Blogermie.com: Dengan Cinta, Menuju cahaya

29 Mei 2014

Dengan Cinta, Menuju cahaya

Vakum menulis untuk beberapa bulan, mudah bagiku. Apalagi yang aku tuang ke dalam blogku ini tidak ada yang istimewa, update juga jarang-jarang. Cuma Paltformnya saja yang menang tua meskipun domainnya sudah premium. Selalu saja ada tantangan yang harus diatasi demi cuap-cuap, berdiri tegak dan sekadar keinginan untuk mempertajam naluri.

Selama 2014 tahun ini, 5 bulan terakhir, Aku merasa berbeda dari biasanya. Semendiang 3 temanku pergi, Kata Istriku, aku tak lagi menjadi lelaki cuek dengaan keadaan. Yang menjengkelkan lagi, Katanya... aku telah berubah menjadi lebih lebih religi dari biasanya (Katanya, aku telah bermetaformosa menjadi kupu-kupu)...



Ah, menurutku itu membosankan. Sanjungan itu terlalu berlebihan karena aku bukan orang suci.
Apakah ini semacam modus wanita aagar ia dapat jatahan uang tambahan untuk kebutuhan pokok semata. Apa ini sebuah rayuan?.....

Memang aku menyadari jikalau tak lagi peduli dengan jejaring dunia maya, aku memutuskan libur dari dunia menulis.
Mencari konsentrasi lebih serius tanpa facebook, tanpa ada satupun paket interetan yang aktif. Aku memang sengaja, untuk menghindari pikiran yang mudah terkontaminasi oleh media. Agar tetap menjaga keyakinan tidak goyah. Kalaupun ada rekan yang menghubungiku dengan menyisakan panggalian tak terjawab, aku hanya melampirkan sedikit pesan tak terbalas. Kadang juga sebaliknya.

Di dunia maya, ibarat lubang besar yang menganga. Di situ kehidupanku terasa berbeda.  Aku menjadi musyafir yang menjalani hari-hari dengan sangat teliti dan bahkan ambisius. Tinggal di situ, aku merasa dihinggapi rasa konsumtif yang tinggi, dan tak banyak yang bisa dihasilkan. Ini pula sebab, ketika aku mendapat tawaran kerja sampingan menjadi maintenance, sering aku tolak hanya untuk mengejar deadline yang digadai penulis sebagai ritual menyibukkan diri. Yah, menulis adalah aktivitas yang terlalu menyibukkanan diri dan tentunya....TERLALU BANYAK MENYITA WAKTU

Memang benar bapakku, untuk pekerjaan seusiaku, menulis bukan suatu loncatan besar untuk orang yang sudah memiliki keluarga. malah bisa dibilang hanya akan mempermudah suntuk. Aku tidak bisa selalu menggantungkan hidupku untuk menulis jika ingin terus menafkahi anakku. Menulis adalah pekerjaan musiman!, Kalau terlampau sering paceklik ide...aku sering membenamkan kepalaku kedalam bak mandi. Atau bahkan membalikkan posisi kepalaku 180' diatas kolong tempat tidur agar otakku mencair, ide mengalir.


Satu hal yang masih sulit kuajak berdamai adalah rasa toleransi. Mestinya sejak awal, aku paham bahwa menulis di dunia maya itu sebenarnya wabah yang bisa membuat orang terjun ke dalam hal-hal buruk. Seperti zaman jahiliyah yang gelap gulita kurang cahaya. Hingga sekarang, aku paling sering terjebak ideologiku sendiri jika harus bertanding dengan komentar anonim. Setiap hari, memaksakan untuk mereka ulang kejadian demi kejadian menjadi materi kompetisi.

Mestinya sebagai bapak, aku harus proaktif merawat anak ketimbang mengurusi komentar komentar tak beragama yang membandingkan kesaksian spiritual dimata tuhan_Nya(Mana mungkn ada tuhan yang berpelir?). Bicara sok moral, apalagi ngeladeni oknum oknum oportunis.


Namun sekarang, Di rumah ini, tanpa internet, aku menjalani hari-hari dengan ritme masyarakat biasa pada umumnya. Walaupun sederhana dan waktu terasa melambat, tak ada tenggat waktu yang membuat aktifitasku mubazir dan tak lagi terjebak dengan ketergesaan. Semua aku kembalikan seperti semula. Akan lebih indah jika kehidupan ini bergerak dalam ritmenya masing-masing yang pelan, dan tak seberapa ambisius.

Aku mulai faham alasan kenapa Capung selalu terbang dengan keadaan maju, tak pernah mundur. Mungkin jawaban Tuhan sudah terselip lewat tulisan ini....

Pagi hari misalnya, Sekali kuamati betapa lucunya anakku beserta tumbuh kembangnya sekarang, aku mestinya tahu jika dia ingin sekali mengajakku bermain di dunia fantasinya. Melupakan segala keluh kesahku dalam menempuh perjalanan hidup. Jika dibandingkan dengan duduk seharian di muka laptop, maka... aku cuma menghabiskan waktu 1-2 jam perhari dengan banyak metode pembelajaran diri. Di lain sisi, aku juga mulai beradaptasi. Aku berusaha untuk tidak ikut terpengaruh orang lain.  Membiasakan diri untuk memandang sebuah ketergesaan itu sebagai pelajaran yang isa dipetik, serta berusaha menyelipkan sebagian catatan kelam sebagai bentuk cerita klasik untuk masa depan putriku...

Bersambung...



Judul: Dengan Cinta, Menuju cahaya; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 5/29/2014 10:28:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar