Blogermie.com: Selamat Jalan Guruku, Selamat Tinggal Masa Lalu

21 Oktober 2013

Selamat Jalan Guruku, Selamat Tinggal Masa Lalu

Hari berputar begitu cepat. Seolah kemarin, di pagi hari...bahagia itu datang bersama keluarga kami setelah sekian lama tak bertamasya ke Taman kota.
Berselang beberapa jam selanjutnya, kebahagiaan itu sirna menjadi kesedihan tatkala sebuah pesan sms masuk ke Hp saya berbunyi:

Pesan bergidik dalam hati dan 1 tanya serius kepada si "Ari"

Tersentak kaget dengan isi SMS tersebut?...jujur iya.

Dengan membaca pesan elektronik itu, sama halnya membuka raport merah yang pernah dialami ketika duduk di bangku sekolah sejak saya dinyatakan resmi menjadi warga SLTPN 2 Sukodono.

Mimbar Bahauddin, Guru mata pelajaran Sejarah yang pernah membuat si-cupu ini berdiri di lorong kelas 1 jam penuh lantaran tak hafal Sumpah Gajahmada. Guru yang pernah membuat saya ditertawakan teman-teman hanya karena gaduh dikelas, dan Guru satu-satunya yang hampir tidak pernah memberikan hukuman fisik biarpun terlampau seringnya si murid lupa mengerjakan PR.

Kerinduan kepada beliau kembali teringat ketika saya bertandang ke rumah duka. Melalui salah seorang teman yang kebetulan juga masih satu tetangga dengan almarhum, Ari Firdiyanti bercerita kronologi beliau wafat. Tanpa menderita sakit apapun, tanpa racun rokok, dan tanpa mengeluh.

Yah, Beliau menghembuskan nafas terakhirnya tepat jam 4.30 pagi, usai sholat shubuh. Almarhum kembali ke kamar dengan tujuan melanjutkan tidurnya. Ini juga diperkuat oleh pengakuan Istri yang tak seperti kebiasaan almarhum usai Sholat. Almarhum langsung beres-beres rumah maupun menyiapkan perlengkapannya sendiri untuk berangkat kerja(Maklum, profesi guru yang harus dituntut berangkat lebih pagi)..Tapi sebelum almarhum pergi untuk selamanya, Almarhum hanya berpesan:

"Buk!..Aku capek..tolong nanti gak usah dibangunin."

Di luar dugaan, Si-istri tak menyangka itulah kata-kata terakhir sang suami kepada dirinya.

Ibu paruh baya itu dan teman saya Ari, kian kuat berpelukan. Sesenggukan berlinang kesedihan. Walaupun dalam hati ingin menangis pula, tapi saya tak ingin air mata itu tumpah. Hanya sedikit kekecewaan saya terhadap Ari yang sampai saat ini belum terjawab.

Kenapa baru SMSnya saya terima sore itu?.
Apa karena sifat wanita yang demikian tertutup, atau Hp saya yang soak layanan SMSnya?


Dunia ini sungguh penuh keraguan dan teka-teki....

***
Pak mimbar meninggal di usia 45 tahun, terpaut lebih muda 2 tahun dari usia sang istri. Namun itu bukan menjadi batu sandungan bahwasanya almarhum meninggal dengan keadaan Khusnul Khotimah. Dalam keadaan genting malaikat maut datang, almarhum tidak ingin merepotkan orang di sekelilingnya, walaupun sang istri tengah mengakui bahwa almarhum memang seorang perokok berat seperti saya.

Dibalik takdir tuhan, manusia tidak akan tahu pastinya kapan ajal itu menjemput. Tapi saya yakin semendiang kepergiannya, beliau telah banyak berbuat baik kepada negeri ini. Sebagai seorang tokoh pahlawan tanda jasa dengan diliputi Sosok penyabar yang menghias hidupnya.

Melalui kedatanganku yang terlambat kemarin, tersisip surat Al-fatihah dan harapan besar kepadamu. Semoga Amal ibadah yang telah engkau berikan kepada kami...dengan segala tulus-ikhlasmu mengajar semasa hidup, akan diganjar kebaikan oleh Allah SWT serta memperoleh syafa'at Rasulullah SAW.
Amiiin

Judul: Selamat Jalan Guruku, Selamat Tinggal Masa Lalu; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/21/2013 08:32:00 AM

5 komentar:

  1. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un .. mash terbilangmuda ya usia beliau. Tapi yang namanya ajal, siapa pun direnggutnya.

    Nama belakang beliau, sama dengan nama belakang kawan saya. Tapi kawan saya orang Sul Sel, Mas.

    Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak niar, kita ndak tahu kapan saat " itu" datang. Cuma sekali ingin berbuat baik, harapannya ingin selamanya hidup buat nebus kesalahan yang ada

      memang dengan melihat namanya memang bukan orang sini, tapi lebih tepatnya blasteran jawa-sulawesi. tapi almarhum dilahirkan disini.. :)

      Hapus
  2. Innalillahi... turut berbela sungkawa sam..

    semoga amal ibadah pak Mimbar diterima di sisi Allah SWT.. aamiin

    BalasHapus
  3. Ya, kita kadang baru merasa kehilangan ketika memang benar-benar kehilangan. semoga amal ibadah pak Mimbar diterima di sisi Allah SWT.. aamiin

    BalasHapus