Blogermie.com: Menunggu, Proses Mediasi Diri

08 Maret 2014

Menunggu, Proses Mediasi Diri

Waktu telah menunjukkan pukul 1 dinihari.  Sambil mengisi heningnya malam diikuti draft tulisan yang  terbit sedikit melambat, saya kembali teringat peristiwa tempo hari yang lalu, yakni di pasar tradisional.
Dalam gendongan saat itu, saya ingat saat bersama Irma yang ditemani ibunya berbelanja kebutuhan dapur. Bukan untuk kali itu saja mengalami yang namanya 'mengekor', mbuntuti, mengikuti aktifitas mengarah MENUNGGU ibunya yang serius menawar barang dagangan. Suatu hal yang dinilai biasa, cenderung membosankan menurut kalangan para pria.

Mungkin saja sekarang ini  hemagonial suami khususnya kaum pria, makin terlihat jarang (enggan) menemani istrinya ke pasar, apalagi bergantian mengasuh anak. Saya jadi semakin yakin bahwa, perhatian suami manapun pasti menurun motivasinya jika bertatap muka dengan aktititas yang disebut Menunggu-red (Ngenteni).

Namun berkat hal yang demikianlah, saya banyak bertemu dengan studi unik, paling menakjubkan dari sumber sederhana sekalipun yang menjelaskan bahwa menunggu, bukan merupakan satu-satunya  pekerjaan terberat. Bukan juga menunjukkan kalau menunggu itu adalah sesuatu yang amat sangat membosankan


Saya tak hendak menjelaskan bahwa disaat menunggu semuanya berakhir segera, saya merasa rileks mengisi waktu tersisa dengan menyaksikan betapa piawainya para kaki lima yang menjajakan makanan khas berselera.  Disaat menunggu, saya lebih tersanjung melihat 3 manusia yang mengenakan kostum Badut, menyambut dan melambaikan tangannya kepada tiap anak kecil yang hadir disana. Disaat menunggu, saya lebih menikmati kebersamaan denga Irma dan berinteraksi dengan kerumunan orang beserta detail demi-detail permasalahannya.

Saya tidak terlalu mengeluhkan makna menunggu tersebut sebagai suatu peristiwa yang paling menyebalkan, Lagipula... jika aktivitas menunggu begitu dipaksakan,bisa-bisa saya kehilangan kegembiraan...waktu semakin terasa begitu singkat, atau bahkan parahnya, bisa sampai saling mempertahankan keegoisan diri, dan selalu menyalahkan satu sama lain.
Sampai disini, saya berkesimpulan, menunggu telah membuat jiwa saya semakin empati dengan orang lain. Termasuk bagi istri dan Anak saya sendiri

Dengan menunggu, itu tandanya saya semakin terpacu menjadi kamera sekaligus alat perekam yang mampu melihat kenyataan dari banyak sisi analisa. Berkat Menunggu pulalah, saya menemukan kebahagiaan. Saya semakin menyadari bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa banyak mengkaruniakan peristiwa yang menyenangkan hati. Puji syukur pula, tidak ada yang terlewat dengan berbuah pengalaman manis


Judul: Menunggu, Proses Mediasi Diri; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 3/08/2014 02:15:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar