Blogermie.com: Demi Kejantanan, Jangan Panggil Galih dengan Sebutan "Om"

19 Januari, 2018

Demi Kejantanan, Jangan Panggil Galih dengan Sebutan "Om"

Hai, Nama Saya Galih Samujud.
Sebagai seorang Public Speaking, sekaligus penikmat kopi, Saya agak risih jka teman-teman memanggil  "Om".
Di sertai suara yang agak-agak kenes, yang dimana efek "keterlaluan" ini cenderung di buat-buat.
Entah semata-mata murni karena pembawaan genetik, atau-pun penjiwaan karakter yang dibangun agar dipandang lebih kekinian, seseorang dengan mudah "memaksa diri" menggunakan gerak badan berupa goyangan dan lambaian tangan dirinya sendiri sebagai perwakilan dalam berkomunikasi. Lebai, dan saya kurang begitu suka

Paradoksalnya begini:

Jika datang seorang Banci menghampiri dengan kepentingan ngamen, kenalan atau sekedar bertujuan mencubit mesra, dan parahnya menyapa dengan sebutan: "Hai, Om ganteng", maka Saya lebih baik menggunakan jurus Puksung Amblang Burkin sebagai antisipasi.
Atau yang di persingkat "Habis Timpuk, langsung mengambil langkah kabur sejauh mungkin"


Mungkin karena saya orang udik, datang dari kampung, dan menetap di perkotaan demi sebuah tuntutan hidup.
Jadi di sini, hampir menjadi kebiasaan setiap hari harus rela di panggil "Om: Red "Om Galih"..., baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Sungguh Saya tidak mengerti. Apa ini sebuah Obsesi yang tak kesampaian, dari pemuda Abnormal yang sedari kecil merasakan begitu getirnya bercita-cita ingin menjadi tim Gegana Polda Metro Jaya.

Saya terlalu peka terhadap status sosial, Terutama untuk berita fiktif dan informasi penyalahgunaan wewenang Hak Asasi Manusia (HAM).
Seolah-olah ingin sekali saya hentikan hulu ledaknya, jangan sampai meletus menjadi sebuah berita hoax dan menelan korban jiwa.

Kepekaan itu seringkali muncul ketika membaca beberapa informasi yang mengungkap isi sebuah berita di Sosial media. Saya kritis menanggapi polemik kemanusiaan, terutama yang sedang viral seperti berita penistaan di Palestina yang hampir-hampir tidak satupun kunjung reda beritanya.
Agak memilukannya adalah, Ketika PBB sudah tidak dianggap mampu memberikan solusi di antara kedua bilah pihak guna mengakhiri konflik perang.

Sehingga siapa-siapa yang memberikan feedback positif dalam bentuk komentar ini, merasa sangat berhasil merebut nurani iba dengan menjalin ikatan batin. Alhasil pujian dan Aplouse sering saya terima dari teman-teman sesama kritikus dalam bentuk panggilan "Om"


Kembali ketopik utama. Mungkin lagi yang membuat saya agak-agak risih karena terdapat ketersinggungan tata bahasa yang kurang baik sesuai KBBI, yakni: kebanyakan faktanya dijaman serba Now seperti sekarang, kisah-kisah sukses yang bermula dengan sebutan "Om", selalui dinodai konotasi negatif di dalamnya. Misalnya:

  • Astaga, Inilah yang dilakukan kebanyakan "Om-Om" tajir dan sekertarisnya usai Gajian
  • Mengaku sebagai Pengusaha kaya, "Om" ini Berhasil memperdaya wanita lansia untuk beli produk Palsu
  • Histeris pengakuan Korban pemerkosaan, "Om" yang mengaku Pengusaha garmen itu ternyata Tukang Tambal Ban Tubles
  • dsb

Lagi-lagi di sebutkan sebagaimana judul-judul menghebohkan diatas, yang kebanyakan di pakai jagat maya sebagai istilah yang kerap memicu kekhawatiran. Sudah pasti ikhwalnya, kejantanan pria yang menyebut dirinya "Om", harus bersedia di kambing-hitamkan. Tak peduli "Om" baik, "Om" setengah baik-baik pun harus turut mengenyam status yang terlanjur berpredikat buruk di mata umum.


Sampai Alan Shakespeare, dalam catatan novel terlarisnya-nya "Romeo & Juliet" membuat sebuah statemen "Haram".

Bahwa Tidak satupun Nama khas yang paling mahsyur bagi Romeo ,selain "My-Darling" terhadap kekasih pujaan hatinya, Setelah kepergian mendiang, Juliet.
Cara bermesraannya-pun tidak pernah membawa keterlibatan frasa "Om" didalamnya kan...
Berpacaran dengan nama panggilan "Om" adalah tidak mencerminkan kecintaan yang mendalam..


"Om" telah mendikte beberapa pencitraan miring untuk ikut terjebak menjadi sasaran prostitusi.

Seringkali saya dipertemukan "Om" menjadi Headline surat kabar karena daya pikatnya dibilang tergolong tinggi demi mendongkrak dunia ke-artisan.
Walaupun bukan Artis ibukota, saya seringkali mengalami trauma pseukeptis bila ada teman atau kolega yang dengan senang hati memanfaatkan kata itu untuk hal jorok, walaupun sifatnya sebagai gurauan maupun hanya sekedar menjadikannya Argumen.

  • "Om galih, udah Makan belum"....(skala pengabdian dalam menunjukkan iktikad baik & saling empati)
  • "Om galih, Telolet dong"...(skala pertemanan, biasanya Gurauan Abg dan siswa kemarin sore)
  • "Om galih, Brondong euy"....(skala prostitusi tingkat serius dan Korbannya bisa meliputi tante maupun mucikari)
  • Dsb..


Kalau dipanggil Om sesuai dialeg diatas, entah kenapa derajat saya turun drastis dari yang awalnya mangkat menjadi penjinak Bom, malah terjun bebas menjadi Penjinak lubang Buaya. Dan tentunya analisa ini sesuai dengan ekspetasi saya selama 26 tahun hidup membujang. Tentunya makna persuasif yang saya alami ini, masih harus disaring lagi kaidahnya oleh Mas Heru selaku Penulis blog ini.

Jadi kalau dipanggil om, Saya agak berasa mirip manusia primitif gitu...



Parahnya lagi, Ketika orang lain berjabat tangan dengan saya, lantas mengucapkan "makasih ya om" dengan mengerlingkan sebelah mata, sambil menjulurkan lidahnya... Tiba-tiba perut ini mendadak mual dan mengalami berak berkepanjangan. :D

Tapi kalau terlanjur dipanggil BANG... Saya sedikit khawatir menyinggung ke-arifan lokal yang telah ada. Meskipun ini bukan acuan tak menentu, tapi masih bisa saya tolerir karena obrolan menggunakan kata "Bang", terdapat sisi humor yang menyisakan kesan lucu.

Anomalinya, Orang disini cenderung pemarah dengan sebutan "Bang" itu."Emangnya abang beca.... walah... Becak kan sudah hampir gak ada di Sidoarjo.....",

Hal demikian yang kerap saya takutkan


Ditulis dengan sepenuh hati. Disebuah batu, di tepian Kali
TTd, Galih Samujud
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 1/19/2018

2 komentar:

  1. Itu foto siapa, oom? eh, pakde... eh, mas ding... hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu masih serumpun dengan Kubu Abu Sarap, fi. Namanya Galih Tumakninah, teman eyke pas ngopi

      Hapus

Dekil, bukan berarti Anda bebas berkata Jorok. Karena fitur komentar jarang Admin moderasi. Segan & Hargai komentar anda pribadi sebagai cermin Hakikat Diri