Kentut: Petaka dari Hembusannya #Paradoks

Kentut: Petaka dari Hembusannya #Paradoks | Di media cetak dan media online, seringkali berita Artis menjadi headline bagi para haters dalam memberikan komentar atau sekadar apresiasi yang cenderung menyudutkan artis yang tengah digunjing tersebut. Tanggapan yang diberikan di kolom komentar-pun bermacam-macam.

Ada yang fasih dan mengerti maksud “urusan pribadi”, sehingga memilih diam, ada pula yang berpura-pura paham, ada lagi yang memilih “idem” dengan tidak mengintimidasi siapapun yang bersangkutan sambil ngomong” : “ah, itu urusan mereka, kenapa mesti di ributin, toh mereka cuma korban. Apa kalian yakin tidak lebih baik dari mereka”?

Menyaksikan testimonial diatas, saya jadi kembali teringat peristiwa sensitif yang disebut kentut.

Ya, Kentut. Kita semua mengetahui bukan, kentut adalah hal yang normal, namun tetap wajib diantisipasi agar tidak berujung kepada rasa malu. Perspektif “Ngentut” juga dapat ditelaah maknanya dari cara seseorang itu menyampaikan pendapatnya. Cara manusia bersosial dan berinteraksi dengan sesama mencerminkan majas paradoks itu sendiri. Secara psikologi, dengan kita menghembuskan kentut, sudah mewakili kepribadian dirinya sendiri

Dikutip dari buku Mantra, Karangan Deddy Corbuzier, terdapat sebuah statement unik yang berisi:

Hakikat diri kehidupan manusia dalam bersosial adalah “Komunikasi” .

Berkomunikasi tak hanya mengenal ideologi berpendapat, berbicara, dan saling berkomentar, namun yang menentukan adalah gaya ber-komunikasi itu sendiri.

Bagaimana membuat sebuah informasi yang kita sampaikan, dapat dipahami oleh lawan bicara.
Buku Mantra- Deddy Corbuzier
Tweet
Baca Juga : #MANTRA, Buku Psikologi Cerdas Yang Masih Tersibak Sekilas

Kentut itu Berbunyi…

Dilihat dari intonasi nada, sudah tentu kentut itu berbunyi. Bagi banyak orang (kemungkinan masih sebagian besar) kentut juga urusan pribadi. itu yang menyebabkan kenapa ada yang keluar dengan gaya malu-malu, ada yang lebih terbuka. Ada yang harum, ada juga yang lebih tidak harum. Ada yang bersuara lantang, ada yang berbisik-bisik.

Coba jika kentut dilakukan seorang sendiri di sebuah tempat yang tertutup, dengan ventilasi yang tertutup rapat, sudah tentu iramanya didengar sendiri. Syah juga menjadi sebuah urusan pribadi.

Tetapi andaikata ventilasinya bocor, jangan heran aromanya berhembus dan terdengar oleh orang lain, tentu hal itu sudah bukan urusan pribadi lagi. Apalagi kalau bersifat menyinggung orang lain, tentu sudah berubah menjadi urusan orang lain atau bahkan orang banyak.

Kentut itu Bau…

Terdengarlah suara-suara parau.“Siapa sih yang ngentut?” “Ih, gak sopan banget sih.” “Aduh, bau banget sih.” Biasanya yang berbicara seperti itu bermuka muram dan kesal sambil menutup hidung.

Kalau kentut sudah menyangkut etika pergaulan, siapa yang mesti mencari pembenaran? Apa salah si empu yang menyebarkan aib. Lalu bagaimana cara menyelesaikan masalah si kentut ini?

Cara mengatasi

Mudah saja kok. Si pemilik pantat harus sportif dengan mengakui kesalahan agar tidak menjadi buah bibir yang merugikan orang banyak dan meminta maaf pada orang yang terkena kentutnya.
Konsekuensinya jelas, yakni Secara tidak langsung dia dikucilkan bahkan hujatan-lah sangsinya. Bagi orang yang terkena imbas, tinggal tutup hidung saja sampai aromanya berlalu.

Anehnya beberapa fenomena yang nyleneh, terjadi pada sekumpulan orang yang ngentut dan orang-orang yang terkena. Orang yang terlanjur buang hajat-pun, sudah tidak malu-malu lagi untuk melemparkannya di muka orang. Dan orang-orang yang terkena kentut tidak lagi merasa terganggu dengan si tersangka. “Ah itu kan urusan pribadi dia, Biarin aja dia kentut.”

Saya cukup senang dengan orang yang menghargai urusan pribadi orang yang bersangkutan, bahkan ada yang ikut-ikutan ngentut secara berjamaah, ada juga yang melindungi privacy yang kentut tersebut.

Ngentut memang nikmat dan bermanfaat, bagi si pemilik. Tetapi alangkah bijaknya tidak mengurusi urusan orang lain, karena setahu saya orang yang suka mengurusi permasalahan orang lain itu juga belum tentu piawai merawat kentutnya sendiri. Hari gini, tidak ada orang waras yang mau mencium kentut orang lain.

︾ BAGIKAN JIKA INI BERMANFAAT ︾

ARTIKEL YANG SERUPA :

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!