Blogermie.com: Pilih Bidan atau Jadi Polwan ?

17 Juni 2014

Pilih Bidan atau Jadi Polwan ?

Sebuah panggilan tak terjawab mampir di Ponsel saya siang ini. Belum sempat memikirkan siapa dibalik nomer dengan kode wilayah Jakarta tersebut, mendadak di ikuti 2 sms beruntun yang isinya:

"Her, gimana kabarmu"?
"Masih ingat ndak sama Nasi Komando"?


Keraguan saya yang tadinya mengira si penelepon adalah penipu yang berkedok asuransi akhirnya sirna. Saya kembali teringat perisitiwa naas saat mengikuti diklat bela negara di Juanda tahun 2009 lalu. Solidaritas yang membuat saya harus berani mengambil tindakan cepat tatkala makan nasi yang terpapar sinar matahari dan merupakan satu-satunya nasi bercampur air liur bekas muntahan orang. Satu-satunya orang yang harus berterima kasih waktu itu, tak lain adalah Pak Kuncoro. Teman 1 liting yang kini berdinas di Disminpersal Jakarta.

Sebagai Seorang PNS, prolog Pak Kuncoro tak ubahnya seperti pakde-pakde berusia 45 tahun yang cenderung bawel dan (maaf)latah. Kalau disinggung sesama rekan seprofesi jika usianya yang telah lansia, beliau selalu menyinggung dan tak mau mengakui. Namun dibalik itu semua, beliau adalah sosok teman yang bisa diajak dugem, gaul dan Idealis. Pemikiran beliau yang kadang tak masuk akal, berani dan ceplas-ceplos terkadang membuat anak muda cuma bisa manggut-manggut.

...

Singkat cerita, sms yang akhirnya dilanjutkan dengan sambungan SLJJ, kami akhiri usai jam istirahat siang. Kami saling bicara pnjang lebar mulai dari ehidupan masing masing. Pak Kuncoro yang telah dikarunia anak ke3nya mulai mengikuti arah pembicaraan saya. Obrolah Pak Kuncoro yang masih optimis dengan menjodohkan anaknya masih saja menggebu-gebu hingga kini. Sampai beberapa saat setelah memberanikan diri memotong pembicaraaan dengan mengiyakan kehidupan saya yang kini sudah berkeluarga, barulah beliau memaklumi.

Saking lamanya mengobrol dan percakapan hendak berakhir, beliau sempat curhat mengenai masa depan anak ke 2nya yang kini sudah lulus SMA. Bukan kegelisahan yang menghampiri si anak, malah kebimbangan yang dialami beliau karena bingung ingin memasukkan anaknya ke akademi kepolisian. Sementara kemauan si anak ini bertentangan karena hasratnya begitu kuat menjadi perawat/bidan.

Satu persatu, obrolan yang tadinya ringan, berubah menjadi pertanyaan yang agak berat, karena isi pertanyaannya penuh teka-teki:

Kalau kamu menjadi bapak sepertiku, kira kira pilih bidan atau polwan?

Mulanya saya berfikri kalau pertanyaan ringan yang diajukan tadi cuma untuk mrnguji daya fikir anak muda sekarang. karena yang saya tahu, bijaknya beliau sujdah tahu jawabannya berakhir seperti apa, Tapi lambat laun, saya menyadari jika pak Kuncoro benr-benar butuh pertolongan.


Menghela nafas sejenak, takut apabila salah bicara dan menjaga perasaan beliau, saya cuma melayangkan sms ini:

Mohon maaf ya dhe, biaya kesehatan makin tahun makin mahal. Kalau Panjenengan mengamati ini sebagai sebuah prospek yang bagus menyangkut masa depan dengan taraf hidup yang mulia untuk menolong orang. Saya lebih suka kalau Nina jadi perawat (khan nina anaknya pakde juga cantik :p)

Saya gak menilai polisi itu jelek. Tapi melihat asumsi masyarakat sekarang dan kasus politis yang menyita perhatian, bisa jadi poin penilaian juga. Panjenengan sepenuhnya pegang kendali, tapi biarkan anak yang menentukan masa depannya yang akan dipilih. Jadi polisi, banyak opsi untuk masuk seleksi, bukan semata nilai akademis yg tinggi. Uang sogokan juga termasuk lho dhe..hehe


Tak lama kemudian, 4 jam yang lalu...Pak Kuncoro memberikan balasan yang sungguh tidak mengenakkan:

"Dasar anak muda jaman sekarang.Tuh... Nina ingin ngomong sama Kamu"


Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 6/17/2014 08:42:00 PM