Blogermie.com: Mengejar Cine Us Sampai Batas Imajiner

02 November 2013

Mengejar Cine Us Sampai Batas Imajiner

01/11/2013.
Hari kemarin itu, mentari nampak begitu terik. Tidak ada satupun pemandangan yang mampu membuat minat ini tertarik, terkecuali ada beberapa aktivitas yang sengaja saya jadwalkan agar bisa terlaksana dengan baik.

Setelah mengisi paginya dengan menyapa pak polisi, kepulangan dari taman kota telah menghadapkan saya dengan schedule khusus yang sengaja terencana baik demi mengisi waktu liburan. Satu opsi terdekat saat itu adalah dengan membuka akun twitter pribadi dan menengok wajah selebriti dumay dibalik novel perdana yang launching beberapa waktu yang lalu.

Yah hitung-hitung saya pernah punya janji sama beliau, sudah sepantasnya memenuhi janji tersebut



Novel Cine US, karangan Mbak @Evi Sri Rejeki.
hayo... siapa yang baru dengar?
yang belum pernah menyapa, monggo berkenalan?
yang belum dapat membeli bukunya, monggo berhutang...
yang belum sempat membaca novelnya, silahkan pinjam di toko buku terdekat.

Karena beberapa hari yang lalu, saya sempat terpanggil untuk mereview novel tersebut untuk beliau. Mungkin inilah kesempatan emas itu, mumpung sedang waktunya gajian. dan mungkin bisa dijadikan modus baru bagi pria-pria introvent untuk segan membaca buku.

Mengawali keberangkatan dari rumah, saya berniat membeli buku ini ke toko tujuan yang dimaksud. Toko buku Gading Murni yang beralamat di jalan Ahmad Yani Surabaya, mungkin sangat cocok menjadi tempat terakhir saya melancong.
Selain jaraknya lebih dekat, rutenya yang saya pilih juga agak njelimet guna menghindari kejaran polisi. Maklumlah, karena sejak awal saya berangkat, memang sengaja tidak memakai helm.

Jangan bertanya penampilan saya secara akal sehat, karena modal celana kolor seharga 20 ribuan-an dengan 3/4nya setinggi lutut orang dewasa, rambut tidak disisir, kulit sawo setengah membusuk lantaran sejak keberangkatan dari rumah, belum tersentuh air sedikitpun, sudah cukup pula mendasari penderitaan yang dialami laksana kopi Nescafe 3 in 1 yang banyak kehilangan aroma.

Pukul 13.46, saya sampai di toko yang saya maksud.
Dengan menunjukkan iktikad, bertanya sewajarnya secara korespondesi, saya menanyakan novel yang hendak saya cari tersebut.

"Mbak permisi,ada novel terbaru karangan mbak Evi Sri Rezeki dengan judul Cine US ndak nggeh?"
...namun alamak...disana hanya terdapat Sales Promotion Girl yang melambaikan tangan, sebagai bentuk bahasa tubuh bahwa buku yang sedang saya cari tidak tersedia.

Hanya sebuah cletuk ringan ala abege yang saya dengar ketika mereka keasyikan menggosip:

"Mas!, cowok kok suka baca novel?"

Saya hanya sedikit melemparkan senyum, guna menutupi sebagian gigi saya yang sudah setengah hari belum dicuci.
Dengan harapan melemparkan salam kepada meraka, berharap tidak terlalu memancing emosi John Martin bimbel ini.

Eh ndak papa kok mbak...ya udah terima kasih.

Keheningan, menghantarkan saya untuk secepatnya pergi dari tempat itu.


5 menit telat mikir, di parkir motor sambil menduduki punggung Yamaha Mio, melepaskan kepenatan yang ada dengan menyulut sebatang rokok kretek, menghirup asapnya hingga 3/4 batangnya habis...Saya berfikir, kemana lagi ini...?

Sejenak mimik muka tembok, saya pasang dihadapan bapak juru parkir.
Sambil mengucap salam, saya bertanya tentang toko buku terdekat di daerah jalan ahmad Yani. Mungkin dengan cara inilah saya dapat mencari alternatiif lain.

Setitik jalan terang saya peroleh, melalui bapak itu, saya disarankan pergi ke Gramedia. Letaknya juga tidak sejauh Tunjungan Plaza, namun lebih dekat lagi di kawasan Rozal plaza, persis di depan kantor saya bekerja, RSAL dr Ramelan.

Tanpa banyak babibu, saya langsung tancap gas. Melewati gang-gang sempit sambil tengok kanan tengok kiri barangkali ada polisi sedang berpatroli.
Syukurlah, setelah melewati beberapa portal, bercucuran keringat, berulang kali gang ditutup karena banyak hajatan nikah, saya berhasil juga meloloskan diri dari ancaman polisi.
Agar klimaksnya lebih keren, Pria introvent ini sangat bangga jika dirinya mulai lihai menghindari gundukan polisi tidur.

....
.......
..........

15 menit, cukup singkat perjalanan ini.
Setelah motor nyelonong masuk ke area parkir plaza, saya masuk melalui pintu belakang... menaiki lift barang dan berhenti di lantai G.

Disini cerita saya datar-datar saja. Cuma bisa tolah-toleh, ketiak basah, dan sebagian diantara tatapan liar para SPG yang melihat perangai pria berandal. Saking berandalnya, saya hanya meninggalkan kesan katrok dengan menggunakan sandal jepit bermerk Sky-Way di sela-sela langkahan kaki

(Ah peduli amat.)

Di awal perjumpaan dengan Toko buku terbesar gramedia waktu itu, saya disambut hangat oleh seorang bapak penjaga toko. Mungkin lebih dekatnya sebagai tanda keakraban, saya memanggil beliau dengan sebutan khas lidah orang timur: Pakde
Pakde yang menyandarkan bahunya di depan pintu masuk itu memang keren

Saya mengutarakan maksud dan tujuan mencari membeli sebuah novel..beliau mengiyakan dan memanggil salah seorang staf pelayan buku bernama Lia (aslinya: Juliati)

"Lia..,...Lia... tolong mas-nya ini dibantu nyari buku novel !
"
Tak berselang kemudian, datang mbak cakep sambil menyodorkan sebuah bollpoint,

"Mas, bisa minta tolong sampeyan tulis judul buku dan pengarangnya. Akan saya cek dulu ketersediannya di gudang melalui komputer..."

trerrtttt (ilustrasi ballpoint pilot Bptp bergesekan dengan kertas)

"ini mbak...
saya menyodorkan secarik kertas yang sudah saya nistai kemolekannya dengan tinta.
Dari jarak kurang lebih 1 meter, saya berdiri membelakangi mbak lia sambil mengawasi.

"Ahaaa ketemu, !!!

tepat didepan monitor LED mbak lia, novel dengan judul dan nama pengarangnya muncul juga..tapi ada yang yang membuat aras ini sedikit mengerucut.

Saya sedikit kecewa dengan gramedia yang cuma stock hanya 14 buku saja.
Daripada saya menggumam tidak jelas, secepat mungkin menyelesaikan aktivitas ini dan segera kembali pulang

Setelah Mbak lia menunjukkan buku yang sedang saya cari, saya langsung mengucap salam pertanda perpisahan. Diikuti gerakan tangan merogoh saku celana...membayar di muka kasir.


Ternyata harganya cukup murah pemirsa!... setara dengan harga hidangan siap saji.
Sisi baiknya adalah bukan karena keinginan saya membanding-bandingkan harga buku dengan harga paha ayam goreng ditengah lonjakan inflasi.

tapiiiiii....

