yang lain sampai terlambat bangun pagi, saya selalu mendapatkan hadiah yang cantik dari bapak. Hadiah untuk selalu membuat saya terjaga agar jangan sampai lengah dengan kenikmatan dunia ini

Ketika terbangun dari tidur, menyadari telinga sebelah kiri selalu berdengung... muka pucat pasi... dan tubuh terasa menggigil basah kuyup.
Hmmm...bapak terlalu baik menjadi figur seorang petugas pemadam kebakaran yang tiap hari mengguyur muka kalau saya terlambat berangkat sekolah


Peristiwa menyenangkan itu terjadi sampai saya lulus SD. Namun sebagai pengecualian bapak, Beliau membelikan kami Jam Tangan unik (Jam Jajan). Karena kami hanya seorang anak kecil, tidak satupun curiga yang muncul dan mendasari bapak memberikan reward itu kepada kami.

Sedikit pembeda dengan jam tangan lainnya, Jam Jajan ini terbuat dari material Plastik, agak glossy, namun menawan.
Milik kedua kakak saya adalah jam tangan murah dengan type analog, sedangkan milik saya dan adik sudah digital. Pun begitu, kesepakatan yang tidak dapat dipungkiri oleh bapak dan ibuk  kala itu adalah dengan membelinya di pasar rombeng.

Tertariknya bapak membelikan jam tangan model tersebut karena bentuknya yang flip. Bisa dibuka-dittutp menyerupai cangkang kerang. Cangkangnya juga bervariasi.

Sesuai urutan usia, 2 Kakak saya mendapatkan Jam tangan Arloji, dengan penutup cangkang plastik transparan sebening kaca (padahal mika), sedikit kokoh karena talinya besi
Sementara saya dan adik perempuan mendapat jatah jam tangan paling unyu. Jam tangan milik saya bertekstur kura-kura ninja sebagai cangkangnya. Sedangkan jam tangan dik dipilihkan yang bermotif Doraemon. Sedikit rapuh dengan tali pengikat karet rada kendor

Sore menjelang, ketika saya dan bapak pergi memancing ikan guna menjadikannya lauk untuk kebutuhan sehari-hari. Tak sengaja, jam tangan tersebut tercelup air.

Sudah bisa ditebak bagaimana ekspresi bapak waktu itu. Sudah tidak ada lagi istilah penghormatan kepada jam tangan itu karena saya berfikir jika, kan lebih baik jika bapak mau memperbaikinya...Namun ternyata,

Prediksi saya salah..Besar!


Jam tangan itu malah dibanting..hancur berkeping-keping tepat dihadapan muka saya.
Hingga adegan demi adegan Arie hanggara berlangsung cukup lama, muncullah ibuk yang bisa dijadikan tempat mengaduh.

Ibuk saya orang yang notabenenya orang paling diam sedunia dan penyabar, hanya memandangi sebentar, lantas mendudukkan saya di sebuah lincak bambu.

(Nak!...bapakmu itu tidak marah, tapi kesal dengan pemberian yang kamu sia-sia. Ini agar kamu bisa belajar menghormati waktu...itu sebabnya kamu dibelikan jam tangan.
Harapan bapakmu itu. ketika kamu melangkah, jangan sampai terburu-buru. Lihat jam tanganmu. Kalau mati, kamu gak punya pedoman toh)
jam tangan murah

.......

Anggap, Jam tersebut telah musnah 12 tahun lalu...Namun memaknainya, sangat butuh waktu yang lama.
Sampai mampu membeli Jam tangan berbentuk arloji yang masih tergolong bagus dengan hasil jerih payah sendiri, khusus saya belikan untuk bapak di ulang tahunnya kemarin.

Walaupun jam tersebut diraihnya pertanda bahagia, bapak masih tetap seperti dulu, kembali mencoba mengingatkan saya:

"Kamu harus lebih belajar baik lagi menghargai waktu...!
Bangunmu...Sholatmu, sering keduluan ayam jantan berkokok"


Saking rapatnya aktivitas, seringkali saya lalai mengatur waktu. Tapi itu bukan dijadikan satu-satunya alasan bagi saya untuk sanggup menyuap keadaan.
Makan tulang, maupun korupsi waktu yang sama halnya meludahi barokah yang disajikan untuk saya, sehingga manakala keajaiban sudah layak ditunggu, malah enggan untuk datang.

Maaf, ini tidak ada keterkaitan dengan sholat 5 waktu, sekali lagi bukan itu...

Dalam waktu 24 jam, banyak hal yang membuat diri kita sibuk sendiri... bahkan terlalu asyik mencandai jannji kita sendiri.
Sadar atau dalam keadaan tidak sekalipun, sebenarnya kita telah berusaha menepati janji kepada waktu. Namun bukan berarti kita selalu tepat waktu, ada pula beberapa janji yang sempat kita ingkari dan itu terjadi beberapa kali ketika kita hidup.

Setiap kali kita melangkah, hari ini, esok kemudian...kita tidak akan pernah tahu bahwa tuhan tengah membolak-balikkan hati kita. Jika hati sedang gamang, kita segan mengakui kalau kita menjadi manusia yang paling merasa bersalah. Tapi ketika hati sedang meradang, kita enggan mengakuinya dan berbuat seolah-olah yang paling benar.

Ketetapan hati adalah janji yang harus tetap kita minta kepada yang maha kuasa selagi menjalani hidup. 1 se-persekian detik, jantung berdetak diiringi kalimat tauhid. Kita berusaha untuk tetap menjaganya selalu seirama.
Apabila detak jantung dan detak jam itu kemudian berhenti bersamaan....bagaimanakah kelanjutannya?


Tulisan ini bukan bermaksud untuk menggurui kok, saya tidak berkeinginan demikian.
Setiap kali saya berjalan, kemudian bertemu dengan banyak orang...selalu diingatkan dengan wejangan ini. Saya semakin sadar, sebenarnya apa dan untuk apa tuhan menciptakan saya hidup didunia...Tantkala hati kemudian tergetar setelah menyaksikan lagu "Raihan" berikut Ini

KLik >>

Kredit video: http://www.youtube.com/user/ZatiRaihan96

    Pesan Sponsor:
  1. Salah satu bentuk upaya menghargai waktu adalah dengan memiliki sebuah jam tangan.
  2. Jam tangan murah, tidak harus komplit fitur. Sedikit mahal-pun, pemiliknya akan lebih esktra hati-hati dalam merawat jam tangannya ibarat menjaga janji mereka sendiri.
  3. Rasa tanggung jawab yang setara akan terbayar, ketika pemilik Jam Tangan faham betul kapan harus mengaktifkan fitur Alarm untuk bangun tidur, maupun berbagi aktivitas yang berskala primer.
Judul: Bingkai Janji dalam Sebuah Arloji; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/31/2013 05:54:00 PM

1 komentar:

  1. semoga kita bisa memaknai waktu dengan lebih baik
    time is money.
    hehe

    kunjung balik ya mas

    BalasHapus