Blogermie.com: Catatan Nyaris Becek: #Kala Musibah

21 Juni 2014

Catatan Nyaris Becek: #Kala Musibah

Kenapa aku pilih judul demikian?

Ada beberapa hal yang membuatku takjub sebelum menulis ini. Reportase ini subjektif dari pribadi sendiri, dengan tambahan korespondesi dari beberapa teman tentunya, kemungkinan ada banyak perubahan besar.

Ya...ibarat genangan air ditengah jalan dengan hiruk pikuk manusia  didepannya. Sementara orang lain yang lalu lalang tengah sibuk menghindar dan tak terlalu menghiraukan beceknya situasi itu, diam-diam aku mengamati dan memunguti serpihan-serpihan kerikil didalamnya. Aku jadi paham seharusnya dengan cara apa aku harus melewati genangan itu meskipun kerikil itu sanggup melukaiku kapan saja


Apa yang terjadi belakangan ini telah kurangkum semalaman dengan menapaki beberapa peristiwa yang sejatinya tercecer dimana-mana, berbuah hikmah yang dapat dipetik kapan saja. Baik itu musibah,rizki, atau karma apapun itu ... yang menyampaikan beberapa kesimpulan bagiku:


1. Akibat draft postingan yang menumpuk lantaran mood yang naik turun, ada sebagian draft tulisan dalam bentuh mentah (buku tulis) yang hanyut terbawa air. Karena apa? ...

Seingatku, terakhir kali merapikan kardus berisi dokumen penting adalah bulan Februari, setelah itupun kubiarkan tergeletak digudang. Alhasil, 1-2 dukumen termasuk beberapa tulisan-tulisan usang yang berhasil diselamatkan. Jadi kesimpulannya, Tuhan senantiasa mengingatkan, sehingga aku bersyukur sekaligus menganggap "Efek jera" adalah bonus.
Kalau Yang maha kuasa tidak menurunkan Musibah, mungkin mental ini selamanya terdidik menjadi jiwa pemalas.

 ------------------------------------------------------------------------------------------------------
2. Kampungku sekarang ini, baik pemandangan di sekeliling tetangga, mulai jalan utama sampai hulu sungai, air bah meluap kemana-mana bak kolam lele yang penuh dengan tinja. Kekuning-kuningan bercampur endapan lumpur dan sampah. Menjadi sebuah catatan sejarah tak terlupakan bagi semua penghuni kampung ini bahwa tidak ada satupun yang patut disesali. Selama musibah ini dipikul bersama tanpa perasaan mengeluh,  tak ada yang abadi.

Karena sejak tahun 1986, kampungku sudah menjadi langganan banjir. Sebuah peringatan pula bagi penduduk kota pendatang baru harus bisa beradaptasi dengan lingkungan setempat. Menghargai tradisi lokal dan bertindak preventif apabila ujian alam itu datang.
Akan sangat mubazir sekali menyaksikan sebuah Mobil Toyota rush yang nyemplung disaluran pembuangan tanpa satupun pertolongan dari warga sekitar, hanya karena si pemilik mobil adalah orang yang apatis dan congkaknya bukan main

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
3.  Aku yakin bahwa Tuhan YME itu Maha Pemurah. Biar kata Sidoarjo diguyur hujan lebat berturut-turut disertai petir menyambar selama dua hari, aku masih diberikan kesempatan untuk hidup. Hidup yang mengarahkan imaji ini agar tetap menulis sekaligus penghubung. Kenapa?

Banjir kali ini sedikit berbeda dengan biasanya, sampai-sampai publik menyorot musibah ini baru pertama kali melanda Sidoarjo, dan desaku masuk dalam 1 dari 4 desa yang mengalami banjir terparah dengan kedalaman 50 cm sejak 10 tahun terakhir.

Puji syukur, meskipun rumah-rumah pengungsian juga nyaris tenggelam, Tuhan tak menurunkan hujan berselang 2 hari sesudahnya. ANakku juga dalam keadaan sehat, dan tidak ada satupun terdapat korban jiwa dan korban materi dari tetangga yang merugi

........

Untuk pertama kalinya juga, aku ikhlas menjadi perantara sekaligus penghubung antara penduduk kampung dengan jurnalis media. Sempat hari selasa kemarin  sebelum koran lokal menerbitkannya hari jumat 20/06/2014, aku dimintai tolong Pak RT untuk memandu petuah desa ini demi kesediaannya diwawancari reporter Jawapos

banjir trosobo sidoarjo


Aku tidak naif ingin masuk tipi, Namun aku senang dengan keterbatasan yang kumiliki selama  menulis, sedikit banyak bisa meringankan beban banyak orang.

Akan lebih senang lagi jika Bapak Walikota Sidoarjo segera tanggap dengan keluh kesah penduduk tak berdaya seperti kami. Jangan hanya bisa geleng-geleng kepala saat musibah terlanjur melanda. Bangunan perumahan yang didirinkan secara besar-besaran yang sebenarnya fungsi mereka dulu dipakai sebagai daerah resapan air. Diiringi gedung industri yang tidak memperhatikan AMDAL membuat kami bingung mau bagaimana lagi cara mempersiapkan kehidupan anak dan cucu kami di masa yang akan datang.

Walaupun cuma tersirat kata demi kata, semoga ada catatan lain yang ikut menyusul setelah ini. Musibah yang mendera kali ini, seyogyanya sanggup dijadikan kesadaran tanpa harus saling menyalahkan
Judul: Catatan Nyaris Becek: #Kala Musibah; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 6/21/2014 06:31:00 PM

1 komentar:

  1. Semoga dengan hadirnya presiden kita yang baru ini masalah seperti banjir ini bisa di atasi ya mas!

    BalasHapus