Jika anda mampu membeli 1 paket makanan siap saji yang notabenenya lebih cepat habis dengan perjumpaan yang singkat di lidah, akan lebih baik membeli buku yang tidak akan pernah habis manfaatnya selama isi dan ilmunya segan untuk dibagi. Coba dibuktikan sendiri

***

Setelah situasi kembali kondusif dan pulang kerumah dengan keadaan sehat, selamat, dan rada-rada kumat.
Saya sempatkan membaca novel tersebut dengan beberapa kesimpulan cerita diatas+ sedikit resensi novelnya (bukan atas dasar penggabungan trailer videonya) sebagai berikut:

  1. Jika anda ingin gaya, tunjukkan niat diri sendiri. Tampil apa adanya diri anda tanpa perlu khawatir kehabisan Deodorant.
  2. Jika ingin melesat seperti angin, pergunakan skuter matic Y***** agar anda lebih cepat dari maling. Resiko ditanggung sendiri.
  3. Point satu dan point 2 bisa dijadikan parameter tentang pentingnya sebuah kebanggaan.
  4. Novel Cine US, sebagai suatu misi saya berburu novel perdana. Sangat layak jadi kontribusi.
  5. Baru membaca 8 halaman diawal pembuka novel. Ada karakter Dion, yang menurut saya samar-samar, namun sangat berkemungkinan memancing rasa kewalahan. Berkat jayus dan ke-O'onan-nya, berpotensi mendompleng koplaknya blog ini
  6. Artikel ini belum saya patenkan menjadi sebuah 1 keutuhan review. Jadi bagi yang merasa sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya...silahkan dibeli yuaaaaaa!!!!!!!
TT: Ini bukan Artikel Review kok, sekedar bercerita, sekaligus mempromosikan novelnya :)
Salam rukun
Judul: Mengejar Cine Us Sampai Batas Imajiner; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 11/02/2013 05:25:00 PM

8 komentar:

  1. itu kok ada yg usil bgt, emangnya cowok gak boleh baca novel hehe

    sy baru 1/2 jalan baca novel ini. Btw, menang lomba PLN, ya. Selamat, ya! :)

    BalasHapus
  2. membaca novel ini harus seksama ya bun :)

    terima kasih bunda myra. bunda adalah sepersekian anggota webe yang masih mau berbagi apresiasi.
    Ketika bw-pun, saya masih bisa riang mengucapkan selamat atas apa yang telah mereka capai. tapi ketika saya memperoleh sisa itu dan ingin berbagi kebahagiaan. Kemanakah perginya mereka gerangan?

    Terima kasih atas kedatangannya bun. dan saya pasti akan ingat hal ini selamanya :)

    dapat Salam dari Irma :p

    BalasHapus
  3. saya juga lagi bikin review bukunya mbak Evi "Cine Us". keren!

    Salam dari Surabaya juga mas,

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mas elang.
      Kapan2 kopdar ya n_n

      Hapus
  4. huwaaaa ikutan lagi :D
    keren gini tulisannya :) ...
    ehh novel perdana? maksutnya .. gimana tuh

    semoga saya juga bisa ikutan review :) .. makin seru kalo pesertanya hebat-hebat seperti anda .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya novel ini (perdana) = buku bacaan yang baru pertama kalinya saya baca.
      Sebelumnya, saya belum pernah tertantang untuk baca novel kecuali komik sama cerpen.

      Novelnya mbak Evi ini tebal. banyak percakapan yang nyelip, jadi kalau gak serius nyimak, mesti ada saja yang terlewat alur ceritane.

      Yo kudu iso melu mbak tia, bukan atas dasar kemenangan yang menentukan finish, tapi demi kota lamongan tercinta. Tanah kelahirane sampean sbg blogger. Syukur2 konsisten dan cemungud sampai akhir

      gitu mbake :D

      Hapus
  5. Terharu baca perjuangan Mas. Terima kasih ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma Sedikit kontribusi dari kamen rider kok mbak n_n
      Terima kasih sudah berkunjung

      Hapus