Blogermie.com: Seutas Asa untuk Tulang Rusuk si Banteng

30 Oktober 2013

Seutas Asa untuk Tulang Rusuk si Banteng

Manusia itu pintar. Hingga terlalu pintar mengutip banyak kata bijak yang berleleran, lalu memungutnya untuk disadurkan kembali ke banyak sahabat.
Namun sebelum peristiwa kopas itu timbul, alangkah baiknya kita perlu waktu lebih lama menahan kata bijak itu untuk diri sendiri, merenungkan maknanya, untuk kemudian meneruskannya ke orang lain.

Suatu ketika, saya mampir di sosial media. Banyak yang suka dengan sebuah kutipan, lalu tiba-tiba sekelompok netizer menglike-nya. Isinya seperti ini:

"Tulang rusuk yang raib, takkan tertukar"

Lantas kemudian, saling beradu argumen dengan hati dan akal sehat saya sendiri:

Akal Sehat: Yak benar!....
Hati: Ah masa..Begitukah...?
Akal Sehat: Yakin...aku yakin takkan tertukar, karena aku pernah mengalaminya
Hati: Iya, pasti takkan tertukar, tapi mungkin lebih tepatnya "berganti".
Akal Sehat: Kok bisa ??.
Hati: Mungkin ini hanya, masalah keyakinan, dan keyakinan bisa berubah. Satu yang tidak mungkin dipungkiri berubah adalah suratan. Masalahnya kita yang terlalu sering memaksakan suratan ini hadir ditengah-tengah kita.

Ia tak pernah datang terlambat kecuali di hadapannya berdiri seorang pria buru-buru yang gemar mengumpat. Padahal ia mungkin menunggu waktu yang tepat untuk keluar dari persembunyiannya.

Masalahnya, kita yang sering memaksakan waktu, tidak memperhitungkan pentingkah arti memahami, dan berkenalan lebih jauh... Lalu membuatnya seolah-olah setelah berpisah, selalu menyalahkan waktu.

Tuhan Maha Adil dan tahu mana tambatan hati yang terbaik.

Saya banyak belajar tentang satu hal dari beberapa orang. Orang yang tak pernah lagi memandang saya sebagai Arjuna, hingga sang Arjuna menjadi almarhum yang tak punya tempat lagi di hatinya, tapi semua itu tiada masalah.

4 tahun dengan beberapa pertemuan yang tak terduga lalu diakhiri beberapa perpisahan yang mungkin disengaja. Selama itu pula memaknai kisahnya, menjadi pelajaran untuk tetap dikenang agar tidak berujung menawar suratan Tuhan atau menyesali perkenalan.

Akhirnya, Saya telah bangkit dari seseorang dan kisahnya. Orang yang dulu sering saya sapa dengan kalimat: Mbak, Sekarang lebih uzur saya puja dengan sebutan Bunda.
Bunda tersebut yang saat ini tengah tak sadarkan diri bermandi air liur di bibirnya, 3/4 tubuhnya melintang sepersekian derajat sambil menggigau.

Makhluk bernyala-nyala amarah itu disebut Pria
Banteng yang kalap, kemudian mengabaikan sasarannya
Menyeruduk tak sadar jika sasaran tersebut adalah tulang rusuk yang akan mudah bengkok.
Bahkan jangan sampai tulang rusuk itu patah. menyesal karena dibalik jubah bercahaya "traje de luces" matador itu, ada sosok wanita rendah hati yang tengah menyaru

Tulang rusukku
Tak banyak dusta diantara kita, yang membuat kita gelap mata
Tapi sapuan kata sebelum kita bertemu dulu, denganmu mengawasi
Berbagi rasa untuk menghiasi...
Lupakan semua yang dulu pernah terjadi
Seutas Asa untuk Tulang Rusuk Banteng
Foto diperagakan oleh calon model Trubus 2010


Bahwa sebenarnya, Cinta itu tak se-cemerlang perjalanan Arjuna mencari gabah, melainkan sebuah kisah "Amazing Race" antara Banteng dan Matadornya. Dimana keduanya bisa saling berbeda pandangan dan berselisih pendapat.

Namun, jika kedua perbedaan itu akhirnya bertemu dalam kebersamaan...kita tidak akan menolak mau menjadi apakah diantara keduanya...karena riuh itu...menyenangkan...
Judul: Seutas Asa untuk Tulang Rusuk si Banteng; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/30/2013 05:15:00 AM

2 komentar:

  1. Menghilangkan perbedaan adalah sia-sia
    Yang lebih penting, perbedaan itu saling melengkapi satu sama lain
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah dhe, akhirnya saya nemu jawabannya
      Matur nuwun juga sudah menyertai perjalanan menulis saya ^_^

      Hapus