Blogermie.com: Membaca Yang terlampaui, Bertualang untuk Kini dan Nanti

23 November 2013

Membaca Yang terlampaui, Bertualang untuk Kini dan Nanti

Saya baru mengerti sekarang... yang diucapkan guru BP ketika masih duduk di bangku SMP dengan bunyi.
   
“Semakin banyak membaca, justru membuatmu semakin tidak tahu". 
Di lain sisi, banyak orang yang  memikul tanggung jawab besar tersebut dengan membaca. Manakala diketahui dengan banyak-banyak membaca, menjadi sumber alternatif pengetahuan luas tanpa batas. Tapi saya mencoba merenungkannya kembali dan tidak mengkhianati maknanya,  dengan bertanya kepada diri sendiri


"pembaca yang serius, apakah engkau sudah merasa semakin tahu, atau justru membuat tampak semakin tidak tahu?"

Seiring waktu diiringi usia saya saat ini, hakekat tersebut mulai terungkap. Tidak melalui membaca, tidak pula selalu di koordinir dengan menulis, namun, semua itu terjawab secara sederhana melalui bertualang.

Yah pemirsa, bertualang tidak akan selalu menjadikan jiwa anda sekokoh tebing. Tidak pula menjadikan anda terlihat kece dengan sering memanggul ransel bacpacker maupun menjinjing koper traveller.

Jalan-jalan di lingkungan terdekat mana pun, tak ubahnya media pembelajaran seperti halnya membaca. Lebih tepatnya membaca situasi. Kalau masih kurang sederhana lagi, coba menyusuri perjalanan-perjalanan hidup yang pemirsa alami untuk tempo waktu yang sudah-sudah.

Jika mencermati, menghayati sambil berjalan, kita semakin menyadari bahwa kita-lah manusia yang memiliki nurani dengan banyak sisi kelemahan. Semakin merasa bersalah memiliki keterbatasan, merasa yakin bahwa kita yang paling kecil diantara yang lain.

Namun, justru karena kecil dan kekerdilan itulah yang membuat manusia makin istimewa.  Merasakan apa yang telah terjadi, mengalami riset, memahami dan mengumpulkannya menjadi 1 kesimpulan menuju sebuah ‘kemahaan.
Kendati dirinya sudah mencapai ‘kemahaan’ itu,  titik itulah yang (mungkin saja) membuat ia merasakan arti ‘menunduk’.

Orang melihat para petualang hebat sebagai pribadi yang tegar... namun benarkah selalu begitu?.
Coba tanya sekali lagi pada mereka. Cobalah bertanya kepada RZ.Hakim.
Cobalah memahami kalimat-kalimat yang terlontar melalui tulisan tersebut di http://www.acacicu.com/2013/11/sehari-tanpa-gadget-vs-sehari-tanpa.html
Apakah rasa tangguh yang ada dalam diri mereka?.
Atau justru mereka sadar bahwa mereka sesungguhnya rapuh. Sehingga untuk menekan kerapuhan itu, mereka berupaya untuk menangguh-nangguhkan diri?

Tampak hiperbolis, ya?

Tak apalah jika pemirsa tidak memahami makna Hiperbolis tersebut. Justru saya memperolehnya sebagai suatu reward yang perlu dirayakan dalam bentuk syukur. Hidup menyampaikan kekayaannya dengan cara seperti itu.

Saya rasa, jangankan untuk 1 hari, jika kita mau, setahun tanpa gadget-pun tidak jadi masalah. Karena masih banyak hal-hal mengagumkan yang bisa kita Eksplore di kehidupan ini tanpa bantuan alat-alat canggih. Menyenangkan hati orang adalah salah satunya



Ketika Tuhan memiliki kanvas maha luas untuk memoles birunya langit, dan tinta di lautan untuk melukis Panorama bumi ini, Semakin banyak Ilmuwan menerka-nerka konsep terbentuknya alam... mencari jawabnya hingga tak sanggup menuliskannya.  Dengan menyadari dibalik itu semua, niscaya tuhan berpesan bahwa: "manusia akan selalu berada di level ‘tidak tahu’.

Orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu, adalah orang yang paling bijaksana. Orang bijaksana adalah ia yang mampu menjaga keseimbangan antara yang ia ketahui dan tidak ketahui.

Celakanya, Orang yang merasa paling tahu, paling merasa diatas angin, sesungguhnya ia telah dibelenggu oleh sifat angkuh.

Sehina-hinanya orang yang merasa sudah paling tahu, piawai mengkalibrasi, sudah faham mengklaim yang bernada superior, maka ia lebih rendah dari hina karena sudah tidak bisa lagi mensyukuri hal-hal kecil yang mengagumkan sekalipun.

Kebalikan yang menjadikan pembeda antara yang tahu dan yang tidak adalah ketika menyadari sepenuh hati bahwa kita sesungguhnya tidak tahu, maka di situlah proses belajar itu terjadi. Kita tidak lekas merasa puas. Kita akan terus berupaya bertanya, berusaha agar terus mencari tahu. Kita akan memiliki Survive untuk terus belajar.

Dan, saya kira dengan tetap tegak berdiri, bertualang menjalani hidup sekeras apapun, tak ubahnya seorang pembelajar sejati. Ia tidak boleh berhenti di satu titik saja. Ia harus melompat dari satu tempat ketempat lain untuk menemukan pengalaman yang bisa ditambatkan menjadi guru terbaiknya.

Oleh karenanya...

"Agar senantiasa menuntunnya tetap seimbang ketika melangkah, agar tidak jatuh, kau harus tetap mengayuh.” - Albert Einstein.


Tulisan Ini diikutsertakan sebagai Ucapan Give Annerversary RZ_Hakim & Prit Api Kecil. 
Semoga Allah SWT Senantiasa menaungi Bahtera rumah tangga mereka dengan Sakinah dan Warohmah...Amiin
Judul: Membaca Yang terlampaui, Bertualang untuk Kini dan Nanti; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 11/23/2013 11:56:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar