“Ayah, Aku Hebat kan ? ”

Tiada basa-basi panjang usai sepulang sekolah. Topi, buku, baju sekolah, di hempaskan berserakan begitu saja tanpa menyisakan perasaan bersalah.

Ketika seisi kamar sudah berhamburan dengan aneka mainan dan kertas gambar penuh coretan beraneka warna, senyum “Relawan” -pun ditebar sebagai upaya mencari iba darinya untuk sang-Ibu.
Berkelakar, agar kreatifitasnya, dari hal yang tak biasa  yang sering ia lakukan tersebut, di apresiasi sebagai pujian.

Ada tatap yang membuncah dalam bola matanya yang bulat penuh harap. Ada hasrat pujian dari sang Ibu, Agar sesuatu yang ia buat, bisa selangkah lebih berbakat ketimbang buatan Ayahnya.


Adakalanya ia terlihat kesal pula, karena kesepakatan dengan Ibunya berlangsung gagal, karena hasil-akhirnya kerap tak menunjukkan cara mewarnai yang baik, sebagaimana seorang pelukis terkenal.

Kurang terima, debat kusir antara ibu dan anak terjadi. Meski terdengar lirih dari serambi ruang tamu, Ibunya terkulai lemas. Tanpa sepatah kata, ia mengaku mengalah. Membiarkan sang anak menang telak, tanpa perlawanan.

Kendati demikian, Irma kecil tetap menggerutu. Bersikukuh gambarnya lebih bagus ketimbang gambar buatan Sang Ibu.

Beranjak dari posisinya duduk, itu merupakan sebuah awal sebuah kebangkitan. Sejurus kemudian, Irma kecil menghampiri ayahnya untuk menggalang pengakuan. Pembelaan diterima dengan baik oleh Sang Ayah demi melipur lara si-Anak.
Suksesnya Irma menggalang opini dengan memasang wajah murung, membuat sang-Ayah sempat bingung. Bingung karena tak sampai hati, dan bingung bagaimana menyudahi tangis, apabila nanti terpaksa dimarahi.

Ditangan ayahnya, Semua bagian gambarnya di koreksi tanpa tekecuali. Irma mendapatkan interupsi untuk mengambil secarik kertas kosong lagi. Tak lama berselang, Irma Mengikuti gerak tangan sang ayah sebagai alat peraga. Gerakan pensil warna-nya seolah berkata: “Buatlah gambar yang lebih bagus dari ini, Nak”

+++

Di bawah cahaya neon putih, banyak senyum yang menghias di bilik kamar ini. Irma kecil yang merayu, tengah asyik mengayunkan pensil warnanya demi men-sketsa sesuatu

“Ayah Aku hebat, kan ? ”. Seraya mengerlingkan matanya. Menyudahi sketsa sebuah Gunung yang telah ia selesaikan sebagiannya

Tinggalkan Balasan