Blogermie.com: Hai Kunti Jawa, Bagaimana Kabarmu Disana?

06 Oktober 2016

Hai Kunti Jawa, Bagaimana Kabarmu Disana?

Lima belas tahun, bahkan lebih, tak terasa saya tumbuh berkembang di lingkungan jawa. Mengadu nasib diantara njelimetnya 3 kota besar di Jawa timur, Akhirnya diakhir kuartal akhir 2006, saya menetapkan diri ke Surabaya hanya sekedar untuk "nggolek Bojo". Sadar maupun tidak, “semangat kejawaan” itu terus terbawa. Sepertinya saya memang tak pantas jadi orang kota, atau setidaknya dalam hati jangan sampai mewarisi gaya hidup Madura.

Sebelumnya banyak teman tertawa begitu tahu saya menikahi gadis madura. Kemarin menjelang lebaran juga ada seseorang madura dengan nadanya yang menggelikan karena ia menilai, perempuan madura selalu diasumsikan sangat ambisius, apalagi untuk urusan libido dan ranjang. Apakah saya masih Jawa, atau sudah bermigrasi menjadi Madura? itu pertanyaan darinya?

Omaigat...!!!. mungkin saya termakan buah simalakama. Oh sungguh demi atas nama Doni-Adaband, saya sama sekali tak bermasalah dengan itu semua, saya cuma tersenyum. Saya bahkan sepenuh hati mencintainya, Bukan Pemain cinta yang bisanya datang-pergi semaunya

Saya tak keberatan jika beristri madura, lalu dengan leluasanya orang lain menilai tabiat perilaku pasangannya juga ikutn mencontreng madura. itu betul, tapi tidaklah mutlak.

Untuk mengakui kalau saya terlalu menaruh hati dengan “kearifan lokal” yang saya bawa sejak lahir. “Kearifan lokal” ???. (baiklah, itu nama samaran untuk istilah “jowo,ndeso, kampungan”..^^). Saking “arif” dan kampungannya, hingga kini saya pun bersikeras untuk tak mau bertamasya di taman hiburan,ataupun mall, terutama yang menggunakan branding impor.

Oh, sungguh banyak alasannya. Grogi satu diantaranya. Saya tak terbiasa berjalan di atas lantai marmer. Juga tak biasa masuk gedung di mana orang sudah siap membukakan pintu untuk saya. Saya merana kalau berdiam lama lama di ruangan ber AC,. Dan saya juga sangat kikuk kalau harus makan dengan garpu dan pisau...^^.

Tapi hari itu, 11 September 2016, untuk kedua kalinya saya mencoba menerobos masuk “kearifan lokal” itu lagi. Saya bersama 3 orang teman lainnya ngterip di tempat lain. Oh sungguh atas nama ibu pertiwi saya senang sekali jika berada di tempat sepi. Hening Pula. Suasana pedesaan disaat dini hari, identik dengan wingit. Sebuah rumah kuno yang kini ditempati Bulek Kasih dan Paklek Suroso di Kertosono sepertinya pantas untuk menjawab itu semua



Saya masih ingat betul dan merasakan kehadirannya.(intinya jadi Peka itu gak enak).
Perempuan dari dimensi lain itu selalu berada disisi kami kemanapun arah kaki melangkah. Ditengah gelak tawa kami bertiga, bercengkrama terasa lengkap dengan sruputan kopi panas. Bahkan ketika saya hendak buang hajat ke kamar mandi, si-Doi menemani sampai-sampai kambing ternak yang tepat berada di halaman belakang mengembek beberapa kali. (Mungkin sebagian binaatang juga yang memiliki kepekaan yang relatif terhadap panca indra mereka dalam merespon situasi yang tak terduga).  Itu terjadi 2 kali, sehingga saking mangkelnya, saya melemparkan gayung air ke depan pintu kamar mandi.

"Ya ampun, mbok muncul dong. Kek kenalan sekalian gapapa,. Kamu cewek kan.."gumam saya dalam Hati
...

Kamu punya piaraan apa ros?" nyimpen cewek dalam kamar mandi, makanya sabunmu lekas habis ??.
Saya hanya terkekeh, mengaku.. Belum selesai keraguan saya terjawab, teman saya yang satunya malah terkekeh
"Cie..cie yang baru kenalan dengan mbak Kunti"

Ternyata malam itu, kami memang tidak sendirian. Ngopi itu ada temannya, terkecuali paklik dan bulik yang terpaksa berpamitan istirahat lebih dulu, ada juga “Mbak Kunti”. Gaunnya putih, agak kusam rambutnya acak-acakan (mungkin banyak ketombenya), dan wajahnya sungguh cantik !!!!. Tapi teman saya (indigo) justru malas. Entah siapa yang menderita kelainan jiwa karena baper berlebihan, teman-teman atau saya..

Beberapa jam lamanya saya masih terjaga. Sangat disayangkan disaat momen momen itu terlewatkan. Jadi kami bertingga sepakat untuk menghabiskan akhir pekan itu untuk melekan, bercandaan sampai Pagi.

 ***

Yang paling saya kagumi sebenarnya bukan penghuninya, melainkan suasananya yang hening. Saya merindukan banyak hal yang 15 tahun lalu, sudah pasti tidak saya dapatkan kembali di tahun 2016 ini. Saya rindu suara jangkrik, binatang malam, dan tentunya adalah hembusan angin malam yang kata orang selalu bikin bulu kuduk berdiri





Dan sebentar kemudian...JEPREETT !!!. Saya memotretnya. Hari bersejarah, dan ini juga menjadi potret yang mengingatkan betapa menunduk dan arifnya kehidupan Paklek dan Bulik dalam menjalani kehidupan Jawa. Diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari untuk merawat anak, berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, sekaligus cara mereka memunajatkan doa adalah menyatukan rohaninya dengan alam. Jadi harus diabadikan dong !!.

Bismillah... Dengan mantap namun sedikit ragu-ragu saya mulai mengatur posisi kamera. Pertama yang saya snap adalah Sumur Tua dan kamar mandi itu. Tapi demi nama baik saya sendiri, rasanya nggak sopan kalu tidak izin. Sungguh masih lebih enak hidup disini demi menghindari kebisingan kota !!. Oh Tuhan, semoga engkau cukupkan usiaku agar suatu ketika,diriku bisa menjumpai hal seperti ini lagi

Selesai dengan rumah itu, saya akhirnya bersiap menggeser shoot kamera ke arah hamparan persawahan yg berada di belakang rumah. Oh iya, saking terhalang oleh rerimbunan pohon bambu tadi.

Dengan percaya diri saya mulai menikmatinya. Membuka batin untuk kenyamanan diri sendiri, saya merelakan harga diri saya. Saya memberanikan diri menyapa tetangga didekatnya walaupun bagi mereka, kami berempat sebenarnya adalah tamu asing. Iya, saya tak membutuhkan ideologi dan rasionalis disini. Dan saya memang sangat tertolong karena imajinitas, unggah-ungguh ada manfaatnya pula bagi orang Jawa.

Itu belum selesai. Baru menghabiskan 1/2 hari satu malam disitu, saya bangkit dan menuju kamar mandi. Tak usah ditanya apa yang saya lakukan. Yang jelas satu. "Saya pergi mau pulang mbak, gak usah kepo-kepoin saya lagi ya..awas kalo berani dateng lewat mimpi, Tak Jambak Rambutmu!!"

Terima kasih Tuhan, hari ini saya bahagia untuk pertama kalinya selama lebih dari 20 tahun memiliki identitas Jawa. Paling tidak kalau ditanya orang apakah saya masih jawa Asli, saya akan mantap menjawab : “IYA”.
Judul: Hai Kunti Jawa, Bagaimana Kabarmu Disana?; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/06/2016 10:09:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar