Blogermie.com: Monumen Sejati, Kebanggaan bagi kita Semua

13 Oktober 2013

Monumen Sejati, Kebanggaan bagi kita Semua

Menyusuri sepanjang jalan Ahmad Yani, Surabaya, tepat di depan sebuah Badan Instansi Logistik, terdapat sebuah bangunan yang unik jika dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya. Menghadap ke Tenggara, Monumen Pelangi di dirikan.
Warna krem mendominasi fisik bangunan tersebut, menyirip membentuk tulang daun memanjang dan menawan. Sekilas tidak terlalu kontras, namun menjadi aksen yang mampu menarik perhatian

Pada bagian depan monumen, Balok-balok beton yang tersusun Rapi berjumlah 31 buah sangat diagonal disertai gemericik air yang menerpa.
Agak kebawah, terdapat tulisan yang terpahat diatas plat besi berbunyi:"Kolam Air Mancur, Bukan Area mandi/berenang.(Listrik tegangan Tinggi)"

Monumen Pelangi -Surabaya

Melalui monumen pelangi ini, Ada sebuah pernyataan menarik yang melibatkan nama Tri Rismaharini.
Yah, nama Ibu Tri Rismaharini ini memang penuh dengan kharisma, baik di Surabaya sendiri, maupun di luar kota Sidoarjo (misalnya saat Kementerian Kesehatan RI menilai Kota Surabaya- Jawa Timur layak menyandang predikat kota sehat tingkat nasional).

Dengan santun, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan: "bukan penghargaan yang saya cari, namun mewujudkan kota yang benar-benar nyaman dan layak huni sebagai Kebanggaan bersama"- di lansir koran jawapost


Bagi saya pribadi, akan pentingnya menggaris bawahi pernyataan beliau dibalik sukses berdirinya monumen tersebut, seperti membuka kembali histori panjang yang pernah saya tekuni sebagai seorang Blogger. Disamping pemanfaatan lingkungan di sekitar monumen yang telah lama saya pergunakan sebagai wahana menghibur diri, tempat rekreasi dengan keluarga, ditempat ini pula, saya rajin menempa diri mencari inspirasi menulis. Adapun maksud lain ikut merasa tertantang berkreasi dengan sarana apapun yang tersedia.

Ketika sedang duduk melamun misalnya. Saya menangkap banyak pemandangan yang tersaji, menuangkan pemikiran menjadi coretan tanpa harus banyak vokal. Ketika rasa bosan menulis menjelma menjadi malas, saya ambil kamera saku. Memotret apapun objek yang menurut saya tidak bagus untuk dijadikan pelengkap tulisan. Walaupun serba apa-adanya, itulah saat-saat menegangkan bagi pria punya selera untuk mengabadikan cerita sebagai kesenangan

Acapkali kesenangan tersebut memuncak, saya cenderung ceroboh menggilas apapun. Penulis suka-suka yang sudah lepas kontrol, tidak punya aturan apabila tulisan yang dilampirkan di blog masih memiliki kekurangan dan harus banyak-banyak melakukan revisi di Sana-sini.

Disini, di blog ini, setelah cukup lama menulis, saya belum memiliki nyali yang jelas dengan apa seharusnya mengangkat Piala kebanggaan yang dimaksud, entah Piala Kebanggaan yang nantinya terbit menjadi sebuah Buku, atau yang lainnya. Karena saya yakin yang selama ini saya hasilkan bukan sebuah kebanggaan, melainkan hanya pelampiasan kesenangan. Meskipun contoh dan tauladan telah banyak saya printscreen dari petinggi daerah seperti Bu Risma sebagai parameter, namun ada 1 hal yang membuat saya masih ragu-ragu.

Timbul sebuah apriori jika seandainya kelebihan yang saya miliki sekarang bertunas kesombongan. Ketika batang kesombongan itu mulai tumbuh tinggi seiring waktu, Tinggal menunggu saja bunganya mekar lalu terjatuh. Dan pasti rasanya sakit sekali jika saya menjadi bunga tersebut. Sehingga sampai suatu ketika, saya masih berpikir-berpikir lagi untuk menerbitkan semua tulisan saya menjadi buku.

Gimana mau nerbitkan buku? Lha wong untuk nulis diblog saja, saya sendiri masih belepotan EYD-nya. Gimana mau menulis untuk 1 lembar naskah buku yang akan dicetak
C-A-T-E-T! :D:

Hingga pada suatu ketika, Lafadz syukron itu muncul. Meskipun durasi yang cukup singkat dalam menjalin pertemanan keluarga, saya tetap bersyukur. Saya memperoleh masukan, himbauan dan dijewer oleh mereka-mereka ini. Mereka yang jauh lebih mengerti dari saya. Mereka yang lebih lama mengenyam garamnya kehidupan. Sehingga pantas apabila Loyalitas adalah Kharisma yang hanya di miliki manusia berumur dan sangat berpengalaman.


"Ayo mas Ngeblog sing Enak!, tapi ojo Sakarepe dhewe" +Pakde Cholik

 "Bertahap Her. Jangan sampai juga karena takut salah terus gak jadi nulis. Pokoknya tulis saja, perkara nanti ada yang salah "grammar" atau aturan penulisan ... ya nanti kita betulkan. Ini asiknya nulis (blog)."+Om NH

"Blog itu enggak dibatasi aturan baku sam!, tapi bukan berarti kita ngawur
tapi yo blajar dikit2 demi dikit
sebab siapa tahu suatu saat nanti blogger nulis pada tulisan yang baku misal buku"+Essipus
Dari Literatur yang bersifat mencerahkan diatas, saya terpanggil untuk memahami tulisan saya sendiri. Saya belajar dengan apa yang diperoleh melalui upaya kerja keras tanpa harus buru-buru lekas puas
Tatkala sedang tambang ide, maupun di saat gencar-gencarnya memperoleh ide, saya berusaha untuk tetap tenang dan mengevaluasi diri dengan harapan tidak melanggar kaidah-kaidah menulis sehat. Belajar untuk tidak jorok dan belajar nulis tidak sesukanya.

Memang, semua orang boleh beranggapan bahwa: Yang muda yang berkarya dan harus senantiasa berada di Gugusan depan.
Tapi untuk urusan Loyalitas, belum ada prestasi gemilang anak muda yang mempu menandingi cara berfikir orang tua dalam menyampaikan sebuah amanat. "Yang di Tua-kan" lebih dominan memegang peran membina, dan piawai mengawasi. Orang yang lebih tua(yang di Tua-kan) nampak sangat keren dan itu sangat matang jika melihat dari tingginya usia dan pengalaman. Karena kebanyakan, yang muda-muda seperti saya ini manusia bertype Tendesi, mudah tertiup angin dan wajib hukumnya di "gembleng" agar mentalnya terdidik tidak menjadi serakah.
Disinilah saya berusaha sekeras-kerasnya mencari hikmah dari ketiga pernyataan di atas

Itulah yang membedakan mengapa Orang yang lebih dulu hidup di zaman dulu, karena tiap katanya lebih punya "aji", petuah-petuahnya begitu sakti untuk dipatuhi, sehingga saking bertuahnya, Ada amanat yang sempat dikeramatkan sebagai mantra.


Nah, kembali kepada Kebanggaan yang di maksud. Mengingat kembali 3 Appointment diatas, saya menyadari bahwa arti kebanggaan itu merupakan suatu Kontribusi dari mereka yang lebih tua sebagai wujud ucapan terima kasih kepada kita. Bukan karena kita dipuji atas prestasi, atau presentasi yang telah  dengan susah payah kita raih, lantas menjadikannya sebagai dasar pembenaran diri tanpa menghiraukan pertimbangan lain. Bukan kebanggaan yang dimaksud untuk mendidik jiwa kita agar semakin takabur. Namun kebanggaan yang semata-mata membuat kita semakin berbenah dan lebih santun. Dalam hal ini adalah Penghormatan kepada Orang yang lebih tua dari kita. Baik secara tutur kata dan cara kita bertingkah laku kepada orang tua dan "Orang yang di Tua-kan".

Kebanggaan hanya dapat dirasakan ketika orang lain (yang di tua-kan) mulai mendekati kita, Lebih intens merangkul dan memberi wejangan.
Jika para rekan (yang di tua-kan) mulai segan menghampiri, sampai-sampai melampaui batas ini, menjadi sebuah bukti bahwa keberadaan kita(yang merasa muda) sudah disamakan dan mampu diajak berinteraksi, bukan sekadar diakui wujudnya tanpa sanggup berbuat banyak.

Dengan kita mendapatkan aneka macam himbauan dan arahan, secara tidak langsung, mereka(yang di tua-kan) menitipkan separuh kepercayaan mereka kepada yang muda. Menaruh harapan besar kepada kita agar lebih baik lagi di masa yang akan datang. Maka kita selaku generasi muda memiliki sebuah PR baru yang di pertanggung-jawabkan sendiri generasi per-generasi tanpa khawatir terdegradasi zaman. (*semoga pemirsa tidak mbulet)

Jika kita di rasa cukup mampu menyelesaikan peliknya sebuah persoalan dengan baik, tidak terburu-buru,  maka seiring bertambahnya usia, kita akan mempelajari apa itu yang disebut Loyalitas.
Dengan Loyalitas inilah, modal utama mendirinkan Monumen Kebanggaan sejati dapat terwujud,
Lambat laun dengan sendirinya, saat memasuki lansia nanti, sayup-sayup terdengar tawa dan tepuk tangan hadirin yang hadir di rumah kita. Meskipun sorakan itu berasal dari mulut anak kecil cucu kita, paling tidak, kita memiliki sebuah nama harum yang bersumber dari diri sendiri untuk kemudian mewariskannya ke generasi sesudahnya.

Demikianlah yang disebut Kebanggaan tanpa batas itu

Pada penutup artikel ini, saya kembali berfikir apabila Arsitektur Monumen Pelangi di desaign dengan sengaja diagonal dari bawah, kemudian berurutan menjulang ke atas. Apakah ini faktor kebetulan semata ?
Atau mungkin Ini yang sudah mewakili gambaran bahwasanya kebanggaan itu diperoleh dengan proses, ada tingkatannya, yang tidak lantas dijadikan beragam alasan bagi  seseorang untuk mengeluh dan menyombongkan diri

Semoga nanti bisa ditularkan ke teman-teman kita yang lain sekaligus menjadi motivasi untuk diri saya sendiri..
Amiin

Thank You All, Aku bangga memiliki kalian semua ^_^


Postingan ini di buat sebagai tanda keikut-sertaan Lomba Artikel CineUs Book Trailer Bersama Smartfren dan Noura Books
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/13/2013 01:28:00 PM

7 komentar:

  1. wah ternyata monumen tersebut sarat filosofina.
    Tuh kan EYD saya juga masih acak2an, tapi saya dah nulis buku lho.
    Percayalah, ngeblog itu akan memotivasi kita membuat buku. Salah satunya Pakde Cholik. Dulu saya duluan, tapi kini pakde jauh lebih produktif nulis buku karena memang rajin ngeblog.
    Lha saya ngeblog duluan tapi suka hiatus, kini baru ngeblog lagi. Semangat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monumen itu hanya untuk me-reka-reka saja kok . Banyak penulis2 beken yang bersedia meluangkan waktunya utk mengarahkan. Sudi berkawand dan salah satu opsinya melalui komentar mas Haris ini.

      trims kunjungannya dan Salam rukun selalu ^_^

      Hapus
  2. Keren mas tulisanmu :) semoga menang ya mas, jangan lupa bagi-bagi hadiahnya juga :P

    Haduhh, saya ngerasa kecil, keciiil banget .. saya mesti banyak belajar disini ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. wedeh, jangan liat rewardnya mas. malah ndak maju kalau nulis dibuat tujuan komersil jadi pamali. Nulis aja terus, siapa tahu dilirik penerbit..eh ngarep ding :p

      Lagipula ini bukan kompetisi kok. jadi ndak ada istilah menang atau kalah, Tapi bisa dibilang pede kalao tulisan kita buat "jangkep-jangkepan" dan setara dengan semua peserta

      Hapus
    2. Ehh, maksudnya sih bukan begitu -_- Iya amiiinn, semoga cepet-cepet di lirik penerbit, saya pengen baca bukunya :D

      Jangkep-jangkepan iku opo mas :D saya bukan wong jowo -_-

      Hapus
  3. Setuju, kebanggaan itu berasal dari proses. Nice post :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih lho mbak evi, Ini kali pertama kunjungan blogwalking
      Salam rukun ^_^

      Hapus