Blogermie.com: "Suatu Saat", dari Tuah Kata Milik Eyang Semar Yang Hilang

25 Januari, 2018

"Suatu Saat", dari Tuah Kata Milik Eyang Semar Yang Hilang

"Lidah topi menunduk ke bawah sebagai pertanda pribadi yang tersembunyi. Caranya bersandar di lincak bambu dengan bertukar posisi agak miring, kerap kali berubah-ubah. Tidak lupa, ketika pantatnya sudah sangat lelah mencari tempat duduk yang landai, dia selalu mencari tempat sunyi untuk sekadar melatih kelincahan genetalianya dalam wujud buang air seni."


"Suatu Saat", dari Tuah Kata Milik Eyang Semar Yang Hilang


Membaca dari tiap gerak-geriknya yang santai seperti menangkap sinyal edge. Lemot, namun cenderung konyol. Mungkin Abid cukup mahir menjinakkan rasa kecewanya apabila terus-terusan dijadikan bahan gojekan seperti ini. Sedangkan di satu sisi yang berseberangan, terdapat iktikad baik Abid yang jarang orang ketahui, yang semata-mata dilakukan untuk menghibur para-sahabatnya dan tertawa lepas oleh lawakannya.


"Suatu...saat...mas ," ...

Suara lempeng dan datar. Begitulah cara abid menyikapi tiap topik "Guyonan" bernada cela yang berasal dari teman seumuran, yang malas ia jawab tentang bagaimana menyikapi wacana hidupnya ke depan.


Jawaban "Suatu Saat" itu, tentunya bukan asal nyeletuk tanpa pola pikir yang tidak sehat. Tiap kali terhimpit dengan obrolan yang memancing tawa, candaan teman-temannya juga terkadang seperti bumerang yang memicu kekesalan Abid secara berlebihan.
Respon menolak tubuh Abid bergerak secara spontan, meski ekspresi yang ia tunjukkan nampak datar-datar saja. Melewati batas ini, Abid lebih memilih diam tanpa kata, menghindari intrik batin antar sesama.

Namun, dibalik kalimat persuasif yang terkesan biasa saja itu, secara reflek menjadi mantra yang mematikan. Yang kini nyatanya berhasil banyak, membuat temannya terperangah. Agar mereka tahu kalau Abid tengah mensyiarkan sepenggal makna: *Meskipun hanya untuk kepentingan mengocok perut, Renungilah sejenak, agar orang lain selangkah lebih bijak dalam menggunakan nurani, ketimbang mengikuti naluri.

***

Bukan perkara mudah untuk terjun menjiwai karakter natural Seorang Abid. Tentunya saya selaku penulis dalam menangkap kata-demi kata tiap perilaku alam yang bertebaran. Memungutinya satu persatu, mengamati, dan mempelajarinya.

Dan Saya yakin betul, Abid hanya sedikit contoh kecil Adanya kekuasaan Tuhan dalam bentuk serangkaian peristiwa ganjil yang meliputi Literatur, Spiritual disertai Kaidah menuju proses yang mengarah ke tujuan hidup. Mencari korelasi yang ditimbulkan melalui perilaku Abid yang dianggap "tidak waras" tersebut secara umum, di tengah kondisi sosial seperti sekarang ini.

Hal demikian-lah yang justru menjadi sebuah teka-teki yang amat menarik untuk saya temukan jawabannya. Dengan mengurai sanepan Eyang Semar maksudkan melalui bisikan gaib: Balilu tau, menawa pinter durung nglakoni.


Dari Sanepan "41 butir" yang kami (Saya beserta 3 orang teman) peroleh dari Makam 7 Troloyo, ketika ziarah kubur ke petilasan Raden Anjasmoro dan Putri Kencono wungu di wilayah Mojokerto beberapa bulan ke belakang, Juru kuncinya menjelaskan "Balilu tau,menawa pinter durung nglakoni", dalam aksara Jawa Sansekerta.

Juru kunci itu menuturkan bahwa kata: “Balilu Tau” memiliki arti: Berulang kali tahu, secara syari bermaksud memiliki pengetahuan. Sementara “Pinter durung Nglakoni” bermakna Pintar, namun belum melakukan.
Frasa keduanya bergabung menjadi kalimat utuh tanpa penggalan “Balilu tau,menawa pinter durung nglakoni” yang menyiratkan wejangan makrifat yang berarti: "Bodohnya orang, jika masih memiliki pengalaman, itu lebih baik daripada: pintarnya orang, namun orang pintar itu tak memiliki pengalaman apapun".


Agak bingung memang, namun demi menjawab maksud kajian makna tersebut dengan tidak mengurangi nilai filsafat yang terkandung dari sanepan Eyang Semar yang berbunyi Balilu tau, menawa pinter durung nglakoni, sedikit saya alihkan perhatian pembaca ke anekdot dengan 2 tokoh sebagai analoginya.

Berikut:

Abid seorang lajang Jawa dari golongan berada. Yang hanya lulusan SD, Nelayan sukses. Memiliki pengalaman jauh-jauh hari sebagai pemuda kusut yang menekuni hobi menjala ikan disungai. Dan memiliki pengalaman jatuh bangun, kalap, depresi selama belasan tahun.

Jaelani, Seorang putra negeri antah berantah. Sarjana Perikanan. Lulus Fakultas luar negeri dengan menyandang status Cum laude. Keliling domestik dan luar negeri untuk mengisi seminar perikanan. Tapi belum pernah memiliki pengalaman menyulam jaring, mengaitkan kail pancing, dan belum pernah merasakan tercebur kali


Nah, kalau anda ditawari mendengarkan wedaran Abid dan Jaelani, kira kira hati anda akan lebih menyukai ke siapa?...


Kalau saya secara pribadi, Terlepas di luar konteks nantinya saya akan disuap atau tidak oleh Abid karena membuat tulisan tak berguna ini, saya lebih percaya diri memilih Abid ketimbang Jaelani

Bukan lantaran Abid memiliki latar belakang yang sulit, dan mengibakan dirinya karena status sosialnya rendah daripada Jaelani. Tentunya ada nilai lebih yang diperoleh melalui tuturan, dongengan, pencerahannya yang betul-betul hidup karena Abid mampu menyuguhkan cerita suka-duka sepanjang usianya mencari ikan.

Memang, tak banyak teori referensial yang di peroleh Abid karena tak memiliki latar belakang sebagai mahasiswa, namun teori orisinal yang dipelajari Abid adalah murni diperoleh dari intisari pengalamannya sehari-hari. Sehingga tidak menutup kemungkinan, yang dibagikan Abid kepada seluruh pendengarnya adalah fakta.

Dan lagi, siapa coba yang bakal berani menyanggah paparan teori orang yang sudah secara gamblang berhasil dengan upaya dan jerih keringatnya sendiri?

Maka dari itu, Jika pada suatu ketika, kita lebih memilih yakin dan percaya kepada nasihat, wejangan, petuah, anjuran, dari seorang yang punya pengalaman melalui proses didera permasalahan yang bertubi-tubi dan berhasil melaluinya, bukankah sama halnya dengan analogi Abid dan Jaelani tadi?.


Secara tidak langsung, Hukum "Suatu Saat" yang Abid katakan telah berlaku. Karena "Suatu saat" mengantarkan keadaan tak nampak dari yang tadinya memiliki reputasi 0, menjadi bernilai.

Dan lagi, "Suatu saat " telah menunjukkan daya magis-nya di luar kecerdasan logika, namun tidak bisa dianggap remeh.
Memang "Suatu saat" tidak menjelaskan rentan waktu sebagai acuan sebuah mimpi,imajinasi, khayalan menjadi sebuah kenyataan. Namun dalam dimensi yang relatif (tidak terbatas) itu, didalamanya tertanam khasiat sebuah harapan dan pencapaian. Tentunya, "Suatu saat" akan memiliki dampak bagi orang yang benar-benar tulus mengilhami dan meyakini dengan segenap nurani mereka.

Kembali ke alur cerita Abid yang bergelagat aneh di paragraf awal tulisan ini.
Kita yang katanya mengaku suka bercanda antar teman, nyatanya masih belum cukup usia untuk belajar peka. Belajar menjadi dewasa. Siapapun bisa bebas menjadi Pelawak jika kepentingan itu dipergunakan sebagai prospek cerah demi membuat orang lain tertawa. Tapi untuk menutupi susasana hati yang berterbangan, Mungkin kita perlu belajar, menahan sedikit tentang pentingnya etika kesadaran.

Orang lain yang tidak tahu-menahu, bisa saja bohong mengatakan Abid sedang dalam keadaan sumringah saat itu, namun ia tengah berpura-pura tertawa demi menutupi kegalauan dirinya.

Foto Abid, hanya sebagai pemanis
Apakah psikis sahabat kita itu sedang tidak dalam kondisi terluka ?, Apakah tidak keterlaluan apabila membuat obrolan konyol meskipun tak sengaja, sementara yang diakibatkan bisa membuat hati orang lain cidera?

Peka..Itulah kata kuncinya.


Tidak ada yang lebih mulia di dalam kebersamaan selain kesanggupan untuk merenung sesaat, menahan diri untuk tidak mengumpat seperti yang Abid lakukan ketika dirinya sudah sangat terpojok ketika dicela teman.

Dan Problematika kehidupan ini, saya yakin-seyakinnya, Keinginan yang terencana tidak selalu mulus seiring kompleksnya perjalanan hidup seseorang.
Ada kalanya diemplementasikan seperti halnya Abid. Dilakukan secara alami, tanpa dibuat-buat, sebagai wadah menghibur diri. Sangat perlu dihadapi dengan menampilkan perilaku yang dibilang agak gila, dekil dan, "Nyeleneh".

Sebagai renungan yang cukup sekadar dijadikan wacana saja, Tuhan telah berkenan mendampingi mereka-mereka yang sangat menyadari kekurangan diri yang disandang. Juga menyadari kekhilafan yang pernah dilakukan. Adapun diam-nya Abid dengan kalimat "Suatu saat"-nya telah dukacita berbagi pesan, tidak ada maksud lain kecuali untuk bersama para sahabat meraih selamat dalam hidup bermasyarakat. Upaya-upaya yang dinilai "aneh" dari tingkah laku orang semacam Abid ini adalah ketenangan untuk menghibur orang lain, dengan mengesampingkan beban batin yang sejatinya mereka tahan sendiri.


Di sini Tuah Kata Milik Eyang Semar Yang Hilang meneguhkan diri. Hakikat diri. Dan mengajak Anda semua untuk menjadi sahabat. Karena pernah mengalami sendiri peristiwa merugi oleh sebab mencela sahabat.


Oleh karenanya, jika kita merasa Indonesia ini dalam keadaan sakit, menjadikan "Suatu saat" layaknya sahabat seperti sosok Eyang Semar adalah pilihan yang tepat.
Sahabat yang setia mengingatkan dalam diam. Tapi bukan karena kekayaan kosakatanya yang mengundang gelak tawa. Sudah banyak cerita yang mengungkap peristiwa Sahabat yang setia, mengingatkan karena ia pernah merasakan sendiri pedihnya terjerumus. Seperti Abid, yang pernah merasakan pahitnya kuyub di empang sewaktu memancing Ikan

==================================================================

Orang yang begitu Jenius seperti Abid dengan IQ di atas rata-rata orang umum, tidak akan bisa dikatakan bodoh jika masih memiliki selera humor yg tinggi. Masih kurang percaya?..

Coba saja lempari Abid dengan granat nanas seberat 5 ton. Saya yakin dia tidak akan membalas. Namun jangan salahkan saya jika Abid tiba-tiba mengambil posisi hening sejenak sambil bersila. Itu merupakan kesempatan terakhir anda untuk lari tunggang langgang mencari selamat.

Karena Jika "suatu saat" sudah keluar dari mulut orang yang teraniaya, Anda harus siap menjalani peliknya hidup menjadi seorang badut. Seperti naasnya orang ini di cerita: http://www.blogermie.com/2013/02/malin-sujud-penurut-yang-dikutuk-menjadi-badut.html


Selamat mas Abid, Sharingan Mangekyo mata kirimu berfungsi penuh.
Semoga Tuhan YMK senantiasa memberi kemudahan jalan buatmu. Amiin
Heru Prasetyo Blogermie.com Updated at: 1/25/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dekil, bukan berarti Anda bebas berkata Jorok. Karena fitur komentar jarang Admin moderasi. Segan & Hargai komentar anda pribadi sebagai cermin Hakikat Diri