Blogermie.com: Pendengaran Alami Menuju Tua

29 Oktober 2013

Pendengaran Alami Menuju Tua

Maha suci Allah.
Makin kesini, saya merasa hidup saya makin berwarna. Saya masih bisa bersyukur, biarpun tanggal tua gak gablek duit, saya masih memilik 5 panca indra yang tergolong sehat. Tidak ada satupun dari karunia itu yang tidak hebat. Jika Allah mengurangi fungsinya, itu pertanda bahwasanya Yang maha kuasa mencabut beberapa keberkahan itu karena sengaja atau tidak, kita pasti pernah menggunakannya untuk berniat tercela


Ini bukan karena pengaruh budaya istri yang gemar menyaksikan Sinetron Haji Mukhidin itu, Bukan pula faktor umur seseorang yang menghambat kinerja indra pendengar, Yang masih muda-pun, lambat laun juga mengalami budek walaupun sesaat. Namun bukan berarti dijadikan alasan untuk pura-pura tidak merasa.

Ok pemirsa, karena hari kemarin adalah hari yang menurut saya paling mengesankan. Ada sebuah kisah yang berisi sedih dan senang, ada pula kemurungan yang membawa berjuta manfaat agar Allah SWT akan senantiasa memberikan kita Ridhonya demi menjadi manusia yang mampu mendengar dengan baik. Saya jamin tulisan ini arahnya ke "Lebih Nggapleki", dan bukan "Prekitiew"

Kemarin siang, 28 Oktober 2013, cerita saya sangat garing, karena sejak berangkat dinas siang, ada sepucuk SMS yang berisi teman satu kantor izin tidak masuk, jadi dengan terpaksa saya jaga sendirian mulai pukul 13.30 WIB sampai 20.30 WIB. Pada batas waktu itulah kendala saya temui dimana-mana. Mulai dari laporan kerusakan speedy, permintaan sambungan telepon banyak, sampai Genset RSAL naik turun Voltasenya... Alhasil lampu mati dimana-mana.

Disamping harus membuat jurnal laporan kerusakan dan menyerahkannya ke bintara jaga, Saya harus mendengarkan keluh kesah dan komplain sebagian perawat rumah sakit yang kongsi akan keadaan pasiennya yang memburuk dan butuh konsulan dokter dengan segera via telpon. Tapi mau diapakan lagi, kondisi listik mati, sedangkan saya sudah berusaha semaksimal kemampuan..

Disini, saya belajar banyak hal cukup dengan membaca perangai seseorang lewat pembicaraan telpon. Puji syukur, Ada beberapa orang yang longgar menyadari kekurangan itu, namun ada juga yang lebih berusaha ngotot mengikuti kehendaknya sendiri tuk tetap minta disambungkan.
Untuk itulah, Saya lebih memilih mendengarkan pertanyaan mereka terlebih dahulu tanpa memutus arah pembicaraan, setelah mereka menyampaikan uneg-unegnya sampai tuntas, barulah saya menjawab sesuka hati sesuai keadaan teknisnya dilapangan.

"Bukan atas dasar sesuka hati kita", itu saja

Terkadang, jika waktu bertepatan dengan hadirnya perwira dinas yang berkunjung menyidak dan menginter-view situasi saat itu. Dengan tenang dan fokus, Saya harus menjawab semua pertanyaan dari perwira dinas yang saat itu dengan biasa, tanpa ditutupi dan apa adanya.
Tidak muncul peluh kerigat yang sebesar bijih jagung kala itu, kecuali jika saya dalam keadaan takut maupun gugup.

Sikap sempurna tatkala duduk tepat di depan meja saya, menatap pundaknya tegak lurus tanpa basa-basi, karena saya yakin dengan posisi inilah yang disebut penghormatan, hal mendasar yang saya ketahui jika posisi dan jarak paling dekat antara mata dan bahu, Inilah yang disebut Hirarki (Kecuali jika perwira itu adalah Kowal dengan posisi badan selonjoran, siapa saja sudah menyangka, menyaksikan hal yang bersifat mesum jika memang fikiran kita condong ke arah negatif).
Disamping untuk melengkapi sebuah tugas, meluncur jawaban tidak profesional sesuai porsi saya sebagai jongos dengan menggandeng beberapa kata penyesalan berikut ini...

Maaf Ijin!...Gangguan dari Telkom, sementara ini sambungan SLJJ belum bisa dilayanai kecuali untuk lokal..

Maaf Izin!, PLN mati..mohon menghubungi sub divisi jaga listrik, untuk menghidupkan genset darurat...

Maaf izin!, saya sedang jaga sendirian..

Setelah perwira berusia 45 tahun itu menyelesaikan kata-kata, sudah lega dengan keluh kesahnya tanpa harus dialihkan pembicaraannya, untuk kemudian kata-kata yang terlontar tadi, saya renungkan sejenak.
Setelah merenung sebentar, barulah saya menjelaskan duduk permasalahannya dari awal hingga akhir. Pokoknya tidak ada satupun alasan yang dikurangi maupun ditambahi, selain bukti realistis yang sanggup menjadikan diri saya sebagai manusia super sibuk ...tidak lantas menghindari parade hukuman.
Alhamdulillah beliau menyadari, dan sudi dimaafkan.

***

Pemirsa. Tentunya dengan tulisan ini, tidak dijadikan alasan bagi semua orang pinter itu harus memiliki Ijazah Sarjana, masih sedap, belum nikah lagi. Namun di sisi lain dengan ke-aroganannya memiliki jiwa muda, masih saja memotong, menumpangi, meludahi pembicaraan orang lain yang lebih tua tanpa mendengarkan dahulu isinya guna direnungkan. Apalagi membantah suatu jawaban/saran, Konsekuensinya cuma 2...terkucil secara pelan-pelan atau dongkol dengan dirinya sendiri.
Bersikap yang demikian, Itu akan tetap sama halnya seperti menjadi padi yang tetap kopong isinya.

Semoga pria budek ini bisa Insaf

Saya lebih memilih menjadi Orang bejo, tapi kuping dan hati bisa bekerja bersama-sama tanpa mengurangi fungsinya. Ketika ada orang bertanya, maka saya akan membalas dengan menjawab, bukan malah si-penanya balik bertanya seolah olah memuntahkan jawaban orang tersebut. Itu menandakan orang/saya/si-penanya, belum memiliki sifat Legowo alias menunjukkan dirinya "pengku". Kalau sudah menikah, baru akan merasakan bagaimana belajar legowo itu.

Walaupun dalam keadaan sakit, tersesak dengan apa yang diucapkan, tidak usah terburu-buru membuat kisruh dan misuh. Karena tanpa kehadiran mereka yang sangat pintar ini, kita tidak akan pernah belajar arti pentingnya loyalitas. Dan betapa kecewanya ketika si pintar tersebut melakukan pembenaran dan akhirnya tersedak oleh pendakwaan diri...

"aku kok merasa tersindir sih?, gak mempan layau, angin lalu",

Nah, ketika berseru demikian, bisa jadi ... Allah itu maha adil dan menegur kita melalui perantara orang lain, yang menjadi alasan bahwa Allah SWT terlalu sayang sama kita.

Tak terbayangkan jika Allah SWT sudah menutup hati dan pendengaran seseorang..saya tidak tahu lagi akan menjadi keras seperti batu jenis apakah orang ini. Atau muncul batu jenis baru... misalnya Batu Empedu?

Salam Roekoen
Judul: Pendengaran Alami Menuju Tua; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/29/2013 12:02:00 PM

2 komentar:

  1. Aduh isi blognya keren2 mas.. selamat hari blogger walau telat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh..mbak hana..saya sudah menunggu kedatangannya:)
      Tapi kok mampir di postingan yang ini mengingat tulisan ini terlalu jelek untuk mbak.

      Harusnya mbak duduk disini bersama bundadari itu Bundadari dan Selendang Rasa yang tertinggal itu

      Hapus