Blogermie.com: Dengan Cinta, Menuju Cahaya (habis)

30 Mei 2014

Dengan Cinta, Menuju Cahaya (habis)

Lanjutan Halaman 1...........................................................................................................................................

Suntuk apabila melihat kenyataan ini hanyalah sebuah perjalanan yang kadang terhenti di lampu merah, acapkali jika sudah ada sinyal lampu hijau, tetap saja orang saling berebut posisi untuk saling mendahului. Di situ, aku makin merasa sunyi. Di dunia maya, aku seperti mengalami krisis identitas. Semua orang bergerak dengan ritme yang aneh. Individualistis dan monoton.
Sejatinya, apapun sesuatu yang sejatinya fiktif, disanjung dengan gembira. Padahal bagiku, itu hanya upaya media untuk memancing emosi masyarakat lugu seperti indonesia. Semua terlena, ada pula semacam tak berdaya, senang apabila negara ini terpecah belah.


Di dunia nyata, aku telah belajar. Belajar satu hal penting tentang bagaimana beradaptasi serta selalu menyerap hikmah yang sejatinya tersaji di mana saja. Bahkan ketika berjalan di kerumunan banyak orang, melihat raut muka mereka, aku mengamini realita dan mendengar suara-suara bising bahwa ada diantara mereka yang sebenarnya amat sangat rapuh. Adapula yang terpaksa menutupi kekurangannya dengan keangkuhan yang bersembunyi dibalik kebenaran. Ah... seandainya kita semua hidup didunia yang sempurna. Bukan didunia seperti ini.

Andai di dunia nyata, banyak orang yang menyadari hal itu. Dunia nyata seperti air terjun yang gemericik akan air. Untuk beradaptasi agar tetap hidup, kita harus membiarkannya mengalir seiring waktu. Tak ada keluhan, apalagi sampai menawar sebuah suratan.


Aku berharap nantinya, ada banyak orang sepertiku. Diam apabila tidak dibutuhkan, bisa saling tersenyum memperhatikan tingkah mereka yang hendak bertahan hidup dengan nalurinya. Cukup mengandalkan selembar uang receh ketimbang hidup berfoya lantas kemudian menyesal seumur hidup.
Namun kuyakin kalau ada banyak orang sepertiku di dunia maya. Aku meyakini bahwa ada banyak pola dan pagar diri saat menemani keluarganya seraya menikmati secangkir teh saat bercerita tentang betapa spektakulernya rutinitas masyarakat desa

Yang pasti, aku merasakan betul bagaimana kehidupan maya itu seperti apa. Aku tak ingin berhenti belajar untuk menemukan banyak lentera bagi jiwa. Barangkali, 5 bulan yang lalu, aku sudah menemukan banyak hal positif untuk bisa mengayakan pengalaman dan memperkuat langkah-langkah kaki di masa depan.
Aku mengacuhkan kalimat bijak yang pernah terlontar suatu malam, entah itu saduran atau tidak...sehari sebelum temanku meninggal dunia

Laki-laki yg baik untuk wanita yang baik, begitupun sebaliknya.

Begitu lama sekali aku ingin menyanjung kata bijak ini. Sampai akhirnya yang membuat terkagum saat aku beranjak baligkh tatkala menikah. Sampai tuhan pada akhirnya memberiku jawaban tentang pertanyaan yang belum pernah aku pecahkan saat sendirian. Sampai tuhan menunjukkan jalan bahwa sebenarnya.... hidup adalah permasalahan sepele antara keputus-asaan dan rasa pantang mengeluh

Didalam rumah ini sekarang, ada 1 tangkai muda yang masih kuncup dan sebentar lagi akan mekar bulan Juni nanti. Ketika cahaya dalam raga ini akhirnya padam dimakan lansia, setidaknya hidupku saat ini, dengan cinta yang aku punya...Irma akan tahu hal itu.



Judul: Dengan Cinta, Menuju Cahaya (habis); Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 5/30/2014 05:55:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar