Blogermie.com: Bundadari dan Selendang Rasa yang tertinggal

20 Oktober 2013

Bundadari dan Selendang Rasa yang tertinggal

Zaman dulu, Cerita horor tentang segitiga bermuda hanya dianggap cerita bohong oleh sekelompok pemimpi dunia. Tapi maju beberapa abad, legenda kuno itu hampir mendekati nyata.
Loncat beberapa puluh tahun selanjutnya, tak ada lagi yang berani memuntahkan isu tersebut. Orang-orang mulai berhenti bercanda bahwa Segitiga bermuda erat kaitannya dengan Filosofi Alien dan hilangnya beberapa pesawat dibalik samudra Atlantis. Dan itu memang benar-benar Ghaib terjadi.


Mundur beberapa zaman ke belakang, orang mengutuki pemikir yang berkata Alam semesta itu ada karena berdiri sendiri. Para Sainster mengklaim isu terbentuk alam semesta berasal dari pecahan benda langit yang maha besar. Mana mungkin pecahan-pecahan tersebut menjadi gumpalan-gumpalan asteroid dan planet, sementara bumi yang dipijak saja, sama rata dan tidak bergelombang.

Namun di hari berikutnya, ketika Dzat-Nya mengambil alih kekuasaan berupa bencana, semua mata yang terbangun tak bisa menutupi pandangannya jika bumi yang mereka diami ternyata diciptakan oleh 1 kekuatan yang maha Dahsyat beserta segala kemurahan-Nya. Dan lagi-lagi Ilmu sains hanya sebagai ilmu yang berlandaskan teori menebak-nebak

***

Di tanah ini sendiri, banyak dari kita dengan tega merendahkan martabat bangsa sendiri sebagai bangsa yang teraniaya. Bangsa yang hanya mewarisi kemerdekaan dari bangsa lain. Sisa kebesaran lama yang membuat orang saling meremehkan seraya berteriak:

Ah sudah biasa itu, di indonesia...
Hanya diindonesia yang kaya gini, sudah hanya itu saja.!...



Teori yang selama ini dipelajari sekian 3,5 abad lamanya, membuat kita terdidik menjadi pribadi yang malas jujur. Membuat materi genetik yang diwariskan orang tua kita agar jangan sekali-kali menunjukkan tajinya. Sekian lama kita menerima keadaan menyerah, tak pernah berusaha mendapatkan kembali kesempatan untuk menampilkan kekuatan itu.

Kita seharusnya tidak menganggap apa yang kita peroleh saat ini adalah pecahan sebuah bangsa. Bangsa yang kita sanjung sangat piawai menjelajah dunia seperti Colombus, dan menyisakan tanah jajahan di Indonesia tercinta ini yang faktanya lebih dulu menghasilkan anak beserta keturunannya dengan nama Agan, Sista, Ente, Elo, Guwe, Kamyuh, dan preketeg lainnya.
Sekali lagi, bangsa kita bukan sisa peradaban

Padahal dalam darah kita selaku warga Indonesia telah mengalir sebuah materi genetik khas nenek moyang yang berusia sangat tua.
Nyatanya, kita enggan mengakuinya. Walaupun hal- hal mengejutkan itu datang menghampiri seolah mengajak memahami arti kebersamaan, bahwasanya kitalah yang mengawali semua cerita peradaban di muka bumi ini.

Maka sangat mungkin jika sebelum berkunjung ke sebuah Taman, di tepian sungai Kalimas itu, Bundadari sebenarnya sudah lebih dulu datang ke Indonesia. Hanya saja ia tak mungkin menggunakan Angkringan maupun dokar menuju Indonesia dengan tujuan berkongkow-ria, apalagi mandi. Melainkan untuk duduk menyaksikan keindahan indonesia ini.

Sayangnya, ia teledor memperhitungkan jam. Perempuan baik namun cenderung lupa diri...seharusnya tidak demikian.
Ia mendapati waktu bercengkrama dengan alam indonesia yang kaya panorama ini tidaklah banyak, hingga bergegas pergi begitu saja dan melupakan sesuatu yang ia bawa ketika berangkat.

Di balik rasa...di Taman kota ini...Jaka Tarub menemukan selendangnya yang tertinggal.



Judul: Bundadari dan Selendang Rasa yang tertinggal; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/20/2013 10:08:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar