Blogermie.com: Masuk Neraka Siapa Takut #Nikmatnya Upaya tanpa harus Gelap Mata

10 November 2013

Masuk Neraka Siapa Takut #Nikmatnya Upaya tanpa harus Gelap Mata

Membaca blog Om Nuzulul Arifin yang berisi curhatan-nya tentang tuntutan hukum, membuat saya meng-quote beberapa kalimat artikel penutupnya.
Sumber Artikelnya ada di http://matahati.blogdetik.com/2013/11/06/bukan-cerita-abg-cerita-sex-yang-meruntuhkan-karir/

*Begitu tragis cerita bukan ABG yang menimpa sang hakim cantik nan muda tersebut. Menjadi pelajaran bagi kita, agar kita lebih berhati-hati menjalani hidup. Apalagi jika jabatan, fasilitas serta harta melimpah sudah menjadi miliki kita. Salah menggunakan, salah juga jalannya.

Sungguh saya sangat mengerti yang ditulis beliau, menghadapi masalah polemik sehari-hari, dimana manusia pasti akan menjangkau 5 perkara ini dalam hidup...dan ini subjektif, antara mau dan tidak

  • Muda sebelum tua
  • Kaya sebelum miskin
  • Lapang sebelum sempit
  • Sehat sebelum sakit
  • Hidup sebelum mati


Saya turut bersimpati. Tanpa mengurasi rasa jujur tersebut, tiap kali ada sahabat menorehkan artikel ini, tak henti-hentinya saya mengambil cermin (bukan untuk bersolek) untuk selalu mencari kesalahan yang terdapat pada diri sendiri dan mencoba semakin berbenah kembali.

Itulah sebab kenapa saya menyebut tulisan disana benar-benar hidup, karena sanggup membuat orang bermental "tempe" seperti saya merenung, dan memunculkan sifat melodramatik-nya.


Manusia apapun perannya, apapun bidangnya, pasti pernah dilanda sakit kejujuran.
Pernah-kah di saat kita melakukan sebuah pekerjaan, ada bisikan lain yang membuat kita harus melakukan pekerjaan secara multitasking?.

Pernahkan kita melakukan sebuah pekerjaan wajib yang kita lakukan, tetapi terkadang kita mendapati sebuah keadaan dimana pekerjaan yang sedang dlakukan malah kita selewengkan sendiri menjadi 2 bagian?.......


Saya tidak akan mencari konteks kebenaran itu pada diri pembaca, namun berusaha memberi jawabannya melalui kisah saya.

Nikmatnya Upaya tanpa harus Gelap Mata
Saya seorang yang pernah melakukan hal itu. Dalam arti seperti ini, ketika saya harus melakukan pekerjaan saya di sebuah bidang komunikasi, terkadang saya melakukan pekerjaan lain yang bukan kewajiban yang instansi berikan dan terkadang saya malah enjoy mengambil keuntungan pekerjaan lain ketimbang mengutamakan pekerjaan wajib yang tengah saya tekuni

Dulu, ketika distrik sentral telpon masih berjumlah 11 orang, cukup dirasa kompak dengan beranggotakan 8 orang operator telepon, dan 3 teknisi (1 teknisi diantaranya merangkap kepala bagian dan maintanance).
Saya dan Asrofil mendapatkan tugas sebagai maintenance pengawasan dan perawatan jaringan telepon. Meskipun kami berdua bisa dikatakan relatif muda secara usia. Semua tugas yang berhubungan dengan perbaikan telpon,servis berkala, dan layanan pasang baru, sangat terkoordinir dibawah pimpinan Pak supangkat...

Seorang militer dengan pangkat bintara tinggi ini dalam menjalankan tugas apapun, menuntut kami harus bersikap sportif, bukan hanya dalam menyelesaikan perawatan teknis secara berkala, namun juga dituntut konsisten dalam bidang administrasi.
Pembuatan nota dinas, proposal pengajuan tagihan rekening telpon bulanan, penyelesaian layanan pasang telpon baru dengan menjalin kerjasama dengan PT telkom.
Yang paling tidak, hal tersebut harus mampu dikuasai menjelang persiapan beliau menghadapi massa persiapan pensiun yang jatuh 2 tahun lagi.


Tahun 2009 yang lalu, ketika saya dan Asrofil masih berstatus lajang. Pernah sekali tempo pekerjaan kami hampir dikatai maling. Sungguh tuduhan yang berasal, dan kami memang harus pasrah dan profesional mengakuinya. Juga lantaran kami menjual kabel Dropwire bekas yang sudah tidak terpakai lamanya dengan tujuan memusnahkannya.
Hanya kekeliruannya saat itu, Saya dan Asrofil tidak mendahuluinya dengan meminta izin terlebih dahulu kepada beliau.

Sebenarnya beliau tidak menyalahkan tindakan kami, namun lebih tepatnya mengingatkan.
Walau dikata kami punya hak mengelola sumber daya yang dimiliki, melalui prosedur yang ada... akan lebih baik apabila Kabel-kabel bekas yang hendak dimusnahkan tersebut dicacat dulu dalam buku inventaris, dibuatkan perizinan pengeluaran barang, dibubuhi tanda tangan pihak terkait seperi Security, Kepala Bagian, disertai stempel tembusan yang tertuju kepada Direktur instansi, dan selanjutnya dibuatkan soft copy yang diserahkan kepada Sub departemen Harmat(Pemeliharaan dan Material) sebagai arsip.

Dengan demikian, Barang inventaris akan tercatat dengan lengkap jika sewaktu-waktu pimpinan bertanya atau jika sedang melakukan sidak, harapannya agar kami sebagai anggota, tidak gempar dengan tindakan yang telah kami lakukan.
Kalaupun terbukti salah, tidak terlalu merinding disko dan siap menerima putusan, entah itu sangsi fisik, maupun mutasi pekerjaan.


Saya dan Asrofil sadar kalau telah melakukan perbuatan salah, Hingga akhirnya Pak Supangkat menutup kasus tersebut mengingat kabel yang saya jual cuma berbobot 1 kg saja. (Kabel karatan yang telah kami kuliti dan diambil sisa tembaganya saja) sehingga menurut beliau, kasus ini tidak perlu terlalu dihebohkan.
Beruntung-lah saya memiliki bapak buah yang bijaksana, menyelesaikan sebuah perkara dengan kepala dingin tanpa didahuli dengan tindakan gegabah. menanyai kami lebih dulu kenapa harus berbuat demikian dsb.

Sementara saya dan asrofil cuma mampu menunduk yang menunjukkan betapa tak berdayanya manusia diberi rasa malu, pertanda pula yang mengharuskan mental kami terdidik menjadi pendengar yang baik.


Kini setelah 7 tahun saya mengabdi untuk instansi rumah sakit ini, banyak yang telah saya pelajari. Memikul tanggung jawab dengan tersedia fasilitas yang kompleks, justru jangan sampai tergiur dengan kelengkapan yang ada. Karena saya yakin hal demikianlah yang menjadikan diri semakin takabur dengan rasa kufur.

Walaupun anggota distrik sentral telepon kehilangan 3 Orang yang kesemuanya telah pensiun, sementara niat baik yang terwarisi tidak akan pernah ada kata almarhum.

Saya tidak mengatakan diri saya adalah pegawai yang kompeten dan solid, tapi saya cukup beruntung diberi kedewasaan pikiran, menimbang sesuatu dengan mengutamakan mana yang baik dan membuang yang buruk. Meskipun hal yang demikian terlalu berat dan sangat riskan secara usia, tapi selagi di lapangan ada interaksi dengan bawahan dan atasan, saya akan merasa senang lebih terbimbing.

Saya selalu berdoa agar Allah SWT senantiasa memberi saya kebesaran hati, memberi peringatan melalui kata menyesal, menoleh sejenak ke masa silam...lantas mengambil start lebih awal untuk melesat kedepan. Kesemuanya itu penting dipersiapkan demi melaksanakan sebuah tugas, wewenang dan tanggung jawab yang dipikulkan kepada saya tanpa harus gelap mata.

***

Pemirsa...
Tanpa perlu diawasi pimpinan-pun seharusnya kita paham, untuk siapa selama ini kita bekerja kalau bukan mengabdi untuk anak dan istri ?.
Mungkinkah kita masih tetap bersikap apatis dengan sumber penghasilan yang kita peroleh?...
Apa kita akan sudi menafkahi anak dan istri dengan Gaji yang diluar ketentuan?....
Apakah kita membiarkan Anak-anak nanti tumbuh berkembang dengan mewarisi jiwa korupsi, sementara makanan yang tertelan saja diperoleh dari usaha yang tidak jelas?....

Nanti bisa saja di Neraka, setiap penjahat akan berhalusinasi menyewa seorang penulis sambil menggungat " Masuk Neraka Siapa Takut". (Naudzubillahi Min Dzalik)
Menuliskan betapa sengsaranya tersiksa dan di sangrai di tungku api neraka, sambil melihat anaknya menderita di dunia karena tak bisa melahap Pizza Delivery Order.

Intinya: "Dengan tidak mempercundangi Nurani", belajar jujur dari hal terkecil hingga kelak tiada lagi yang namanya penerus kekuasaan yang dengan bebas merampas rizki yang bukan menjadi haknya.

Artikel ini diikutkan sebagai peserta Fiesta Tali Kasih Blogger 2013 BlogS Of Hariyanto – Masuk Neraka Siapa Takut!!!???

Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 11/10/2013 09:26:00 AM

16 komentar:

  1. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, baik disengaja atau tidak. Yang terpenting saat ini adalah kita harus hati hati agar tidak melakukan kesalahan yg sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas...:)
      terima kasih sudah mengingatkan, dan ini syarat saya agar bw ketempatnya mas edi dengan segera

      Hapus
  2. Semoga kejujuran akan selalu ada dan tetap menjadi teman menuju kebaikan ya mas :)

    BalasHapus
  3. Bapak buahnya baik ya mas... Patut diteladani.. :)

    Kekaliruan pasti akan menjadi pembelajaran ke depannya, selama kita bisa ambil hikmah dari kekeliruan tersebut...

    Salam saya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, banyak yang jadi bisa dijadikan panutan dari beliau dan sebaik kunjungan mas asep yang ikhlas meluangkan waktunya untuk menengok blog ini..:).

      Salam kenal dari timur

      Hapus
  4. Alhamdulillah..terimakasih sudah berkenan berpartisipasi..sekaligus resmi terdaftar sebagai peserta..Salam santun dari makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Om har, maaf baru bisa membalas komentnya. Sala juga dari kota petis :)

      Hapus
  5. Saya belum bekerja, sih, Oom, tapi banyak juga hal-hal di kampus yang menuntut kami untuk bekerja profesional dan jujur. Misalnya setiap ujian harus lebih siap suapaya ngga larak-lirik kerjaan temennya hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin mbak :)
      karena kejujuran tak pandang status

      Hapus
  6. Karena pada dasarnya, kalau kita jujur, bukan keuntungan buat pimpinan. melainkan keuntungan buat kita sendiri ya om :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kaka Rani \^_^/

      Chiby..chiby..chiby...:p

      Hapus
  7. Bagus sekali postingannya, beruntung ya menyadari perbuatan itu salah walau sebenarnya dalam wewenangnya. Beruntung pula "pak buah" baik hati :)
    Sukses yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ...:)
      senangnya kalau bu haji yang satu ini sudah berkenan mampir :p

      Hapus
  8. orang bilang jujur itu ajur ( hancur ), barangkali terkadang memang terlihat demikian ( di dunia ) tapi sesungguhnya siapa yang jujur dialah yang akan mujur ( kalau tidak di dunia, insya Allah di akhirat kelak ).
    Terima kasih telah diingatkan. Semoga ikhtiar ini membawa hasil seperti yang diinginkan. Amin.
    Salam hangat untuk keluarga tercinta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Om abi. Didunia nyata, Orang jujur selalu dilempari telur busuk dari belakang. Namun gilirannya di Akhirat kelak, diam-diam orang jujur telah menang, modal yang cukup untuk menertawakan orang yang telah melemparinya dari belakang.

      Terima kasih sudah segan mampir, Salam juga dari anak saya :)

      Hapus