Blogermie.com: Generasi Budeg, Si Penyangkal Realita

16 November 2013

Generasi Budeg, Si Penyangkal Realita

Semenjak masyarakat kecil mengenal Short Message Service (SMS), orang-orang riuh membicarakan ponsel. Pangsa era digital, makin ramainya produk ponsel dengan beragam merek bermunculan, mengakibatkan orang mulai segan membeli ponsel. Entah itu terbilang ponsel baru atau KW, semuanya diperlukan dengan 1 tujuan, yakni sebagai alat komunikasi moderen cukup hanya melontarkan sebait kata-kata.


Dengan memiliki ponsel, berarti 1 langkah lebih maju dalam menunjang suatu kebutuhan.
Tak pelak, banyak yang menganggap gaya hidup berponsel inilah, aktivitas hidup mereka agar tidak terlalu hampa. Orang rela berbondong-bondong mengubah statusnya menjadi masyarakat mampu, namun enggan meninggalkan budaya masa lalu

Dulu saking fanatiknya seseorang memiliki ponsel, berdalih memiliki citra eklusif melebihi kebutuhan pokok pangan. Buktinya, anak muda mulai terjerat gaya hidup yang menurut mereka paling seru. Cukup merelakan beberapa rupiah untuk membeli pulsa gretongan, Jalan Gawul dipilih. Mereka nampak sangat bergaya mengirit uang jajan hanya untuk berlangganan paket sms murah.

Dari tahun ke tahun, budaya produktif makin lengser dengan budaya konsumtif. Ponsel yang kini dibenami beberapa kemampuan layaknya sebuah komputer mini sekelas smartphone-pun menjadi penunjang (penunjuk) eksistensi diri makin merajalela dengan harga yang makin bersaing.
Percakapan melalui SMS, kini perlahan-lahan mulai ditinggalkan mengingat aplikasi chat yang menyerupai, juga tak kalah menarik apabila dibandingkan fitur percakapan singkat yang dibuat provider selular, kerena telah dibubuhi emoticon-emoticon lucu. Hingga muncul layanan Chatting multi platform seperti Whats-up, WeChat BBM, dsb, yang kesemuanya itu telah kompatible untuk ponsel-ponsel keluaran terbaru.

Karena budaya konsumtif inilah, kita mulai terjerumus dengan trend bergonta-ganti Ponsel, terutama menjelang pergantian tahun.
Loncatan aneh inilah yang kemudian melahirkan sebuah generasi yang tajam secara naluri, tapi budeg secara kesopanan. Gaung-gaungnya, saya menyebut sebagai Generasi Budeg.


Generasi budeg menjadi cerita paling bergengsi sepanjang abad. Banyak anak muda yang acuh dengan melancangi perintah orang tua. Banyak anak di usia sekolah yang mulai lupa dengan kewajiban mereka untuk belajar. Bahkan, banyak anak muda yang mulai kehilangan konsentrasi untuk tidak melanggar ketentuan hukum, seperti menjual harga diri mereka hanya untuk memiliki sebuah smartphone layar sentuh.

Mungkinkah nantinya, Generasi budeg ini akan membelah diri dalam kehidupan anda?

generasi budeg

    Ambil missal, secara sederhana saja:
  1. Di dalam bus, dengan posisi telinga kiri dan telinga kanan di sumpel earphone, jemari mengetik messsenger, seorang anak terlihat serius menatap layar ponselnya. Disela-sela percakapannya di jejaring sosial, dia mention ke salah seorang teman:

    “Lagee di angkot mate!, histeris!!…. panasnya kaya #Neraka bocor..!!" @bos_romlah



    Dilain sisi, kenek bus menyahut si-penumpang ini untuk segera bayar ongkos, si pelaku perlahan-lahan cuek dan tuli lantaran terlalu asyik mendengar Empitri. Seolah tenggelam dengan Tweepsnya sendiri.


  2. Menunggu Jus buah datang di sebuah depot nasi, datanglah generasi budeg dengan mantengin tablet layar sentuh, sambil update status via Facebook:

    “Asyiknya punya sepatu baru, buat ajojing di kafe maaakkk…aq gawulh gag?”..\^.^/”.

    Lalu beberapa saat kemudian, datang si pelayan yang telah membawa pesanan jus. Dengan membawa Es Batu, si-pelayan menyodorkan tambahan es batu.Dengan sapaan yang khas:

    “Permisi mbak, ini jusnya…apa perlu saya tambahkan Es-batu…?"



    Lantaran di dalam fikiran pembeli yang terlalu lama tenggelam dengan dunia cyber, tak sengaja… terlontar sebuah kata-kata dengan topik obrolan SEPATU yang seharusnya tak pantas untuk diucap

    “Maaf mbak, saya sudah beli sepatu..!”



    Pelayan yang merasa pendengarannya sedang tidak Abnormal, menjadi sedikit terganggu dengan jawaban si pembeli…untuk kemudian memotong jawaban pelanggannya tadi dengan sedikit kasar:

    “Halooooo…Please deh!, Eyke menawarkan es batu yey…bukan sepatu… (budek banget sih pembeli ini,)



    Si pemegang tablet cuma nyengir sambil mengungkap penyesalannya, lantas mengekspos kekesalannya tersebut ke jejaring sosial:

    “Mbak maaf, es batu ya?…tak kirain sepatu” (lagi terbawa mode nih, ganggu ngerumpi orang ajja..
    Huft... dasar pelayan gag sopan!)


  3. Ambil missal pula ketika bangun pagi, generasi budeg yang belum kelar mengelap belek- pun, berteriak sambil update status via Blacberry Message :

    “Selamat #pagi duniaaaa…. cemungud…konspirasi hati!”.RT @makbongki



    Tapi mereka tak bersuara, melainkan hanya menunduk. Di lain sisi, sang ibu generasi budek ini berteriak-teriak histeris…pertanda memerintahkan sesuatu:

    “Nduk, ndang mandi… sudah pagi !“



    Si genduk cuma mlengos pura-pura budek dalam hati sambil menggerutu

    “Aaah peduli amat, hari ini khan liburan…emak ganggu orang ajjah deh!!“


  4. Atau ambil missal pula dalam satu grup komunitas online : ada seseorang yang ingin berkenalan, kemudian berkomunikasi dengan memberikan tag nama kepada orang yang hendak disapanya:

    Mr.Simple: @mrs,makowa sudah #nulis ?
    Mrs. Makowa: Eh, mbak painten sedang sibuk, ya? “(pura-pura budeg dan berbincang dengan yang lain)

***
Riset mengenai keluh kesah para generasi budeg sudah mencapai batas tertinggi dalam ekstensi diri.
Kemajuan teknologi yang selama ini kita fikir mampu membuat dunia terasa lebih ringkas, malah perlahan-lahan memperlebar jarak silaturrahmi, bukan lagi formal menyederhanakan sebuah realita, namun sangat rentan akan masalah.

Semoga, generasi budeg tidak sampai membuat anak cucu kita makin menjadi penderita akut "salah pergaulan" di masa yang akan datang. Tidak lantas jua memisahkan tali silaturrahmi dengan saudara/rekan yang jauh di manapun berada.
Judul: Generasi Budeg, Si Penyangkal Realita; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 11/16/2013 07:39:00 AM

2 komentar:

  1. Tulisan mengenai genenari budeg ini lucu, kocak. Tapi kalo merenungi kenyataan disekitar yg berhubungan dg hal ini, aih ngeri ah...
    Anak-anak saya Alhamdulillah gak sebegini ini keadaannya. Walau masing2 sudah terpaut juga dg gadget dan social media yg mereka jejaki terus menerus...

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang begitu nyatanya dhe.
      Keponakan saya malah mulai menunjukkan ketergantungan sama game angrybird dhe..pusing jika seandainya kejadiannya nanti menimpa anak saya :)

      Hapus