Blogermie.com: Pasukan Pat-pat Dibalik Terpaan Banjir : Kutu Air, hingga Panen Raya Ikan Mujair

10 Oktober 2016

Pasukan Pat-pat Dibalik Terpaan Banjir : Kutu Air, hingga Panen Raya Ikan Mujair

Anak muda yang tak pernah kehabisan energi dan kreativitas agar Banjir selalu disyukuri dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Cara paling sederhana untuk menangkap hikmah bencana adalah dengan menyambutnya dengan aktifitas positif... diluar batas kewajaran.

Adalah pasukan Pat-pat, sekumpulan anak muda karang taruna yang terhubung dalam satu kerukunan tetangga. Terdiri dari gabungan dari dusun seberang. Komunitas RT 3, RT 4 dan RW 5. Tidak dibawahi organisasi Apapun, maupun berkonsolidasi dibawah naungan Kepala desa. Forum terbuka berdasarkan inisiatif dan kekompakan bersama.
Meski dihimpit berbagai masalah internal dan pekerjaan, mereka yang kebanyakan dari himpunan pemuda ganteng pengangguran swasta sepanjang masa tetap melenggang. Tidak goyah diterpa isu harga kenaikan rokok, Selagi kebutuhan logistik berskala prioritas bagi mereka seperti Ngopi, tetap tercukupi....Sementara rokok hanya menjadi opsi paling bontot selagi pemilik Warkop berkenan memberikan pengecualian...dikasih pinjaman piutang.

Hobi mereka beragam ketika saya tanya. Ada yang mengaku pecinta unggas, demam berburu dengan senapan angin, bahkan ada yang merasa sangat menjiwai hobi karena saking cintanya dengan peran seorang  waria. Awalnya tampak malu mengungkapkan. Namun, suasana akrab segera mencairkan rasa segan ketika seorang pemuda berinisial "I" dengan mantap mengeluarkan suaranya saat diminta melawak ala Dodit Mulyanto.

Yah, keseharian mereka selalu dipenuhi gelak tawa. Seperti keberadaan desa ini.


***
Saat cuaca mendadak berubah seperti di minggu-minggu ini, aktivitasnya berganti ke sesi "Basah". Mereka piawai membaca kondisi alam desa Sidodadi yang extrem menjelang tutup tahun. Apalagi, Sidodadi adalah sebuah bentang alam berupa wilayah terdampak banjir Tahunan yang mempengaruhi  jenis Ikannya. Menjadi ladang subur untuk menyalurkan hobi. Terlebih ekosistem ikan akan dipastikan meledak jumlahnya, meluber ke berbagai penjuru. Sampai pekarangan tetangga.
Pemandangan tahunan


Di bawah terik matahari, Para anak muda ini antusias mengusir kebosanan. Seraya ngopi secara bersama, Beberapa Joran dan mata Pancing pada akhirnya menjadi sahabat yang menghangatkan suasana. Aktiivtas ini bisa berlangsung hingga seharian penuh apabila banjir melanda. Di tepian aliran pembuangan (dulunya hulu sungai) yang berkelok ke muara, didapati beberapa kawan yang memantau perkembangan siklus ikan Mujair hingga dini hari tiba.

Sebuah keuntungan tak terduga yang terkadang tak sesuai dengan hasil jerih payah mereka, Tak sedikit teman yang pada akhirnya terjangkit penyakit kutu air di sela jari kaki karena terlalu seringnya berendam berjam-jam tanpa sepatu waterprof. Meski tak terlalu memperhatikan keseharian mereka sepanjang waktu, kebanyakan aktivitas memancing menjadi obsesi yang paling dicari jika sudah waktunya dini hari. Yang lebih ekxtrem lagi saat hujan deras, dengan bekal lampu senter seadanya, tanpa mengenakan mantel, Senyum dan tawa tetap bertebaran di wajah semua orang yang ada di situ tanpa terlalu mengkhawatirkan keselamatan diri dalam kondisi cuaca, maupun kondisi minim cahaya.

Selain alat pancing, Anco (atau yang lebih dikenal dengan sebutan Branjang Anco) adalah sebuah alat menangkap ikan tradisional yang biasanya mereka pergunakan sebagai alternatif apabila muara sungai mulai mendekati surut.

Jika banjir tiba, ekosistemnya bisa sampai meledak, meluber ke halaman halaman tetangga yg ikut terendam banjir. Ditambah lagi pemancingan umum yang menjamur menjadi ajang rebutan apabila naasnya berton-ton ikan terpaksa hanyut terbawa air. Sunggguh kerugian bagi pemilik tambak, namun berkah bagi seluruh warga sidodadi yang dimanfaatkan oleh para pemuda pasukan pat-pat untuk menambah penghasilan

Abid pentol menggunakan alat peraga Branjang Anco

Di antara banyak pemuda baruh baya yang hadir disitu, “Irfan” Adalah yang sedikit nyentrik. Secara umum penampilannya teramat dekil, namun memiliki energi cerita yang hidup terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan air. Sikap santai yang tersalurkan dalam memancing seperti tidak menampakkan kesungguhannya bahwa ia terbilang sangat piawai sebagai Pemancing ulung.

Entah sudah terhitung berapa kali rekan-rekan yang lain bungkam, hanya demi melihat Irfan lebih sering "Strike". Menarik Jorannya-pun tanpa tergesa-gesa. 2- 3 kali kail berisi umpan tidak terbuang percuma disambar si Ikan mujair


Nol lebih baik daripada minus: ikan yang lumayan banyak  untuk nambah jajan anak

Hasil ikan liar yang tidak sengaja tertangkap sudah pasti menjadi benang merah yang pantas untuk mereka terima, sebagiannya ada yang dijual kepada tetangga, sebagiannya juga dijadikan hidangan untuk dikonsumsi.
Puji syukur, Tuhan selalu memberikan rizki terbaiknya kepada setiap orang. Di masa Banjir tahunan ini, setidaknya dalam waktu 2 Jam jika dilakukan acara memancing serentak, memperoleh 5 Kg yang setara ikan mujair 15 ekor sepertinya bukan sesuatu yang mustahil
***

Tak disangka,2 tahun ini Pasukan Pat-pat Telah banyak mengemban hobi yang bersifat pasif income. Apalagi, saat ini posko mereka yang diperkuat dengan hadirnya warung kopi wifi telah memberi keleluasan waktu untuk berkembang, anak-anak kecil justru tidak tertekan dan merasa nyaman. Semua tantangan yang muncul tidak pernah membuat Pasuka Pat-pat kehabisan energi atau kehilangan semangat untuk berbagi pengalaman.


Pasukan Pat-pat hanyalah kelompok pemuda yang lahir dari sebuah keterbatasan, namun besar dalam kemandirian. Agar ada kegiatan positif, akan lebih baik berinisiatif menikmati kedukaan ini yang bisa dibaca dan dipinjam dari alam secara gratis.
Semua tantangan yang muncul tidak pernah membuat Pasukan Pat-pat kehabisan energi atau kehilangan semangat untuk berbagi. Bahkan, dalam tiga tahun terakhir rutin dan kompak mengikuti Gerak jalan Mojokerto-Suroboyo secara beregu.

Ketika ditanya alasan melakukan semua itu: "Banyak orang yang menganggap remeh kami layaknya para pemuda pengangguran yang tidak produktif, Tapi kami optimis dan berusaha semampunya.. Boleh tetangga memandang kami sebelah mata, namun kami bisa lebih memberikan manfaat universal yang lebih besar bagi lingkungan, terutama untuk sebuah alasan yang masuk akal. Menghidupi kebutuhan kami sendiri."

Selama ini Pat-pat kerap menjadi trendsetter dari pengalaman komunitas lain yang memiliki kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat tanpa harus menggantungkan hidup dari belas kasihan Orang tua.

Jujur, saya sendiri pun sering berkumpul untuk menyadap ilmu dari mereka.Salam Rukun

Judul: Pasukan Pat-pat Dibalik Terpaan Banjir : Kutu Air, hingga Panen Raya Ikan Mujair; Reviewer By: Heru Prasetyo; Rating Blog: 5 dari 5
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 10/10/2016 07:25:00 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar