Blogermie.com: Dibalik Keterbukaan, Menjadi Blogger adalah Teguran

27 Oktober 2016

Dibalik Keterbukaan, Menjadi Blogger adalah Teguran

Saya mengira, saya tidak akan menulis topik ini lagi. Karena sebelum tulisan ini dibuat, pernah menulis tema yang sama di hari pertamanya berkenalan dengan dunia tulis menulis. http://www.blogermie.com/2013/10/hari-blogger-nasional-tentang-suratan.html. \


Jujur, antara takut dan berani juga saya menulis ini. Takut karena pendapat saya akan mendua dengan tingkat kecerdasan kebanyakan orang, berani karena saya yakin anda (penulis/blogger) yang kebetulan tersesat setelah membaca postingan ini) semua adalah "be good man" yang se-saudara dan cinta kebebasan.


Mengulang kembali peringatan Hari Bloggernasional yang jatuh pada tanggal 27 Oktober 2016 ini, Saya tidak tahu harus berterima kasih macam apa lagi pada Database atau Hosting. Mungkin juga bukan buat platformnya yang menang Tua-Dasbor Google...tapi lagi-lagi bagi Dia-lah, Dzat Agung yang telah menggoreskan pena berikut ayat pertama yang diturunkan kepada Muhammad. Iqra'. Bacalah! Baca apa lagi, dan semesta-Nya?...Ini adalah ruas jalan yang harus untuk dilalui

Menulis membuat saya merasa lebih humanisme. Membuat saya lebih landai. Landai menghargai hidup dari skala yang lebih menunduk dengan memantau dari visual yang lebih luas melalui tauladan orang lain. Dengan Blogger-lah, saya mempunyai daya dorong untuk mencoba hal-hal baru. Mengapresiasi suatu hal akan datangnya hal-hal yang menakjubkan melalui pengembangan metode spiritual, terutama jika sudah di wilayah "Outdoor" wajib hukumnya untuk lebih menggunakan nurani ketimbang naluri. Semuanya masih perlu untuk saya pelajari dan di evaluasi kembali.
Dan, Lagi-lagi ini semua semata-mata karena Ridho dari-Nya mempertemukan saya dengan banyak teman yang merangkum seluruh peristiwa yang melanda menjadi sebuah renungan

Puji syukur, Keraguan yang ada di sekitar saya, Ditambah pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang saya pungut dari rekaan kehidupan, sedikit demi sedikit terkuak. Lantas, saya coba bagikan ke orang-orang sekitar. Berbagi melalui sarana cangkrukan warung kopi. Menulis, bergaul, dan ngopi menjadi narasumber, berbagi pengalaman dan cerita, dan kini sampingan reparasi ponsel yang saya tekuni, menjadi penggagas hidup yang sanggup dijadikan selingan saja.


Semakin ke sini, saya merasa bahwa belajar, berkarya lewat tulisan, jalan-jalan menjadi viral, dan bergaul ke semua lini adalah tema besar hidup saya. Dengan menulis, saya bisa lebih tenang dalam berfikir, meski hanya tampilan luarnya saja, banyak diantara teman yang mengira bahwa saya masih terlihat nyinyir dan dekil saking pecicilannya. :D

Berbagi passion menulis: Hiduplah melandai dan Bergaul apa adanya

Hidup seorang penulis dituntut bersemangat, entah dipaksakan maupun tidak karena  ditiap intrik, penulis tentunya menemukan batas pakem sampai dimana letak keingintahuannya terhadap 1 titik.Yah harapan saya memang ingin semuanya baik-baik saja di segmen apapun.

Karena tidak terbiasa pura-pura, saya berani jamin, harus idealis untuk mendorong motivasi anak muda zaman sekarang ini tidaklah mudah kalau tujuannya untuk mengajak ke suatu hal yang sifatnya positif. Agar para anak muda ini sanggup berkarya dan memunculkan bakat terpendamnya, memang perlu sebuah kemauan untuk membaur dengan mereka. Meluapkan emosi dan melupakan segenap kata gengsi sang penulis adalah satu diantara kata kunci apabila saya betul-betul ingin melakukan pendekatan alami, sekaligus keterbukaan demi menghargai potensi mereka,toh mungkin ada beberapa hal dari yang mereka lakoni bisa berpotensi ke arah negatif... (itu tiada masalah)

Setidaknya, mencermati perkembangan anak muda-muda yang leluasa berbagi keluh kesah setelah meraup banyak keriangan dalam menjalani aktifitas mereka tanpa mubasir adalah bonus bagi saya. Yah..karena Hidup itu tidak melulu berisi "Pura-pura bahagia". Pura-pura bahagia itu tidaklah sehat. Jelas membutuhkan banyak tenaga dan asupan karbohidrat, protein dan kaya serat ...maka renungan dalam tulisan tetap perlu. Untuk menangkap intisarinya, Perlu terjun kedalamnya. Itu bisa menjadi referensi bagi orang lain, termasuk saya yang bermaksud saling mengisi kehidupan yang tidak terdapat pada diri mereka, begitupun sebaliknya..disamping keuntungan tersebut juga sering saya jadikan bahan dan metode untuk menulis secara praktis

Ketika orang sudah mencapai level itu, saya merenungkan kembali apa-apa yang telah disampaikan beliau (guru Ngaji), Membayangkan betapa serunya dunia ini. Orang-orang yang fleksibel mengkombinasikan diri tanpa terganggu situasi, bahkan bisa melakukan sesuatu dengan taraf yang lebih rendah lagi. Ilmu laduni yang bukan sekadar untuk diketahui semesta alamnya yang luas tak berbatas, Bukan lagi untuk sekedar dicicipi dengan proses ketidaksengajaan saat melaluinya secara tidak sadar tapi juga alangkah baiknya dibagi untuk orang lain dengan berlomba-lomba Istiqomah menjadi orang yang bisa memberi manfaat pada sekitarnya. Ya, karena kita adalah yang makhluk yang tak berdaya. Melampaui hal-hal berkadar materiil tidaklah cukup jika tidak diimbangi asupan psikologi yang memadai..mau tidak mau, kita harus belajar membaur dengan keadaan. Itu Mutlak

Ilustrasi

Sebab, apa lagi sih yang mau kita perbuat dalam hidup ini? Apakah sekadar menjalani hidup dari hari ke hari? Bangun, kerja, tidur, berak, dan berkembang biak? Apakah sekadar itu saja? Saya yakin, tidak. Sebab, nurani manusia juga ingin berbuat sesuatu pada orang lain. Tidak perlu suntuk dengan hidup yang bosan dengan yang itu-itu saja..Tak perlu muluk-muluk pula memenuhi keinginan hidup yang seperti apa. Paling tidak, hal yang wajib menjadi perhatian adalah untuk keluarganya sendiri. Dari keluarga kemudian bercabang ke yang lainnya.

Itu pun jika seseorang tidak membatasi dirinya dalam berbuat baik hanya untuk lingkup 'internal' dia semata. Bahwa, kemanusiaan dirinya harusnya melampaui diri. Kemanusiaan tidak mengenal hubungan darah. Manusia dengan manusia. Manusia dengan lingkungannya. Manusia dengan semesta tempat ia berada.

Padahal saya memulainya dengan judul di atas dan hendak membahas renungan yang terselip didalamnya, tidak tahu kenapa tulisan ini kok malah terlampau melebar ke mana-mana.. Tapi, demikianlah. Saya membiarkan pikiran saya menerawang ke mana-mana. Mumpung juga suasananya mendukung. Kerja shift malam seorang diri, sementara di luar situasi, sunyi dan sepertinya ditempat ini (RSAL dr. Ramelan memang banyak demit. Sejenak henti berderai, kemudian sambung lagi.

Ah, bukankah demikian pula hidup? susunannya berantai dan estafet hingga kematian menjemput
Judul: Dibalik Keterbukaan, Menjadi Blogger adalah Teguran; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/27/2016 11:18:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar