Blogermie.com: Sejatipun Mencintai, tak serius memiliki

04 Juni 2014

Sejatipun Mencintai, tak serius memiliki

Entah, ada yang aneh hari ini. Baru beberapa kali memegang ponsel layar sentuh yang diidam-diamkan, kali pertama membelinya dengan jerih payah menabung dan memainkan aplikasi game yang ada, baru kali ini saya merasakan betul arti kehilangan. Rasa manusiawi yang ada pada diri saya saat benar-benar kehilangan, berbeda sekali ketika "Lalian" menaruh benda tersebut dikolong tempat tidur, karena sejatinya....Ponsel tersebut besar kemungkinan terjatuh sewaktu perjalanan pulang kerumah.


Seperti kehilangan-kehilangan sebelumnya, namun kehilangan kali ini sangat berbeda. Tak satupun perasaan grusa-grusu yang menyertai atau putus asa. Bahkan cenderung biasa saja. Bukan berarti sampai menulis postingan ini-pun, HP tersebut masih kelihatan berharga buat saya, bahkan sebaliknya. Bukan berarti melibatkan anggaran tabungan keluarga agar mudah mencari pengganti ponsel serupa.


Itu mungkin sebuah bisikan yang membut kesadaran saya terjaga. Kalau dipikir-pikir mungkin... 1 minggu sebelumnya adalah awal peringatan yang di ujarkan Allah kepada saya agar tak terlalu mencinta sebuah benda. Kehilangan kali ini yang membuat saya malah beruntung untuk tidak lagi menghamburkan uang hanya demi membeli kuota internet 2 kartu.

Jauh kebelakang lagi, tak habis fikir kenapa jari ini begitu "Ghaib" dengan memilih memory eksternalnya dicabut. Atau, hal lain yang membuat Ponsel tersebut mudah sekali licin ketika dipegang. Puji syukur tak terlalu mengkhawatirkan kartu UIMnya karena masih bisa mengurus kembali yang baru. Tidak ada satupun video "3gp" juga, jadi tidak mencemaskan bagi siapapun penemu yang ingin bertidak asusila



Sejak peristiwa itu, saya kembali merunut apa yang diperoleh dengan pelajaran yang sudah-sudah. Yang pertama:

Saat aku yakin memiliki apapun di dunia ini, seolah-olah menggengamnya, maka...saat itu pula diriku harus siap merelakan apabila sudah uzur waktu baginya berpamitan tuk' pergi.

Kehilangan adalah hal yang paling ditakuti. Apalagi buah dari kehilangan benda-benda yang sifatnya pribadi (bukan materi), bisa membuat diriku cepat mengalami depresi.
Kenyataaan pahit memang, tapi mau bagaimana lagi? lazimnya cara paling rasional agar tidak didera depresi adalah mengkhilaskannya. Karena bagaimanapun itu, statusnya hanya dipinjamkan, lantas "berpindah tangan".


Yang kedua:

Saat aku tengah belajar dari besarnya hati atas kehilangan hakku (yang sebenar-benarnya hak sang Illahi), yang tak kalah pentingnya adalah: Bisakah aku ikhlas ketika menemukan sesuatu yang bukan hakku?

Jawabannya ada di kalimat ini----> "Orang bisa karena terbiasa".


Sambil menunggu sholat malam dan ucapan selamat malam, semoga jadi renungan.
Judul: Sejatipun Mencintai, tak serius memiliki; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 6/04/2014 12:36:00 AM