Blogermie.com: Wasiat Bijak Paman Gober: "Nol Rupiah lebih baik dari Minus"

09 Oktober 2013

Wasiat Bijak Paman Gober: "Nol Rupiah lebih baik dari Minus"

Ketika Berangkat Shift sore tadi. Sekitar pukul 13.32 tadi saya bertemu dengan seorang kakek berusia kurang lebih 59 tahun. Didampingi 2 cucu laki-lakinya yang berusia kisaran 5 tahun, kakek tua tersebut tampak kewalahan melihat tingkah kedua cucunya tersebut.

Diawali cekcok segelas susu kemasan bermerek, mereka berebut recehan yang diberikan kakeknya itu. Dilemparkannya uang receh 500 oleh 2 bocah itu kemuka kakek. belum sempat mencederai, hingga koin receh itu berakhir menghantam lantai dengan cukup keras.

Terhuyung sejenak, saya berusaha memunguti uang receh yang berhamburan tersebut dan mengembalikannya ke kakek. Terlihat keluh menyaksikan kejadian itu, sementara  kakek berulang kali mengusap dada mengelukan perangai 2 cucunya yang bercita-cita menjadi tentara.

Sambil menyodorkan bantuan seadanya, saya berbincang sejenak dengan beliau:

Saya: "Ada apa kek, ada yang bisa saya bantu?"
Kakek: "Oh, terima kasih mas, mohon maaf sudah merepoti"

Saya: "ndak papa kok kek, saya juga pernah sableng seperti mereka, kakek mau berobat ya"

Kakek: "ya, saya mau ke nebus resep dari poli diabet, mas tahu dimana letaknya apotik purnaanggota?"

Saya:"mari saya antar kek"

Disebuah bangku panjang ruang tunggu, kami meneruskan perbincangan yang sempat terputus cukup lama. Jari telunjuknya mengarah ke cucu tertuanya.

Kakek: "Yang itu namanya raihan mas, yang kecil namanya dimas'.
Beginilah mas, putu-ku ora iso di ajak kompromi. Bertengkar beli susu, uangnya kurang. Liat apa saja pasti dibanting"

"Kalau sudah bermain, Memang sufatnya sama-sama keras, kadang tidak pernah akur.
Cuma terkadang jika sudah membahas uang, merasa kurang, sukanya membuang. Itu yang tidak saya suka. Masih kecil saja sudah begini, bagaimana kelak mau jadi dewasa dan bermimpi menjadi pengusaha"

Tak sanggup berkata apa-apa, Saya cuma tertunduk pertanda malu. Karena pada suatu masa, saya harus jujur mengakuinya.
Dalam hati yang terdalam, saya cuma bisa mengeluh, masih beruntung anak jaman sekarang. Segala macam kebutuhan masih tercukupi, bahkan merasa tetap kurang. Kalau sudah mubazir, baru merasa butuh.

***

Terlepas apakah cerita yang dibagikan oleh kakek itu "hoax" atau tidak, Saya berusaha memetik hikmah. Hikmah bahwa seharusnya kita bisa belajar untuk lebih menghargai uang, seberapapun kecilnya.

Dan memang Indonesia sendiri adalah negara yang menghormati apa itu sederhana, boleh jadi kakek ini pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Masa-masa bingung dimana antara makan atau tidak besok hari, di saat kebanyakan orang di luar sana menyombongkan apa yang mereka lahap via Instagram.

Disini saya kembali teringat Komik Paman Gober yang menjadi 1 diantara komik terfavorit saya.
Melihat perangai paman gober yang memang notabennya Orang kikir. Melihat uang receh saja langusng dipungut. Namun siapa sangka, melihat gudangnya semakin lama bertumpuk dengan uang. Bahkan dengan merasa paling kaya, mandi sauna saja perlu ditimbun uang. wkwkwkwkwkw....

Paman Gober: sumber gambar Sukague(dot)com


Setiap orang akan lahir menjadi jiwa pengusaha, akan lebih baik jika kita juga mempelajari prinsip berharga menghormati uang, berapapun nominalnya.
Dengan cara memanfaatkan dengan benar setiap rupiah yang kita dapatkan dari berbisnis, kita akan mengetahui bagaimana menghadapi badai krisis tanpa harus berkelit dari keadaan itu.

Roda perputaran zaman selalu berubah, kadang bisa naik, kadang bisa rendah. Ada usaha yang boleh dikata ramai, tapi yang paling sering adalah masa-masa paceklik yang bisa setiap saat datang mendera.

Orang bisa saja berubah bangga seketika. Mengatas namakan Strata dan ingin memaksa diri agar terlihat kaya raya. Dengan terjerat hutang yang sangat besar, Maka sebenarnya hidup ini lebih terhina dari seorang pengemis.
Namun apabila pengemis memiliki saldo walaupun bersilisih nol rupiah, sementara saldo kita minus. Di saat itulah kita menyadari dengan 500 perak dikantong celana. Itulah yang disebut bersyukur

Salam rukun (waktunya pulang)
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/09/2013 08:46:00 PM

8 komentar:

  1. Kita memang perlu menghargai uang. Tapi ya jangan sampai terlalu bergantung pada uang.

    BalasHapus
  2. alhamdulillah kalau ada duit di kantong walaupun gopekan, buat beli garem di kenyot pake air, hahah :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ya Sesuatu :D
      jawabannya mirip seperti ponakan saya jeng kalau gak kesampaian naik odong-odong :P

      Hapus
  3. Sebelum jadi blogger saya ini pengumpul recehan dari ngeklik iklan loh sam. Makanya begitu nikmat rasanya saat memiliki laptop sendiri dari mengumpulkan receh demi receh tadi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pencapaian luar biasa. Makanya saya suka dengan kisana. banyak hal yang belum semuanya tak pelajari.

      Sam jangan sungkan-sungkan damprat saya kalo masih mau dibilang sodara :)

      Hapus
  4. yg bagus itu punya jiwa hemat dan ngirit seperti paman Gober, namun juga punya jiwa dermawan seperti Snoopy.... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aha!!. berarti itu karakternya mas agus. punya pesan positif namun sengaja disembunyiin :)

      .

      Hapus