Blogermie.com: Sekelumit Elegi di Gerbong Kereta Api

14 September 2014

Sekelumit Elegi di Gerbong Kereta Api

Suasana yang tadinya ramai, tiba-tiba hening begitu suara pengumuman menggema di pelataran stasiun Gubeng Surabaya. Mulanya, saya khawatir jangan-jangan pengumuman tersebut adalah berita keterlambatan Kereta yang kerap terjadi tiap kali saya berangkat ke tempat manapun.
Namun, prasangka tersebut tidak terbukti.

Kereta datang lebih awal 10 menit jauh dari yang saya perkirakan. Saya yang kala itu sedang asyik membaca buku mahabarata, sejenak berhenti... menutup buku bersampul mika tersebut, untuk kemudian memasukkannya kembali ke dalam tas.


Kereta yang dinanti telah tiba. Masih dengan branding yang sama sekali tidak berpindah nama saat untuk kedua kalinya naik Logawa bertaraf kelas C. Ditarik Lokomotif berwarna putih, sementara rangkaian Gerbongnya berwarna kuning bergerak menuju barisan penumpang yang sama-sama menunggu kehadirannya sejak lama. Satu diantaranya adalah saya sendiri, manifest penumpang yang enggan berpindah kursi.


Gerbong 3 dengan nomor kursi (C) 4A, saya mencoba melepas pandangan keluar jendela. Biarpun kereta belum berangkat, namun cuaca sangat cerah jika memperhatikan aktifitas petugs PJKA dari dalam gerbong. Sementara pengamatan saya juga tak luput dari penumpang lain yang antusias mengantri masuk dari pos pemeriksaan. rel kereta, berkurangnya pedagang asongan, pelayanan yang lebih bergengsi seperti ketersedian Charge HP di bawah meja, Fasilitas AC, sampai kamar mandi yang 'beda' dari biasanya.




Tak lama berselang, gerbong besi sudah merangkak kembali. Pelan-pelan meninggalkan imajinasi yang tertinggal di gubeng dan menyongsong cerita baru menuju Jember.



Perjalanan kereta melewati celah dan gundukan bukit yang membuat saya menerka-nerka kejadian berikutnya. Menebak pastinya kereta akan gelap gulita sesaat lantaran melewati terowongan .... tapi ternyata tidak. Sementara di sisi pandang yang lain, saya terkesima akan suguhan persawahan yang tampak molek, anggun terlihat dari balik jendela kereta.
Bukan hanya itu, ada banyak hal cerita yang terbingkai begitu saja, dan mubazir sekali dilewatkan seperti ini:

Iseng jepret

Saya adalah tipe manusia yang mudah takjub selama perjalanan, biasanya juga akibat hal kecil nan sepele. Mungkin itu sebabnya pula saya menjadi orang yang susah tidur. Apalagi kalau disuruh tidur ditempat berisik seperti dikereta api, meski sebenarnya juga tidak terlalu menyukai keramaian. Untungnya bagi saya yang sudah jera duduk di kursi panas manapun, kursi Kereta Api adalah tempat yang nyaman untuk melakukan “pengamatan”.

Beberapa kali menumpang kereta api, saya selalu senang ngobrol dengan penumpang lain diawal-awal perjumpaan, setelah bosan, biasanya perhatian saya lebih teralih dengan mengintip kejadian-kejadian di dalam gerbong. Dari kebiasaan inilah, saya juga lebih mudah mengenal situasi dan karakter beberapa tipe penumpang kereta api mulai dari yang lucu hingga yang asu.

Sepasang penumpang lanjut usia yang duduk bersebelahan 2 baris kursi dari saya selama perjalanan, saya mencatat 2 kali mereka terusik dengan penumpang baru yang notabennya ABG labil. Mereka juga ibarat pasangan Remeo-Juliet awal dekade yang sangat rukun menyuapi satu-sama lain. Saya ingat betul mereka dua kali pulas tertidur. Dari dasar hati yang paling dalam, mungkin bukan hanya saya saja yang ingin seperti mereka.


Didepan, penumpang pria yang bisa dibilang mirip Joe Tasliem, sepantaran usia dengan saya, juga lebih memilih menghabiskan waktu longgar dengan bermain game. Hanya sekali dua kali bertanya identitas, kadang juga membicarakan topik seputar pekerjaan dan saling bertukar cemilan. Saya bahkan merasa rileks dengan kehadirannya, karena kami berdua (nampaknya) tidak suka bicara banyak.


Kereta berjalan melambat ketika mendekati stasiun gedangan,. Disini penumpang silih berganti tempat duduk, ada yang datang dan ada pula yang pergi. Muncul penumpang baru yang duduk bersebelahan dengan saya. Membawa banyak barang terhitung mulai dari 2 kardus ukuran mie instan, dan 1/4 karung tepung tapioka. Saat tepung tersebut dinaikkan ke bagasi atas, bukan main serbuknya bertebaran kemana-mana. Cukup untuk membuat penghuni gerbong merasakan sindrom bersin massal. Puji syukur nestapa itu tidak berlangsung lama karena di stasiun Pasuruan, beliau berpamitan turun.



Kereta api memang menjadi pilihan utama transportasi jarak jauh dengan membawa banyak barang. Tak heran jika dalam satu rangkaian kereta, terkadang disediakan 1-2 gerbong khusus untuk barang. Jika untuk sementara bagasi yang terdapat di masing-masing gerbong penumpang terlalu sesak dengan barang bawaan, alternatif menggunakan toilet bisa sekalian dilirik.


Terhitung beberapa kali kereta berhenti. Entah di stasiun kecil atau besar, untuk sekedar menurunkan penumpang maupun berbagi lintasan kepada kereta bisnis-eksekutif dengan leluasa, tidak berpengaruh terhadap rute keberangkatan, yang saya sesalkan cuma manajemen waktu, itu yang membuat saya sedikit bosan. Untuk meringkas rasa penat, selain memotret, saya pasti mengeluarkan buku apapun dari dalam tas. Jenis bukunya apa saja, tapi biasanya buku yang belum tuntas saya baca seperti Mahabarata tadi.


Tak terasa 1 jam lamanya membaca cerita Barathayudha dengan kisah naas Kurawa yang berseteru oleh pandawa di medan pertempuran, mungkin kisah ini hampir mirip. Hanya saja panasnya konflik tersebut berefek terbalik dan bahkan malah menjadi bunga tidur yang mengantarkan kesadaran saya dalam keadaan kalah telak sebelum berperang.

Karena apa???

Karena belum sempat perjalanan ini mendekati akhir tujuannya menuju Stasiun Tanggul, saya dibangunkan awak kereta lantaran sudah terlalu lama mendengkur.


bersambung


Judul: Sekelumit Elegi di Gerbong Kereta Api; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 9/14/2014 04:48:00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar