Blogermie.com: Panas setahun, Dihapus hujan 1 rintik [Part-1]

19 Oktober 2013

Panas setahun, Dihapus hujan 1 rintik [Part-1]

Iklim sudah berubah, desa juga berubah. Namun yang selamanya tidak akan berubah adalah ketenangan yang terjadi pada diri Saya. Memang sangat disengaja bagi saya yang hidup berkoloni dengan orang tua dan seringkali berpindah-pindah untuk tetap menjaga apa itu arti menempatkan diri.

Di Surabaya maupun Sidoarjo, kota yang meninggalkan banyak kesan yang saya cintai sampai kapanpun ini, memiliki banyak cerita yang unik, lucu, Sowong. Selain cuaca saat ini yang tidak bersahabat lantaran pancarobah berkepanjangan, ada sensasi gerah dan cenderung Esmosi jika saya merunut kejadian-kejadian yang saya alami ketika bekerja
Dan satu cerita yang membawa makna sowong itu terjadi hari jumat yang lalu. Tepatnya tanggal 17-18 Oktober 2013.


Bekerja 3 shift dalam sepekan, 8 jam saja, ekspresi dapat dengan mudah terekam menjadi bisul. Yakinn!


Saya berangkat dari rumah dan mengawali shift pertama dengan rekan 1 divisi. Tidak terlalu istimewa sih pekerjaan itu, karena pekerjaan yang saya lakoni itu adalah petugas Costumer service merangkap maintenance (dalam waktu tertentu jika keadaan bisa sangat genting).

Ya saya tidak pernah merasa, jika 1 divisi jaga dengan orang paruh baya bergenre Madura bernama Mattali A.K.A Makowa ini bisa tidak sangat profesional. Atau lebih sopan jika APES tengah menimpa diri saya.
***

*Ini jam, 20.31 WIB, hari Kamis 17 Oktober 2013. Si rekan belum menunjukkan kesediaan untuk duduk di kursi operator. Kekamar mandi, cuci tangan, sambat, pokoknya aktivitas yang mengarah ke "Mbuletisasi".
Biarpun begitu, saya memaklumi hal tersebut karena beliau ini memang sudah mendekati masa pensiun untuk 8 tahun kedepan. Tentunya "lapar" dan segala bentuk gejalanya, adalah nafsu yang menimpa setiap orang ketika perut dilanda keroncongan.


Oh ya pemirsa. Sejenak bercerita kondisi tempat saya bekerja saat ini.
Dalam satu meja operator terdapat 2 unit Attendant Console, 1 Attendant console menjadi tanggung jawab pribadi yang menduduki. Andaikata ada kerusakan teknis, operator tidak diharuskan mengganti, tapi wajib memberitahukan kepada Kasub Teknisi jika memerlukan perbaikan. Harus detail dengan kronologi yang terjadi setiap detiknya. dan itu semua wajib ditulis di buku jurnal kerusakan.

Sementara Attendat Console hanya saya fungsikan 1 unit. Yang saya pakai selama ini, sudah cukup untuk menangani tanggung jawab pelayanan jika sewaktu-waktu ada permintaan sambungan lokal maupun sambungan SLJJ dari ruangan/Paviliun/bagian unit lain.
Jika ada yang membutuhkan konsul dokter maupun pada saat permintaan sambungan sedang ramai, Attendant Console kedua tetap dipergunakan sebagai alat yang bersifat membantu. (Yah karena Shift malam adalah shift terpanjang-tercapek, wajar jika 2 attendant console dihidupkan bersamaan).
Dilain Prioritas, Kedua modul ini secara bergiliran dipergunakan dengan harapan, 1 orang istirahat, 1 rekan lainnya tetap siaga tanpa tertidur.)

Ok, kembali ke cerita.

*Ini jam 21.14 menit.
Meskipun rekan saya ini telah menduduki kursi operator, perangainya tidak pernah berubah hingga kini. Setelah 4 tahun berkenalan, kebiasaan alami yang menurut saya lumrah adalah makan, kentut, menguap, dan berak. (itu belum termasuk etika kesopanan dan kebersihan) sepertinya akan habis kata buat saya.
Namun alasan teknis untuk tidak membuka Attendant Console adalah hal yang sampai saat ini sulit diterima. Beliau berdalih sambil Ngotot:

"Gapapa her, Permintaan telpon masih sepi toh?"

Kok bisa ya menjawab seperti ini? Lha memangnya sampean kerja itu dibayar untuk tidur gitu tah?
Yawis ndak papa, karena sampeyan tergolong manusia tua, yang makin tidak produktif.
Besar harapan saya berdoa untuk anak saja, agar si Irma tidak dibekali sifat yang demikian
. Dalam hati, saya bicara sendiri.

Tanpa banyak bicara, saya cuma diam sambil tanpa memberikan perlawanan. Daripada saya nimpali omongan itu seperti orang dungu, saya mengganti channel televisi dengan menyaksikan Ludruk Kirun di JTV.

*Pukul 22.15, saya menyarankan beliau ini tidur. Ini merupakan sumbangsih saya menghormati yang lebih tua. Dengan mempersilahkan yang lebih tua tidur di kasur, mungkin itu adalah jalan terhormat istirahat dengan nyaman tanpa terganggu dering telpon.
Alasan logis saya juga bertutur: Daripada kursi tersebut hina tiada berkah diduduki orang yang ngakunya berangkat bekerja dengan niat mencari nafkah.

Ah...persetan!, karena beliau terlanjur menyanggah:.

"Aku gak ngantuk Her!, Aku gak isok turu jam segini"
"Kamu saja yang tidur"

Saya cuma ngelus dada sambil menggerutu :" Ealah!, lihat saja siapa dari kita yang akan tertidur lebih dulu!"

Daripada bergontok ria. Sambil mendengar kidungan gamelan yang merdu, saya menenangkan diri. Disamping permintaan telepon yang tak kunjung berhenti, saya tidak ingin kesyahduan itu pergi. Saya membuka bontotan Tupperware sang istri dan melahap makanan terfavorit "Lontong mie" jeh.

Namun, belum habis kuah Lontong mie saya hirup. Sayup-sayup terdengar suara gaduh gergaji motor...(ini terjadi pukul 22.30 pas). Sudah dipastikan pelaku tersebut bukan utusan tuhan untuk mereboisasi taman rumah sakit. Tapi lebih kerennya apabila rekan saya ini sudah uzur mengergaji nalurinya untuk Ngorok!

Grrrr...Grooooo...Grooookkkk...groookkkkkk

Hal ini terjadi dengan tempo yang cukup lama, Hingga tiap kali saya ingat bekerja di instansi ini kurang lebih 2006 yang lalu. Kejadiannya masih tetap sama dan berulang terus-menerus. Sampai Bapak paruh baya ini lupa kalau dirinya tertidur di atas kursi.
Nyamuk-nyamuk bertempelan, sekujur badan bentol-bentol. Tapi tak satupun peringatan alam seperti itu yang membuatnya terbangun. malah Ngoroknya menjadi-jadi dengan intonasi tinggi
Antara jengkel, kasihan dan lucu, sebenarnya tak sampai hati juga. Kalau mengingat bengalnya orang ini, malas, "Pengku" dan maunya enak sendiri, Mungkin pembaca juga akan ikutan "gemes".

Karena beliau tidur dengan keadaan tidak berpura-pura munafik, Pukul 23.11, saya memberanikan diri menyulut Obat nyamuk bakar. Tak lupa AC saya matikan, jendala saya buka sedikit hingga meninggalkan celah sedikit. Kipas angin saya pasang dengan kondisi terbalik dengan harapan asap rokok yang meracuni ruangan ini bisa menerobos keluar melalui rongga jendela itu.
Kopi hangat saya aduk, tak lupa Rokok 1 bungkus sudah siap saya pilin untuk menemani jaga. Entah sampai kapan kantuk itu datang, walaupun nyatanya saya memang sering terjaga dan hampir-hampir kurang tidur


*Ini jam 03.45 WIB, hari Jumat 18 Oktober 2013.
Mata saya berkunang-kunang, jalan-pun terasa sempoyongan biarpun berkali-kali saya memanipulasinya  dengan cuci muka. Tapi mau bagaimana lagi, seringkali perasaan menolak itu mendera, makin di lawan, makin cepat saya putus asa. Itu pertanda harus membangunkan rekan saya untuk bergantian jaga.

Komunikasi kami tidak banyak, hanya mencolek lengannya dan berpamitan. Itupun belum dibalas dengan aktivitas yang saya inginkan. Usai rekan saya ini bangun, Ia berpamitan ke kamar mandi...pipis dulu katanya.
Belum puas pipisnya, beliau kembali menuju ruang dapur, masak air dan menyeduh teh hangat.
Mengambil kembali bungkusan nasi yang dia beli tadi malam dan makan sisanya sebagai hidangan santap malam..katanya'

Genap sudah perputaran waktu. Jarum pendek ke Arah 4, jarum panjang ke arah 12, itulah hal hal yang paling membahagiakan menurut saya lantaran bisa benar-benar merasakan istirahat. Walaupun saya meludah berulang kali di wastafel, saya tidak ingin orang ini mengetahui kalau "Tidak semua orang jujur boleh seenaknya di nistai, sehingga cukup dengan ekspresi inilah saya bisa melampiaskan emosi.

========================================================================


Saya tidak ingin dibangunkan orang egois itu, maka saya menyeting Alarm untuk bangun 1 jam kemudian agar bisa sholat lebih awal. Hingga tidak ada kemauan untuk bersih-bersih pun, saya masih bersikap seperti sedia kala. Hanya diam, Hingga sebuah Wejangan baru itu datang...untuk kemudian...ber

Ber......sambung
Judul: Panas setahun, Dihapus hujan 1 rintik [Part-1]; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/19/2013 02:50:00 PM

2 komentar:

  1. arrrrghhhh tidaaaaaakkkkk...
    kenapa ber...sammmm..bung?

    lalu gimana dengan bapak ngorok gergaji itu? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akkhhh tidak, kenapa miaw selalu saja datang belakangan...?
      Besok ada lanjutannya kok :)

      Hapus