Atas Nama Iri, Jangan bunuh Mimpi Kami

Mimpi memiliki banyak arti, Kajian menggapai cita-cita, atau hasrat terpendam dalam menjalani hidup kita. Hampanya dunia ini tanpa kehadiran mimpi, cita-cita tak berarti.
Tanpa mimpi, hidup hanya berisi aktivitas makan, tidur, dan buang air besar.

Saya merasakan pernah punya Mimpi. Mimpi punya istri cantik, punya anak soleh, lantas upaya menyambung mimpi saya kelak setelah menikah…kemudian meneruskan cita-cita luhur setelah meninggal…ahh aneh ya…

Saya berfikir, mimpi yang saya gali sewaktu muda dulu dapat dilihat melalui kesuksesan orang lain, Melalui tangan-tangan teman-teman yang sudah menikah, sering kali saya terus dipacu agar sukses, maka cepat-cepatlah menikah. Dan itu benar adanya.

Hampir tiap orang yang berkeluarga, pasti punya mimpi, apapun itu. Karena subjektif, impian bisa berarti macam-macam untuk tiap orang. Karena begitu berharganya mimpi, seorang akan menghabiskan banyak waktu dan mengerahkan banyak tenaga untuk meraihnya. Bahkan bagi saya, ketika sang istri mengandung Irma, Irma-lah satu-satunya harapan yang membuat semangat hidup berapi-api. Mimpi-mipi yang dulunya cuma jadi angan-angan, dikabulkan Allah SWT melalui beberapa ujian…tanpa harus mengorbankan perasaan orang lain.

Sempat beberapa hari yang lalu, saya membuka akun twitter saya yang memang hampir jarang dibuka. Dengan maksud mencari hestek terpopuler yang mungkin bisa saja jadikan ide postingan. 10 menit saya menyusur dan akhirnya berhenti di hestek #PLN_bersih, sedikit ekspresi berkerut dan membuat hati saya bertanya-tanya.

Ada apa gerangan?

Karena itu bukan sebuah ancaman, saya menahan dan diam untuk beberapa saat…hingga pada akhirnya membiarkan seolah tidak terjadi apa-apa.
Dasarnya saya ini orangnya cuek, hal yang bersifat dengki adalah sesuatu yang lumrah di dunia maya dan itu selalu saya toleransi untuk alasan tertentu.

Setelah itu, saya berusaha menutup diri. menghindari publikasi media, vakum beberapa saat dari aktivitas maya dengan harapan agar orang disekeliling saya tidak curiga dan mengetahui apa yang terjadi.

Tapi apa hendak dikata, sebusuk-busuknya bangkai yang saya tutupi, akan tercium juga.

Karena istri saya ini orangnya aktif di jejaring sosial, bagda sholat asyar, sempat istri membuka akun Twitternya. Beberapa saat kemudian, dia hening, kemudian melemparkan ponselnya ke tempat tidur.

Karena saya merasa ada hal lain yang membuat istri saya bertindak tidak biasanya, Saya mencoba bertanya dan menghela nafas.

Ada apa?

Istri saya hanya menatap, sambil menangis.

Sudah mas, mulai sekarang, sampean berhenti nulis saja…aku kasihan sama sampean,, selalu dihujati orang….tapi sampean pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Rezeki yang kemarin dari Yamaha saja, sampean tidak menyentuhnya, ntar sampean dikira makan uang hibah

Saya cuma diam, pura-pura tuli. Memalingkan muka ke wajah irma yang sekarang sudah bisa belajar telungkup…”ah bahagianya melihat anakku”.

Irma pasti punya mimpi ya ^_^

Dengan tatapan penuh iba, saya faham keadaan Istri saya waktu itu memang sangat syok. Melihat ada twit yang cukup mencengangkan dimana mental istri saya tengah disoder.

Histeris, marah, dan naik pitam yang menjadi sebuah pertanda tidak terima apabila suaminya ini dikatai “penjilat maya” oleh orang yang mengaku berkeluarga itu.

Saya berusaha menenangkan hati sang istri. Beberapa kali saya sadarkan istri untuk mengulang kalimat Istigfar. Namun keadaan tak mempan, dan rasa-rasanya istri mulai terpancing dengan emosinya sendiri.

Diam-diam saya mention bapak tersebut…entah sampai sekarang keberadaannya-pun sulit saya ketahui agar beliau sudi meminta maaf.
Saya mencemaskan keadaannya…apa karena takut nantinya saya bullying…atau takut saya laporkan sebagai bentuk tindak pidana pelecehan nama baik?
Saya juga tak tahu tanda pertanggung jawaban seperti apakah yang saya peroleh dari beliau…Terlepas dari itu semua, saya sudah ridho dengan lebih dulu memaafkan beliau.

Jadi dengan segala kerendahan hati, saya meminta maaf.
Seandainya istri tidak menangis, dan Allah tidak menunjukkan kebenaran itu, mungkin saya tak perlu mention panjenengan

Permasalahan sudah selasai “Lillahi Taa’la”. Posisi beliau adalah sebagai kepala rumah tangga lebih mulia dari saya yang mestinya menjaga tutur kata. Karena bagaimanapun, beliau lebih dulu menikmati asam garamnya hidup, sudah sepantasnya tidak menjadikan polemik pribadi dengan menyangkut-pautkan nama saya sebagai pelampiasan. Ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah tanpa harus memaki-maki orang…dan saya rasa beliau jauh lebih dewasa dalam mengolah sikap yang demikian

Saya tidak ingin hanya karena kata-kata beliau kemarin, menjadi sebuah bumerang yang membuatnya kehilangan senyum anak-anaknya.
Dan kali terakhir tidak bertemu lagi dengan canda tawa keluarga, karena bisa saja beliau langsung masuk bui hanya karena sebuah ucapan yang tidak beliau kuasai…Menjadi tua itu perlu, tapi alangkah baiknya bijaksana juga lebih perlu.

Jadi saya minta tolong… jangan bunuh mimpi saya dan keluarga saya, meskipun apa yang terjadi waktu itu adalah penyakit hati yang disebut Iri

Saya rasa dengan menulis, Postingan ini sudah mewakili.

Salam rukun

Tinggalkan Balasan