Blogermie.com: Masih Di Sini ( Gerbong Kereta Api )

23 September 2014

Masih Di Sini ( Gerbong Kereta Api )

Langit belum terlalu gelap untuk mengakhiri perjalanan ini di stasiun berikutnya, Meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.40 WIB, saya hanya bisa mendesah dalam hati agar bisa segera sampai sebelum senja.
Di Gerbong kelas 3, saya adalah penumpang yang tersisa dan boleh dikatakan melega karena memperoleh banyak kesempatan unuk merebahkan diri. Dua penumpang disebelah saya, lebih dulu turun di stasiun Probolinggo, sehingga 2 jatah kursi tersebut saya monopoli untuk kepentingan tidur.


Tidak terlalu melelahkan memang, namun cukup mampu menciptakan suasana bosan. Aktivitas pengusir jenuh yang kerap saya lakukan mulai, dari maen game, mendengarkan musik, memotret, membaca, ternyata tidak cukup ampuh. Namun ada alternatif lain yang belum saya laksanakan mulai awal keberangkatan. Angan mulai terseret untuk kembali menikmati getirnya racun rokok.


Bergegas kemudian menuju gerbong belakang yang paling dekat dengan pintu keluar, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku. Beruntungnya ada seorang wanita yang sudi berbagi asap....."Mas punya rokok?". Saya hanya mengangguk pertanda mengiyakan.

Saya bukan termasuk karakter yang  memiliki jiwa pembangkang, apalagi tidak taat peraturan. Namun, dengan mengacuhkan larangan merokok di fasilitas umum untuk sekali ini saja, (sepertinya) mengasikkan asal tidak mengganggu...asal tidak menyebar emisi oksidan tersebut ke segala penjuru...

Nakal sekali bukan?

....

Jawaban kegelisahan dengan seketika terjawab tatkala saya menghembuskan asap tersebut keluar jendela. Untuk kali ini saya setuju dengan Muhammad Sholeh Akbar llewat sebuah petikan syair lagunya: " Tak ada teman sejati bagi Pria, selain kesendirian dan Korek Api.."
***

Melakukan perjalanan seorang diri memang bukan pertama kalinya saya lakukan. Jauh di tahun sebelum beniat melepas masa lajang, saya sudah terbiasa melakukannya sendiri. Rute terjauh yang pernah sekali terjamah adalah Surabaya-Jakarta dan berhenti di Stasiun Pasar senen, itupun sudah sekitar 10 tahun yang lalu saat masih duduk di bangku SMK.


Ada beberapa buku agenda wajib yang selalu saya bawa ketika bepergian. isinya tak lain hanyalah skenario kunjungan ke beberapa tempat terlarang. Beberapa yang ditandai dengan lingkaran kecil menandakan tempat-tempat atau hal yang menjadi prioritas saya selama beberapa jam nanti di kota tujuan. Semua sudah direncanakan semenjak 3 hari sebelumnya. Tapi mengingat limit waktu liburan yang terbatas, memaksa saya memilih beberapa destinasi saja. latas kemudian memasukkannya kembali ke dalam tas. Terlebih lagi, kereta jadi sering berhenti cukup lama di stasiun yang tidak seharusnya.


Puntung rokok hampir habis, diikuti pengumuman yang terdengar dari speaker kecil disudut gerbong, menandakan perjalanan ini telah sampai ditujuan akhir. Saya siap kembali ketempat duduk semula, untuk kemudian merapikan yang telah ada.

Di dalam kereta, saya kembali mengecek barang...tidak ada yang kurang, kecuali Saat membuka buku agenda dan mendapati rencana yang telah saya coret dari daftar sebagai skema tujuan yang telah gagal.


Tiga Jam sudah, kereta yang saya tumpangi tiba di Stasiun Tanggul-Jember. 13 September 2014 pukul 18.53 WIB, kaki inipun turun menginjak lantainya. Dari ponten yang berada di ujung stasiun, saya memutuskan berhenti sejenak untuk buang air kecil dan cuci muka, berjalan setapak lagi untuk sampai di pintu keluar.

Rupanya, kawan lama telah menunggu setengah jam sebelum saya tiba. Kami mendudukkan diri dan memesan 2 cangkir Kopi. Tak lupa kembali untuk menyaksikan begitu riuhnya para manusia yang lalu lalang didepan kami laksana pion Catur. Kami cenderung banyak mengobrol secara basa-basi, barangkali bertemu atau lebih tepatnya 'mendapati' salah satu penumpang kereta api yang berbeda kelamin dengan kami, berakhir tersesat...dan ujung-ujungnya bertanya, mungkin kamilah satu-satunya Pria beruntung yang bisa dijadikan rujukan navigasi.

Diakhir perjalanan ini, seperti kebiasan yang sudah-sudah, saya menghubungi istri melalui sambungan selular, untuk sekedar menanyakan kabar gerangan, dan betapa Ayahnya ini merindukan irma, anak perempuan kesayangan satu-satunya.


Di sela obrolan, pembicaraan sering teralihkan. Mungkin karena saya adalah "Manusia Baru yang mudah kagum", sayang apabila berkunjung ditempat seperti ini tidak mengkolaborasi cerita dan ornament-ornament yang cantik (setidaknya menurut saya). Maka, foto Stasiun Tanggul sepertinya menarik dijadikan objeknya!

Stasiun Tanggul tampak malam hari
Judul: Masih Di Sini ( Gerbong Kereta Api ); Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 9/23/2014 09:19:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar