Blogermie.com: Banjir Sidodadi, Menanggung Dosa Sembunyi-sembunyi

10 Oktober 2016

Banjir Sidodadi, Menanggung Dosa Sembunyi-sembunyi

Di Bahu jalan, sebuah perempatan yang membelah desa ini menjadi 4 Wilayah. 3 jam yang lalu adalah Momen yang nyaris membuat saya sedih. Beberapa orang anak yang nampak tak peduli, bermain dengan begitu senangnya meski banyak kendaraan berlalu lalang di depannya. Pemandangan yang agak lain dari biasanya mengingat semalaman desa ini diguyur hujan 3 jam tanpa henti yang berakibat 3/4 wilayah desa sidodadi tergenang air setinggi lutut orang dewasa. Pun tak ada alasan bagi saya untuk menegur anak-anak ini akan bahayanya bermain ditengah keramaian jalan, meskipun para pengendara bisa saja menabrak mereka dalam keadaan tidak sengaja, Sehingga dengan terpaksa himbauan yg awalnya ditujukan untuk mereka, diam-diam saya simpan dalam hati demi menasehati diri sendiri.


Banjir Sidodadi,taman-Sidoarjo Jawa timur
Bangunan tembok sebelah kiri Foto adalah Lokasi dimana Citra Harmoni Regency Berdiri

Saya hanya tersenyum, Tentu saja bukan untuk membalas senyum mereka yang mengundang bahaya bagi para pengendara. Saya tersenyum memaknai sendiri bahwa sudah begitu masifnya peristiwa yang melanda desa ini. Seperti sebuah teguran, fenomena bencana ini terlihat sederhana, hanya berupa motto "desa Sidodadi Langganan Banjir" namun sebenarnya sangat dilematis.

Banjir Sidodadi terparah
Banjir sidodadi yang mencapai Lutut orang dewasa


Berawal dari tahun 80an, Desa ini sebenarnya memiliki banyak history. Terkenal dengan Sumber daya alamnya yang banyak. Berhektar-hektar sawah yang membentang. Sungai irigasi yang lebar dan bening, Hasil palawaija yang melimpah ruah.
Seingat Saya dulu, berikut diperkuat dengan pengakuan dari para sesepuh desa, Desa Sidodadi kaya akan sumber Nabati dan Hewani, terutama Penghasil Padi dan Palawija. Untuk sumber daya hewani yang paling sering ditemui adalah Ikan air tawar yang terbiasa hidup liar di muara sungai. Bapak saya juga sering menggantungkan hidup dari hasil menangkap ikan Gabus dan Kijing. Disamping karena dulunya desa Sidodadi memang jarang berpenghuni.


Sampai naas itu datang di tahun 2000-an, dimana para feodal penanam saham mulai menggerus beberapa hektar tanah persawahan untuk berdalih dijadikan Regency dan komplek Perumahan, Semuanya telah berubah drastis.


Sawah yang fungsinya lebih optimal sebagai daerah resapan air akhirnya menjadi gedung gedung pemuas kebutuhan perkotaan. Tidak memperhatikan dampak lingkungan, Sementara Sungai-sungai malah dipersempit. Tanpa dialokasikan sebagaimana mestinya sebuah fungsi aliran air, para penduduk "elit" Citra harmoni malah membuang sampah sesukanya tanpa pernah ada inisiatif yang membangun bagaimana jika melihat dampaknya terhadap desa Sidodadi.



Saya yang kala itu masih kecil dan duduk di Bangku SD, tak habis fikir jika memang sejarah telah membuka pintu kebenarannya: Ada kong-kalikong antara Kepala desa dan Perusahaan properti menjadi Rapor merah. Penduduk pribumi "dibujuk" untuk Sudi menjual Tanah garapan mereka kepada Agen tanah dengan Iming Iming Bonus Sepeda Motor. Sementara Penduduk Sidodadi yang dulunya berlatar pendidikan Sekolah Rakyat (SR) hanya terkecoh, menanggung akibatnya sekarang. Keterbatasan inilah yang akhirnya menggiur pribumi dengan Rayuan "Kolonialisme Moderen". Mulailah terjadi migrasi besar-besaran dari kota-ke -desa  hanya karena berkurangnya tempat hunian semula dari kota mereka tinggali


Banjir di desa sidodadi, Taman -Jawa Timur ini menjadi gaung nasional, bahkan sepanjang Tahun. Walaupun bencana ini sebenarnya hampir tak pernah mendapatkan tempatnya menduduki trending tropik di headline regional sebagai wilayah rawan bencana. Yang lebih layak mendapatkan bantuan kemanusiaan ketimbang peristiwa politik yang melanda Ibukota



Banjir di desa Sidodadi seperti sebuah kutukan sepanjang zaman. Celakanya, yang selalu mendapat perhatian penuh dari pemerintah Daerah Sidoarjo hanya Perum Citra Harmoni (milik CITRA LAND) sewaktu terjadi banjir kiriman yang sekarang plakat-plakatnya terpampang di tepi jalan. Dikelola oleh oknum-oknum yang tidak menghiraukan dampak lingkungan di tempat kami. Media selalu menyorot Citra Land untuk Tampil dihalaman muka media cetak dengan keadaan yang seolah baik-baik saja dibalik Segala Fasilitas yang diberikan. Sedangkan Wartawan Lokal hanya meliput banjir hanya diambang di pintu Citra Harmoni, enggan untuk menganalisa lebih dalam hingga ke pelosok-pelosok tempat yang seharusnya lebih diprioritaskan membutuhkan perhatian.
Ada apa gerangan desa..? ....Dari sebuah kalimat biasa yang muncul sebagai tagline di baliho serta spanduk kampanye perumahan Elit dan Murah. apa minim prestasi, apa karena kusut ? Kemana tanggung jawab Citra Land selama ini ?


.......................

Seperti gosip yang sudah sudah, Mungkin Desa Sidodadi dan bencana yang menimpanya hanya akan menjadi angin lalu bagi segelintir orang. Jauh dari yang diharapkan warganya yang ingin hidup layak tanpa banjir. Jangankan untuk dipantau media, Mungkin Pemerintah Juga...hmmm enggan peduli.

Bagaimana tidak? , di tengah berbagai masalah yang membelit bangsa saat ini, banjir didesa saya- Sidodadi. Ternyata berhasil membuat banyak orang di lingkungan saya huni, termasuk saya sendiri...hanya  sanggup terpekur dan flashback mengulang kebobrokan yang ada dalam sebuah sistem birokrasi tanpa sanggup berupaya apa-apa. Mundur ke sebuah zaman di mana semuanya “terasa” nyaman meski diam-diam terbungkus penyakit yang menakutkan.


PENUTUP


Kami warga sidodadi sangat kagum dengan popularitas Citra Land, Tapi sebenarnya kami lebih pantas khawatir atau mungkin takut bahwa pembangunan Regency elit yang dibentuk Citra land dan Agen sejenisnya adalah sebuah cara sistematis yang dilakukan secara manis dan senyap untuk menghapus dosa.

Banjir di desa Sidodadi lebih dari sekadar "Kiamat" yang menghantui masa depan anak-anak kami. Sapaan itu kini sudah menjadi bagian dari strategi yang secara sistematis dikembangkan sekelompok orang atau oknum untuk “memperkaya diri”.

Kembalikan desa kami
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/10/2016 07:25:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar