Blogermie.com: Karena Memotret, 1 Frame berjuta kesan

03 Oktober 2013

Karena Memotret, 1 Frame berjuta kesan

Tegar, Dia tak seharusnya Terburu-buru:.belanja

Setiap orang, pasti memiliki kriteria sendiri dengan hal apa saja yang mereka gemari. Melakukan apa saja harus didahului dengan konsep, teliti dan sangat sistematis. Tapi jika pertimbangan tersebut hanya dijadikan alasan untuk tidak memotret, maka kita akan melewatkan banyak hal manis yang jarang terjadi seumur hidup. Kita hanya membiarkannya melintas di depan mata tanpa sanggup mengenangnya...kita difasilitasi karunia, namun tidak menggunakannya...untuk apa? ya untuk menikmati hal yang bagus...ini baru 1 jenis panca indra, sementara masih banyak lagi karunia dari Allah swt yang lain, yang sering lupa untuk kita syukuri.

Bukan hanya dalam melakukan aktivitas menulis, Saya adalah orang yang terlalu pemikir jika hendak memotret. Dulu sekali ketika saya masih rada genteng dan banyak pacar :D,  Saya beranggapan kalau moment memotret harus disejajarkan dengan posisi objek dan jenis panorama apa yang hendak di potret. Sehingga seringkali jika saya betul-betul berniat memotret bagus, saya harus berburu ke-beberapa tempat unik seperti kebun binatang, konser, karnaval, pesisir pantai, maupun keramaian hanya untuk mendapatkan jepretan yang pualiing indah.


Semenjak saat itu, dimanapun berada, saya selalu selalu berusaha membawa kamera saku ketika bepergian. Jika nasib tidak beruntung, saya menggunakan kamera ponsel yang umum saya bawa. Dan hasilnya terbilang lumayan..Jelek!.

Sampai dirumah, saya duduk dan membuka kembali hasil jepretan saya. Bahkan benar-benar berpikir akan menghapus file dari kamera atau membuang beberapa frame foto ke Recycle Bin. Sayang, akhirnya saya memilih menjadi teledor dan berhenti menghapusi sebagian frame-frame yang menurut saya kurang bagus.
Saya merasa tertipu. Biarpun jelek, foto-foto tersebut mewakili sebuah keadaan yang telah terbingkai menjadi sebuah kejadian. Saya merasa foto-foto itu juga bernilai.

Mungkin frame-frame tersebut hanya berisi orang yang sedang duduk, ibu yang menggendong bayi, gerombolan orang yang sedang mengantri cimol atau seorang nenek yang sedang mengasong jajanannya. Sepintas tampak biasa namun ternyata cukup memiliki arti cerita.

Cimol: penggagas jajanan baso semua kalangan.
Cakue juga dijadikan selingan jika pentolnya bapak mulai habis

Canggung ketahuan, saya cuma berkilah: "selamat makan paklek".
sudah beruntung bagi saya karena tak dilempar sendok

"ALhamdulillah, sampean penglaris nasi jagungku pagi Ini". Kata ibu tua itu

Pak tua harus melawan teriknya matahari.
1 pun kripiknya belum laku terjual dari tadi pagi


Foto candid adalah yang paling saya gemari, Setiap potret Human Interest seperti foto candid memiliki banyak nilai .
Yang murni menjadi penilaian adalah ekspresinya. Wajahnya yang manis, bisa juga kegiatan dan interaksi yang sedang dilakukan di lingkungan sekitar obyek. Yang tidak bisa, belum tentu tidak sempurna. Yang tidak biasa, dengan perpaduan aspek tersebut, pembaca bisa melihatnya tanpa mengada-ada. Kalau mengambil moment yang demikian, Resikonya cuma satu. Jika enggak diolok edan, paling diteriaki maling lantaran dicurigai mencuri ekspresi seseorang secara diam-diam.


2 Anak ini mandi disungai tiap musim penghujan datang.
Karena saya pernah masa kecil seperti ini, sayang kalau harus dibuang

Memotret yang demikian bisa dikatakan tidak perlu berpikir realistis. Apalagi sampai njelimet. Disaat hati tidak mood, Orang yang malas pun bisa memotret objek apapun yang tersaji di depan mata. Sering kali jika saya sudah tambang ide memotret, saya mengamati apa saja yang melintas tanpa berfikir panjang.

Nilai tambah yang saya dapat dengan memotret dengan cara seperti ini adalah melatih kesabaran, dan juga belajar percaya diri jika berhadapan dengan orang yang mengamati secara tiba-tiba. Orang didekat kita mungkin memiliki pengamatan yang mencerminkan jika si tukang potret adalah orang gila. Tapi sekali lagi demi tercipta sebuah moment, siapa yang peduli.

Ketika momen didapatkan dengan tepat, bukan berarti shutter harus ditekan saat itu juga. Ada jeda sabar untuk memutuskan kapan momen puncaknya. Namun yang perlu dicatat, Human Interesting membuat orang tidak akan kehilangan selera untuk memotret. Bahkan jika memotret itu memerlukan ide, maka memotret Human Interest adalah keputusan yang menarik.

Di manapun kita hijrah, kita tidak pernah tahu peristiwa apa yang akan kita temui. Kita tidak bisa memilih kejadian apa yang akan tersaji. Tapi itulah yang selama ini saya lakoni untuk menghiasi hidup agar tidak jenuh. Karena dengan memotret, selalu menghadirkan sebuah cerita segar dan syarat makna.
Judul: Karena Memotret, 1 Frame berjuta kesan; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/03/2013 05:00:00 PM

11 komentar:

  1. Hobi yang positif
    Fotonya bagus-bagus mas
    Saya juga sedang belajar motret nich
    Kapan kita ketemu ya mas
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam hangat juga dari sidoarjo untuk pakde.
      Kejutan sekali pakde mau meluangkan waktunya kesini..:)

      Hapus
  2. Benar dari 1 foto banyak cerita, tergantung ide yang terlintas.

    BalasHapus
  3. kesan pertama begitu menggoda.....
    fotonya menggoda ingin segera jepret sana dan sini...
    salam dari penulis cilik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin, mas hari gak kesasar kan ketika kesini... :D
      salam balik juga mas

      Hapus
  4. sangarrrr fotonya bang heru! :D
    semangat terus berkarya! dan jepret saya ya kapan-kapan :D

    salam miaw! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oo itu belum sabarapa mas miaw, masih ada yang terjelek lagi fotonya
      ayo semangat lagi nulisnya om miaw biar kita cepat akur

      salam guk-guk

      Hapus
  5. Pas, persis, memang begini kelakuan saya akhir-akhir ini. Diluar jam kerja, kemana-mana pergi saya selalu bawa kamera saku. Jepret sana, jepret sini. Awal-awal sih kagok, belakangan ini ya cuek aja. Motret apa ajah, yg menarik saat itu.

    Nah, sampe rumah, dipindahin deh ke netbook hasil jepretannya. Yang menarik dari rangkaian potret ini, ditambah sedikit narasa, jadi deh posting blog.

    Jadi banyak dari ide tulisan di blog berawal dari melihat hasil foto. Bukan karena pengen menulis sesuatu baru kemudian mencari objek fotonya.

    Dan, kamera saku itu sungguh powerful...hehehe

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya belajar dari panjenengan de.. kayaknya sayang punya cerita panjaaaaaaaaaaanng tapi momennya 'Null'..hhehe. salam jumpa kembali.

      Hapus
  6. Her ...
    Saya paling suka foto anak yang bersepeda itu ...
    terlihat buru-burunya
    ditengah jalan yang tergenang ...
    menimbulkan seribu satu pertanyaan ...

    foto ini (menurut saya) bicara banyak ...

    Salam saya Heru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Om NH, Molaiiii :D

      Iya akan saya kurangi diksinya, om, terima kasih :)

      Hapus